Kuasa Hukum Ira Puspa Dewi Pertanyakan Kompetensi Saksi Ahli KPK di Sidang Tipikor ASDP

- Jurnalis

Kamis, 2 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) yang melibatkan tiga terdakwa PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (2/9/2025). (Dok/Fhm)

Foto: Sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) yang melibatkan tiga terdakwa PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (2/9/2025). (Dok/Fhm)

JAKARTA – Sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) yang melibatkan tiga terdakwa PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (2/10/2025).

Dalam agenda persidangan kali ini, tim kuasa hukum dari terdakwa Ira Puspa Dewi mengkritisi keterangan saksi ahli yang dihadirkan oleh pihak penuntut, khususnya terkait metode penghitungan kerugian negara.

Kuasa hukum Ira Puspa Dewi, Dr. Soesilo Aribowo, SH, MH, menilai kesaksian ahli dari internal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak memenuhi standar hukum yang berlaku. Menurutnya, saksi ahli tersebut tidak memiliki kompetensi serta tidak independen dalam memberikan keterangan.

“Kalau kita bicara hukum, keahlian itu harus diakui secara sah. Ibarat orang yang mengemudikan mobil tanpa SIM, meskipun sering ikut balapan, tetap saja secara hukum dianggap tidak memiliki kewenangan untuk menyetir. Begitu pula dengan saksi ahli ini, dia tidak punya legitimasi untuk menghitung kerugian negara,” ujar Soesilo kepada awak media usai sidang.

Lebih lanjut, Soesilo menjelaskan bahwa penghitungan kerugian negara, sebagaimana diatur dalam ketentuan hukum, harus dilakukan oleh pihak yang independen dan memiliki sertifikasi resmi. Sertifikasi tersebut, kata dia, biasanya dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau organisasi profesi yang berwenang.

“Ahli yang dihadirkan ini berasal dari internal KPK. Secara logika hukum, jelas keberpihakannya bisa dipertanyakan. Selain itu, dia juga tidak punya sertifikasi resmi untuk menghitung kerugian negara. Jadi keterangan yang diberikan tidak punya kekuatan mengikat dan tidak dapat diyakini kebenarannya,” tambahnya.

Dalam persidangan, tim kuasa hukum terdakwa juga melayangkan sejumlah pertanyaan untuk menguji konsistensi keterangan ahli. Menurut Soesilo, dinamika perdebatan di ruang sidang menunjukkan bahwa keterangan tersebut masih menyisakan banyak keraguan.

“Kami sudah sampaikan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya meng-counter. Substansi juga kami singgung. Jadi jelas bahwa keterangan itu masih perlu diuji lebih lanjut,” tegasnya.

Soesilo menyebut pihaknya berencana menghadirkan saksi ahli lain dalam persidangan berikutnya. Ahli tersebut diharapkan bisa memberikan pandangan independen sekaligus menjelaskan bahwa keterangan ahli dari KPK tidak memiliki kekuatan pembuktian secara hukum.

“Sidang berikutnya kami akan datangkan ahli yang benar-benar kompeten, independen, dan memiliki sertifikasi. Supaya jelas bahwa keterangan sebelumnya tidak bisa dijadikan alat bukti yang sah,” ucapnya.

Kasus dugaan tipikor di PT ASDP ini sendiri menyeret tiga terdakwa, termasuk Ira Puspa Dewi. Jaksa mendakwa adanya indikasi penyalahgunaan wewenang dan kerugian negara dalam proses pengelolaan sejumlah proyek di perusahaan pelat merah tersebut.

Persidangan akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda mendengar keterangan ahli dari pihak terdakwa. Hingga kini, majelis hakim belum memberikan penilaian terhadap sah atau tidaknya keterangan saksi ahli dari KPK, dan proses pembuktian masih terus berlangsung.

Penulis: Fahmy Nurdin 

Editor: Fahmy Nurdin 

Berita Terkait

Imigrasi Perkuat Pengawasan WNA dan Pengungsi Lewat Teknologi Digital
Imigrasi Raup PNBP Rp8,68 Triliun, ImigrasiLampaui Target 2026 pada Pertengahan Oktober
Eksklusivitas Napi “Papan Atas” Diungkap di EdShareOn, Mantan Kalapas: Itu Jelas Diskriminasi Hukum!
Bea Cukai Merak Amankan 29 Botol Miras Tanpa Tanda Terima, Prosedur Penindakan Dipertanyakan
Pengelola Sulit Dihubungi, Sejumlah Pengusaha Ayam di Bekasi Khawatir Modal Tak Kembali
Urugan Liar Tutup Resapan Air, Warga Perbatasan Jakarta–Banten Terancam Banjir
Imigrasi Serahkan WN China Terduga Pemburu Penyu Ilegal ke Polda Papua Barat Daya
Bongkar Aktor di Balik PETI Hulu Bintauna, Raldy Doy Minta Instruksi Kapolda Dikawal
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:54 WIB

Imigrasi Perkuat Pengawasan WNA dan Pengungsi Lewat Teknologi Digital

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:46 WIB

Imigrasi Raup PNBP Rp8,68 Triliun, ImigrasiLampaui Target 2026 pada Pertengahan Oktober

Rabu, 14 Oktober 2026 - 23:46 WIB

Eksklusivitas Napi “Papan Atas” Diungkap di EdShareOn, Mantan Kalapas: Itu Jelas Diskriminasi Hukum!

Rabu, 14 Oktober 2026 - 23:19 WIB

Bea Cukai Merak Amankan 29 Botol Miras Tanpa Tanda Terima, Prosedur Penindakan Dipertanyakan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:40 WIB

Pengelola Sulit Dihubungi, Sejumlah Pengusaha Ayam di Bekasi Khawatir Modal Tak Kembali

Berita Terbaru

Oplus_16908288

Peristiwa

216 Pedagang Setu Babakan Direlokasi Pemkot Jaksel

Kamis, 15 Okt 2026 - 22:43 WIB

Foto: Menko PMK Sugiono menyampaikan keterangan saat meninjau pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah di SMP Negeri 202, Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (15/10/2026).

Wali Kota Jakarta Pusat

Menko PMK Tinjau CKG di SMPN 202 Jakarta Timur, 787 Siswa Jalani Pemeriksaan

Kamis, 15 Okt 2026 - 20:29 WIB