JAKARTA – Direktur Utama sekaligus Chief Executive Officer (CEO) PT Brawijaya Mataram Nusantara (BMN), Rd Sandy M.I. Tumiwa, S.H., mengangkat filosofi Cah Angon sebagai landasan nilai dalam membangun kepemimpinan perusahaan yang berintegritas, profesional, dan berorientasi pada keberlanjutan usaha.
Filosofi yang berakar pada kearifan budaya Nusantara tersebut menempatkan kepemimpinan bukan semata-mata sebagai kewenangan untuk mengambil keputusan, melainkan juga sebagai tanggung jawab dalam memberikan arah, menjaga kepercayaan, serta mengembangkan potensi sumber daya manusia untuk mencapai tujuan bersama.
Melalui pendekatan tersebut, BMN mengusung pandangan bahwa keberhasilan perusahaan tidak cukup diukur dari pertumbuhan bisnis dan keuntungan finansial. Kualitas tata kelola, kekuatan sumber daya manusia, hubungan kemitraan, serta kontribusi terhadap masyarakat juga menjadi aspek penting dalam membangun perusahaan yang memiliki daya saing jangka panjang.
Dalam perspektif kepemimpinan, Cah Angon menggambarkan sosok penggembala yang bertugas menuntun, menjaga, dan memastikan arah perjalanan tetap sesuai tujuan. Nilai ini menjadi inspirasi bagi pendekatan manajemen yang mengedepankan keteladanan, kepedulian, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
Bagi dunia usaha modern, filosofi tersebut dapat diterjemahkan menjadi budaya organisasi yang mengutamakan kerja sama, keterbukaan, profesionalisme, serta pengambilan keputusan yang mempertimbangkan kepentingan perusahaan dan para pemangku kepentingan.
PT Brawijaya Mataram Nusantara menempatkan kearifan lokal sebagai salah satu sumber nilai dalam membangun identitas dan karakter perusahaan. Pendekatan ini mencerminkan pandangan bahwa modernisasi dunia usaha tidak harus mengesampingkan akar budaya yang menjadi bagian dari jati diri bangsa.
Nilai-nilai Nusantara justru dapat menjadi landasan moral dalam menjalankan kegiatan usaha, sepanjang diterapkan secara konsisten melalui sistem manajemen yang profesional dan terukur.
Dalam praktiknya, penerapan filosofi Cah Angon perlu berjalan seiring dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik, termasuk transparansi, akuntabilitas, kepatuhan terhadap peraturan, pengelolaan risiko, serta tanggung jawab dalam setiap pengambilan keputusan bisnis.
Dengan demikian, filosofi tersebut tidak berhenti sebagai identitas atau slogan perusahaan, tetapi diharapkan dapat tercermin dalam perilaku kepemimpinan, mekanisme kerja, pengelolaan sumber daya, dan hubungan dengan mitra usaha.
Dalam membangun perusahaan yang profesional dan berkelanjutan, terdapat sejumlah prioritas strategis yang dapat menjadi arah pengembangan BMN.
Pertama, memperkuat tata kelola perusahaan dengan menjadikan integritas, transparansi, akuntabilitas, dan kepatuhan hukum sebagai prinsip dasar dalam menjalankan kegiatan usaha.
Kedua, meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan kompetensi, pembentukan karakter kepemimpinan, serta penciptaan lingkungan kerja yang mendorong kolaborasi dan tanggung jawab.
Ketiga, memperluas kemitraan strategis dengan membangun hubungan profesional yang dilandasi kepercayaan, kejelasan peran, kesepakatan yang transparan, serta kepentingan bersama.
Keempat, mendorong inovasi dan keberlanjutan usaha dengan mengembangkan peluang bisnis secara terukur, memperhatikan risiko, dan mempertimbangkan dampak keputusan terhadap keberlangsungan perusahaan dalam jangka panjang.
Kelima, memperkuat manfaat ekonomi dan sosial melalui kegiatan usaha yang bertanggung jawab serta memperhatikan kebutuhan masyarakat dan lingkungan di sekitar aktivitas perusahaan.
Kelima prioritas tersebut memerlukan perencanaan yang jelas, indikator kinerja yang terukur, serta evaluasi berkala agar nilai-nilai yang diusung dapat diterjemahkan menjadi pencapaian nyata.
Dalam lingkungan bisnis yang terus berubah, kemampuan membangun kolaborasi menjadi salah satu faktor penting untuk memperkuat daya saing perusahaan. Persaingan, perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan pasar, dan dinamika ekonomi menuntut perusahaan memiliki kepemimpinan yang adaptif sekaligus konsisten menjaga prinsip integritas.
Filosofi Cah Angon menawarkan perspektif bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memberikan instruksi. Pemimpin juga perlu membangun kepercayaan, memahami kemampuan tim, mengarahkan potensi, dan memastikan setiap bagian organisasi bekerja menuju sasaran yang telah ditetapkan.
Pendekatan ini menuntut keseimbangan antara ketegasan dalam mengambil keputusan dan kemampuan mendengarkan. Kepemimpinan yang efektif harus mampu menjaga disiplin organisasi tanpa mengabaikan pengembangan manusia sebagai salah satu unsur penting dalam pertumbuhan perusahaan.
Dalam hubungan dengan mitra bisnis maupun pemangku kepentingan lainnya, prinsip yang sama dapat diwujudkan melalui komunikasi yang terbuka, komitmen yang jelas, serta kerja sama yang dibangun berdasarkan profesionalisme dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
Pertumbuhan perusahaan yang berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar peluang pasar dan strategi ekspansi. Kepercayaan merupakan modal penting yang harus dibangun melalui konsistensi antara nilai yang disampaikan dan tindakan yang dilakukan.
Karena itu, integritas perlu menjadi bagian dari proses bisnis, mulai dari perencanaan, pengambilan keputusan, pelaksanaan kerja sama, hingga pertanggungjawaban atas hasil yang dicapai.
Prinsip tersebut juga penting untuk memastikan bahwa pengembangan usaha dilakukan dengan mempertimbangkan risiko dan kemampuan perusahaan, bukan hanya mengejar pertumbuhan dalam jangka pendek.
Bagi BMN, tantangan utamanya adalah menerjemahkan nilai-nilai Cah Angon ke dalam kebijakan internal, sistem pengawasan, budaya kerja, strategi pengembangan usaha, serta kemitraan yang memberikan manfaat bagi seluruh pihak terkait.
Keberhasilan penerapan filosofi tersebut pada akhirnya perlu dinilai melalui pelaksanaan program yang nyata, kualitas tata kelola, pencapaian target usaha, dan dampak yang dapat dipertanggungjawabkan.
Filosofi Cah Angon menegaskan bahwa kemajuan bisnis dan pelestarian nilai budaya dapat berjalan beriringan. Identitas Nusantara dapat menjadi sumber karakter dan orientasi moral bagi perusahaan dalam menghadapi persaingan yang semakin terbuka.
Di bawah kepemimpinan Rd Sandy M.I. Tumiwa, S.H., filosofi tersebut menjadi kerangka nilai yang diusung BMN untuk membangun perusahaan dengan menempatkan integritas, profesionalisme, kolaborasi, dan keberlanjutan sebagai prinsip penting.
Meski demikian, penerapan nilai tersebut memerlukan konsistensi dan pembuktian melalui praktik manajemen sehari-hari. Komitmen terhadap tata kelola yang baik, pengembangan sumber daya manusia, serta kemitraan yang sehat menjadi unsur penting agar filosofi perusahaan memiliki arti nyata.
Pada akhirnya, Cah Angon bukan sekadar gambaran tentang seorang pemimpin yang menuntun. Filosofi ini juga mengandung pesan mengenai tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan, mengembangkan potensi, mengambil keputusan secara bijaksana, dan memastikan pertumbuhan perusahaan memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Dengan menjadikan nilai budaya sebagai landasan dan profesionalisme sebagai standar kerja, PT Brawijaya Mataram Nusantara diharapkan mampu membangun fondasi usaha yang kokoh, adaptif, dan berdaya saing dalam menghadapi tantangan masa depan.
Editor: Fahmy Nurdin




































