JAKARTA – PT PLN (Persero) memperkuat infrastruktur ketenagalistrikan untuk menopang pertumbuhan industri pusat data (data center) di Indonesia yang terus meningkat seiring perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan transformasi digital.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan pertumbuhan data center membutuhkan dukungan listrik dengan karakteristik khusus, mulai dari kapasitas, keandalan, kualitas daya hingga pemanfaatan energi bersih.
Menurutnya, kebutuhan tersebut mendorong PLN menyiapkan infrastruktur dan layanan kelistrikan yang selaras dengan kebutuhan serta rencana pengembangan pelanggan.
“Meningkatnya kebutuhan listrik dalam ekosistem data center menunjukkan semakin pentingnya infrastruktur energi bagi pertumbuhan ekonomi digital. PLN ingin pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan dapat berjalan seiring dengan perkembangan sektor digital, dengan perencanaan yang dilakukan lebih awal agar kebutuhan energi dapat diantisipasi dan investasi dapat berkembang secara berkelanjutan,” ujar Darmawan.
Hal tersebut disampaikan dalam sesi diskusi pada gelaran Electricity Connect 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Kamis (10/10).
Executive Vice President Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise PLN Dini Sulistyawati mengatakan PLN saat ini melayani 159 pelanggan data center dengan total kapasitas tersambung mencapai 2.038 megavolt ampere (MVA).
Sekitar 99 persen kapasitas tersebut masih terkonsentrasi pada sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali), dengan Jawa Barat menjadi salah satu klaster data center terbesar.
Namun, pengembangan pusat data kini mulai meluas ke sejumlah wilayah di luar Jawa, termasuk Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Perluasan tersebut diperkirakan akan mendorong peningkatan kebutuhan listrik dari sektor teknologi. Karena itu, PLN menilai perencanaan infrastruktur ketenagalistrikan perlu disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan di setiap wilayah.
Dini menyebut pelanggan data center yang saat ini dilayani PLN mencatat konsumsi energi sebesar 2.378 gigawatt hour (GWh).
“Kami percaya ini baru permulaan.
Kecerdasan artifisial, cloud computing, layanan digital, serta pertumbuhan ekonomi digital Indonesia akan terus menciptakan kebutuhan listrik baru dalam skala yang sangat signifikan,” kata Dini.
Ia mengatakan tantangan PLN ke depan bukan hanya meningkatkan kapasitas pasokan, tetapi juga menjaga keandalan, keterjangkauan harga, serta stabilitas sistem kelistrikan dalam jangka panjang.
Pengembangan pembangkit dan jaringan, lanjutnya, perlu dilakukan secara terintegrasi sejak tahap awal agar pertumbuhan kebutuhan listrik data center dapat diantisipasi.
Untuk itu, PLN mendorong pendekatan early alignment atau koordinasi sejak awal antara PLN, pengembang data center, dan pemerintah.
“Komitmen lebih awal dan koordinasi lebih erat dari kedua belah pihak, didukung oleh proyeksi permintaan yang lebih jelas, jadwal energisasi yang realistis, kecepatan pengembangan kapasitas yang tepat, serta kerja sama yang lebih kuat antara PLN, pelanggan, dan pemerintah. Oleh karena itu, pengelolaan komitmen pusat data harus menjadi proses perencanaan bersama,” ujar Dini.
PLN menilai penguatan infrastruktur kelistrikan menjadi bagian penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi digital. Selain memastikan kecukupan pasokan, PLN juga terus mendorong pemanfaatan energi bersih untuk mendukung kebutuhan industri pusat data yang berkembang di Indonesia.
Dalam gelaran Electricity Connect 2026, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo bersama Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie juga mengunjungi booth PLN Icon Plus.
Dalam kesempatan tersebut, Darmawan menjelaskan pemanfaatan teknologi robotik sebagai bagian dari inovasi digital yang dikembangkan untuk mendukung transformasi di sektor energi.




































