DEPOK — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) kembali menjadi sorotan. Kali ini, sebuah video yang viral di media sosial sejak Sabtu (3/10/2026) diduga memperlihatkan aktivitas mencurigakan di salah satu ruangan yang disebut-sebut berada di lingkungan Rutan Kelas I Depok.
Dalam rekaman tersebut terlihat sebuah ruangan dalam kondisi gelap dengan lampu kerlap-kerlip. Musik terdengar cukup keras, sementara sejumlah orang tampak berjoget. Yang membuat video itu menjadi perhatian serius adalah adanya sosok yang diduga memegang alat isap narkotika jenis sabu atau bong.
Video tersebut kemudian beredar luas di media sosial dan memunculkan pertanyaan publik mengenai sistem pengawasan serta pengamanan di dalam Rutan Kelas I Depok.
Meski demikian, hingga kini belum ada kepastian bahwa benda yang terlihat dalam video tersebut merupakan bong atau bahwa aktivitas yang terekam benar-benar merupakan pesta narkoba. Pihak Rutan Depok menyatakan tengah melakukan penelusuran internal untuk memastikan fakta sebenarnya.
Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan (KPR) Kelas I Depok, Bogi Nurseto, menyatakan pihaknya tidak mengabaikan informasi yang beredar. Pengecekan dan investigasi internal dilakukan untuk mengungkap konteks, lokasi, waktu, serta pihak-pihak yang diduga terkait dalam rekaman tersebut.
Langkah tersebut penting, mengingat isu yang muncul bukan sekadar persoalan video viral. Jika nantinya terbukti terdapat pelanggaran keamanan, penggunaan narkotika, kepemilikan telepon seluler, ataupun aktivitas lain yang dilarang di dalam Rutan, persoalannya dapat berkembang menjadi pertanyaan serius mengenai efektivitas pengawasan internal.
Zero Halinar Jangan Berhenti sebagai Slogan
Selama ini jajaran pemasyarakatan menggaungkan komitmen Zero Halinar, yakni bebas dari handphone, pungutan liar, dan narkoba.
Karena itu, munculnya video yang diduga memperlihatkan aktivitas terlarang di lingkungan rutan patut menjadi alarm bagi jajaran pemasyarakatan.
Publik tentu berhak mendapatkan penjelasan secara transparan: bagaimana sebuah aktivitas dengan musik keras dan suasana seperti yang terlihat dalam video dapat berlangsung jika benar terjadi di dalam lingkungan rutan?
Pertanyaan berikutnya juga tidak kalah penting: dari mana perangkat perekam video tersebut berasal, siapa yang merekam, kapan rekaman dibuat, serta bagaimana rekaman tersebut bisa beredar ke media sosial?
Semua pertanyaan itu harus dijawab berdasarkan hasil investigasi, bukan sekadar bantahan.
Kanwil dan Direktorat Diminta Turun Tangan
Viralnya video tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemeriksaan internal Rutan Kelas I Depok. Kantor Wilayah Pemasyarakatan Jawa Barat dan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dinilai perlu memberikan perhatian serius untuk memastikan persoalan tersebut ditangani secara objektif dan transparan.
Jika diperlukan, pemeriksaan dapat dilakukan secara menyeluruh, termasuk mengecek sistem pengamanan, kamera pengawas, akses keluar-masuk barang dan orang, pemeriksaan blok hunian, hingga dugaan keberadaan barang-barang terlarang.
Sorotan juga diarahkan kepada Komisi XIII DPR RI yang memiliki fungsi pengawasan terhadap bidang pemasyarakatan. Turunnya lembaga pengawas dinilai penting apabila hasil investigasi internal nantinya menemukan indikasi pelanggaran serius.
Instagram Bogi KPR Depok Disebut Ikut Terdampak
Di tengah viralnya kasus tersebut, akun Instagram yang dikaitkan dengan Bogi KPR Depok disebut ikut menjadi perhatian publik hingga akhirnya tidak lagi dapat diakses.
Namun, apakah penutupan atau tidak aktifnya akun tersebut berkaitan langsung dengan viralnya video tersebut masih memerlukan konfirmasi resmi. Jangan sampai asumsi di media sosial berkembang menjadi kesimpulan tanpa bukti.
Satu hal yang jelas, kasus ini kembali menunjukkan bahwa pengawasan di balik tembok rutan tidak boleh hanya mengandalkan slogan.
Jika benar terdapat pelanggaran, harus ada tindakan tegas. Sebaliknya, apabila video tersebut ternyata tidak seperti narasi yang beredar, publik juga berhak memperoleh penjelasan yang terang agar tidak terjadi pembentukan opini berdasarkan informasi yang keliru.
Kini, bola berada di tangan jajaran pemasyarakatan.
Investigasi harus menjawab satu pertanyaan utama: apa sebenarnya yang terjadi di balik ruangan gelap dalam video viral tersebut?
Jawaban yang transparan menjadi penting bukan hanya untuk membantah atau membenarkan video, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan publik terhadap sistem pengamanan dan integritas pemasyarakatan.




































