Jakarta — Pemerintah Indonesia dan Jepang mempercepat realisasi berbagai proyek hijau melalui pertemuan Asia Zero Emission Community–Expert Group Meeting (AZEC-EGM) ke-9 yang digelar pada Rabu (5/2).
Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya kedua negara mengurai berbagai hambatan teknis dan bisnis (debottlenecking) dalam proyek-proyek dekarbonisasi di kawasan Asia, sejalan dengan target emisi nol bersih.
AZEC sendiri merupakan wadah kerja sama dekarbonisasi negara-negara Asia yang diluncurkan di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Presidensi Indonesia pada 2022.
Pembahasan AZEC-EGM ke-9 dibagi ke dalam dua sesi utama. Pada sesi pertama, kedua negara menyoroti sektor ketenagalistrikan, termasuk rencana ekspansi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla dan PLTP Hululais, proyek transmisi listrik Jawa–Sumatera, serta Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka.
Sejumlah proyek tersebut disebut telah menunjukkan kemajuan signifikan. Salah satunya PLTSa Legok Nangka dengan nilai investasi sekitar US$400 juta yang diproyeksikan mencapai kesepakatan pendanaan (financial close) pada akhir 2026.
Sementara itu, proyek PLTP Hululais juga mencatat perkembangan setelah tercapainya titik temu dalam perjanjian pinjaman dengan Japan International Cooperation Agency (JICA), sehingga proses pengadaan diharapkan dapat segera dimulai.
Proyek transmisi listrik Jawa–Sumatera turut menjadi perhatian utama. Pemerintah Indonesia dan Jepang berkomitmen mempercepat penyelesaian berbagai survei teknis dan kajian bisnis.
Proyek ini dinilai strategis bagi ketahanan energi nasional karena menghubungkan Pulau Sumatera yang kaya sumber energi terbarukan dengan Pulau Jawa yang memiliki kebutuhan energi tinggi, terutama dari sektor industri dan perumahan.
Pada sesi kedua, pertemuan membahas sektor bahan bakar berkelanjutan, termasuk perkembangan Green Ammonia Initiative di Aceh. Inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat rantai pasok amonia nasional sekaligus mendukung agenda dekarbonisasi global.
Selain itu, Indonesia mengusulkan riset bersama untuk pengembangan template perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) panas bumi. Usulan tersebut disambut positif oleh kedua negara.
Pengembangan template PPA geothermal diharapkan dapat meningkatkan kepastian usaha, memitigasi risiko, serta mempercepat proses negosiasi antara pengembang pembangkit dan PT PLN (Persero). Keberhasilan debottlenecking proyek PLTP Muara Laboh pada 2025 dijadikan salah satu rujukan utama.
Deputy Commissioner for International Affairs Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, Ueno Asako, berharap enam proyek prioritas AZEC dapat menunjukkan kemajuan signifikan dalam waktu dekat, khususnya sebelum akhir tahun fiskal Jepang pada Maret 2026.
Sementara itu, Ketua Kelompok Ahli Satgas AZEC sekaligus Ketua Delegasi Indonesia Raden Pardede menegaskan pemerintah akan terus memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah dan akan berkoordinasi lebih detail dengan kementerian dan lembaga terkait, termasuk Kementerian ESDM, PT PLN, serta pemerintah daerah setempat,” ujarnya.




































