Jakarta — Menteri Perdagangan Budi Santoso membuka pasar murah di lingkungan Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (19/2), sebagai upaya menjaga stabilitas harga barang kebutuhan pokok (bapok) menjelang Ramadan 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 18–20 Februari 2026 itu diinisiasi Koperasi Pemasaran Niaga Sejahtera dan melibatkan puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Hingga tiga hari ke depan, Kemendag menggelar pasar murah menyambut Ramadan dan Idulfitri. Selain membantu masyarakat memperoleh kebutuhan dengan harga terjangkau, kegiatan ini juga menjadi ajang promosi produk UMKM,” ujar Budi saat pembukaan pasar murah di lapangan parkir Kemendag.
Budi berharap, pasar murah dapat menjadi dukungan konkret dalam menjaga daya beli masyarakat selama Ramadan. Menurutnya, ketersediaan pasokan dan stabilitas harga menjadi kunci agar masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang.
Pasar murah Kemendag digelar secara mandiri tanpa menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Kegiatan ini menghadirkan berbagai pangan lokal serta barang konsumsi harian dengan harga lebih terjangkau bagi pegawai dan masyarakat sekitar. Sebanyak 75 UMKM ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Budi juga menekankan pentingnya pengelolaan koperasi pegawai secara profesional dan transparan agar manfaatnya dapat dirasakan seluruh anggota. “Koperasi harus dikelola dengan baik, profesional, dan transparan,” kata dia.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemendag sekaligus Ketua Koperasi Pemasaran Niaga Sejahtera Isy Karim mengatakan pasar murah tahun ini merupakan hasil kolaborasi internal koperasi tanpa dukungan APBN. Ia berharap kegiatan serupa dapat digelar secara rutin dengan skala yang lebih besar pada tahun-tahun mendatang.
Koperasi Pemasaran Niaga Sejahtera sendiri berdiri sejak 1978 dan saat ini memiliki 1.210 anggota, atau sekitar 42 persen dari total pegawai Kemendag.
Sejumlah pengunjung mengapresiasi penyelenggaraan pasar murah tersebut. Endang, warga Pejambon, mengaku terbantu dengan harga minyak goreng dan produk kebutuhan lain yang lebih terjangkau. Sementara Tasya, pegawai Kemendag sekaligus perantau, menilai pasar murah memudahkan akses pangan lokal tanpa harus berbelanja jauh atau secara daring.
Saya sangat terbantu. Lokasinya dekat dan pilihannya cukup lengkap. Semoga bisa rutin diadakan,” ujar Tasya.
Harga Bapok Relatif Terkendali
Menjelang Ramadan, Budi menyebut pemerintah terus memantau perkembangan harga dan pasokan bapok melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag. Berdasarkan data SP2KP per 13 Februari 2026, harga sejumlah komoditas secara nasional masih relatif terkendali.
Harga daging sapi tercatat rata-rata Rp133.618 per kilogram, sementara bawang putih berada di kisaran Rp36.875 per kilogram. Adapun harga minyak goreng MINYAKITA secara nasional tercatat Rp16.020 per liter, turun dibandingkan sebelumnya di kisaran Rp16.800 per liter, meski masih di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp15.700 per liter.
Menurut Budi, tren penurunan harga MINYAKITA merupakan sinyal positif pascaterbitnya Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 43 Tahun 2025 tentang Minyak Goreng Sawit Kemasan dan Tata Kelola Minyak Goreng Rakyat.
Di sisi lain, beberapa komoditas masih tercatat di atas harga acuan nasional, seperti daging ayam ras dan telur ayam ras. Pemerintah, kata Budi, akan terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, serta Satgas Pangan untuk memastikan pasokan mencukupi dan distribusi berjalan lancar.
Terkait kenaikan harga cabai rawit, Budi menjelaskan faktor cuaca, terutama curah hujan tinggi, turut memengaruhi distribusi meski produksi relatif mencukupi. “Koordinasi dengan asosiasi petani terus kami lakukan agar distribusi kembali lancar dan harga terkendali,” pungkasnya.



































