Dewi Siluman Ular, Horor tentang Pesugihan dan Konsekuensi Jalan Pintas

- Jurnalis

Jumat, 2 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Poster Film

Foto: Poster Film "Dewi Siluman Ular." (Istimewa)

JAKARTA – Starvision kembali membawa cerita horor yang bersumber dari kisah yang sebelumnya diperbincangkan publik ke layar lebar. Kali ini, rumah produksi tersebut memperkenalkan “Dewi Siluman Ular”, film yang mengangkat cerita tentang pernikahan manusia dengan makhluk gaib dan konsekuensi dari sebuah pilihan yang dilakukan ketika seseorang berada dalam tekanan ekonomi.

Film yang disutradarai Azhar Kinoi Lubis itu dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 12 November 2026. Skenarionya ditulis oleh Upi dan Ayu Anggraini Putri, sementara produksinya berada di bawah Starvision dengan Chand Parwez Servia sebagai salah satu produser.

Cerita film ini berangkat dari podcast Prasodjo Muhammad berjudul “Nikah Sama Jin”, dengan narasumber Sherly Indrawati. Materi podcast tersebut disebut telah ditonton lebih dari 5,6 juta kali dan kemudian dikembangkan menjadi cerita film dengan pendalaman karakter, konflik, serta konsekuensi dari perjanjian antara manusia dan jin.

Namun, film ini tidak sekadar memindahkan kisah podcast ke layar. Tim produksi mengembangkan premis tersebut menjadi sebuah drama horor yang memasukkan persoalan ekonomi, keluarga, utang, pilihan pribadi, dan konsekuensi dari keputusan yang diambil dalam situasi terdesak.

Tokoh utama cerita adalah Dedi, diperankan oleh Derby Romero. Kehidupannya digambarkan berada dalam kondisi sulit. Ia menghadapi tekanan utang dan kejaran penagih, sementara istrinya membutuhkan operasi caesar untuk melahirkan anak mereka.

Dalam situasi tersebut, Dedi mengambil keputusan ekstrem. Ia memilih jalan pintas melalui sebuah pernikahan dengan jin bernama Dewi, sosok siluman ular yang diperankan Anya Geraldine.

Keputusan tersebut menjadi titik balik kehidupan Dedi.

Alih-alih menyelesaikan persoalan secara sederhana, perjanjian itu justru membuka rangkaian kejadian yang membawa persoalan baru. Kehidupan pribadi, keluarga, serta keselamatan orang-orang di sekitarnya kemudian berada dalam ancaman.

Premis tersebut menjadi dasar pertanyaan yang dibawa film: apa yang terjadi ketika keinginan untuk mengubah kehidupan ditempuh melalui sebuah perjanjian dengan makhluk gaib, dan apa konsekuensinya ketika kesepakatan tersebut dilanggar?

Pengembangan cerita dari podcast menjadi film membuat “Dewi Siluman Ular” memiliki dua lapisan. Pertama, terdapat sumber cerita yang disebut berangkat dari kisah yang disampaikan dalam podcast. Kedua, terdapat pengembangan kreatif dalam bentuk film yang mencakup karakter, konflik, struktur cerita, serta unsur dramatik dan horor.

Karena itu, film ini tidak diposisikan sekadar sebagai dokumentasi ulang dari kisah podcast. Tim kreatif mengolah materi tersebut menjadi karya fiksi layar lebar dengan dunia cerita yang lebih luas.

Produser Chand Parwez Servia mengatakan film tersebut berangkat dari fenomena yang menurut tim produksi masih ditemukan di masyarakat, khususnya ketika tekanan ekonomi dan keinginan mengubah keadaan mendorong seseorang mencari jalan pintas.

“Dewi Siluman Ular” dengan demikian menempatkan persoalan pesugihan bukan hanya sebagai sumber ketakutan, tetapi juga sebagai latar bagi konflik manusia yang berkaitan dengan ekonomi, keluarga, dan keputusan pribadi.

Bagi Azhar Kinoi Lubis, “Dewi Siluman Ular” menjadi proyek horor lain yang bersumber dari kisah nyata setelah sebelumnya menyutradarai “Petaka Gunung Gede” (2025).

Dalam proyek terbaru ini, tantangan yang dihadapi bukan hanya menciptakan adegan horor, melainkan menerjemahkan sumber cerita menjadi pengalaman sinematik dengan konflik yang lebih luas.

Azhar menjelaskan bahwa tim tidak ingin sekadar memindahkan kisah sumber ke layar. Cerita tersebut dikembangkan agar memiliki dunia dan konflik yang mampu berdiri sebagai pengalaman film tersendiri.

Pendekatan tersebut membuat unsur horor dalam film ditempatkan berdampingan dengan persoalan kehidupan Dedi sebagai manusia yang berada dalam tekanan.

Anya Geraldine tampil sebagai Dewi, sosok jin siluman ular yang menjadi bagian penting dari konflik. Sementara itu, Derby Romero memainkan karakter Dedi, manusia yang mengambil keputusan untuk menikahi Dewi sebagai jalan keluar dari persoalan hidupnya.

Selain keduanya, film ini melibatkan sejumlah pemeran, di antaranya Aulia Sarah, Aghniny Haque, Humaira Jahra, Ashraf Dirgham, Arswendy Bening Swara, Totos Rasiti, Azzalia Assyifa, Ayu Diah Pasha, Yati Surachman, Arief Didu, Ence Bagus, Judith Callysta, Agung Bla, dan Aldo Gudel.

Kehadiran jajaran pemeran tersebut memperluas karakter yang berada di sekitar konflik utama Dedi dan Dewi.

Dalam New Official Trailer, perubahan kehidupan Dedi mulai terlihat setelah ia mengambil keputusan melakukan pesugihan melalui pernikahan dengan Dewi.

Trailer tersebut memperlihatkan konsekuensi yang mengikuti keputusan tersebut, termasuk berbagai kejadian yang tidak terduga dan rangkaian teror yang menjadi bagian utama film.

Meski mengusung elemen supranatural, konflik dasarnya tetap berangkat dari persoalan yang sangat manusiawi: tekanan ekonomi, utang, keluarga, dan keinginan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Persoalan tersebut kemudian dikembangkan menjadi konflik horor yang mempertanyakan harga dari sebuah jalan pintas.

Salah satu aspek yang menonjol dari premis film ini adalah hubungan antara persoalan ekonomi dan keputusan ekstrem yang diambil tokoh utama.

Dedi tidak digambarkan mengambil keputusan tersebut tanpa alasan. Tekanan yang dihadapinya menjadi pemicu tindakan yang kemudian membawa konsekuensi lebih besar.

Melalui konstruksi cerita tersebut, film mencoba mempertemukan dua wilayah: realitas kehidupan sehari-hari dan dunia supranatural.

Konsekuensi dari pilihan Dedi kemudian menjadi pusat ketegangan cerita. Apa yang pada awalnya dipandang sebagai solusi justru berkembang menjadi sumber persoalan baru bagi dirinya dan keluarganya.

“Dewi Siluman Ular” dijadwalkan tayang di bioskop pada 12 November 2026. Film ini menjadi salah satu produksi Starvision yang kembali mengeksplorasi genre horor dengan mengambil sumber cerita yang sebelumnya telah dikenal melalui media digital.

Starvision sendiri merupakan rumah produksi film dan televisi yang telah berkiprah selama lebih dari tiga dekade di industri hiburan Indonesia dan dipimpin oleh produser Chand Parwez Servia.

Sejumlah film yang tercatat dalam perjalanan Starvision antara lain “Petaka Gunung Gede”, “Sekawan Limo”, “172 Days”, “Komang”, “Imperfect”, “Cek Toko Sebelah”, dan “Dua Garis Biru”.

Melalui “Dewi Siluman Ular”, Starvision kembali menawarkan cerita horor yang menggabungkan unsur supranatural dengan persoalan keluarga dan tekanan kehidupan.

Bagi penonton, film ini pada akhirnya menghadirkan sebuah kisah tentang pilihan. Ketika seseorang berada dalam kondisi terdesak dan memilih jalan pintas untuk mengubah nasib, selalu ada konsekuensi yang harus dihadapi.

“Dewi Siluman Ular” akan hadir di bioskop Indonesia mulai 12 November 2026.

Editor: Fahmy Nurdin

Berita Terkait

Dibintangi Zikri Daulay hingga Mongol Stres, Pok Ame Ame Siap Ramaikan Bioskop 10 Desember 
Perlu Strategi Kebudayaan untuk Mendukung Perfilman Nasional
Dari Mitos ke Layar Lebar, FFHoror IX Mengupas Wajah Baru Film Horor Indonesia
FSPPI Dorong Regulasi Terpadu, Perlindungan Pekerja Perfilman Dinilai Tak Boleh Lagi Terfragmentasi
Film Aku Bukan Musuhmu Tapi Aku Sahabatmu Ditegaskan Hanya oleh PH Kuda Putih Picture, Publik Diminta Rujuk Informasi Resmi
Film Agensi Rumah Tangga Siap Hadirkan Drama Komedi yang Dekat dengan Realitas Masyarakat
Kampanye Nasional Stop Bullying Digaungkan Lewat Film Aku Bukan Musuhmu Tapi Aku Sahabatmu, Dorong Gerakan Bersama Lindungi Anak Indonesia
Open Casting Film Layar Lebar “Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu” Dimulai
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 15:05 WIB

Dewi Siluman Ular, Horor tentang Pesugihan dan Konsekuensi Jalan Pintas

Kamis, 24 September 2026 - 18:25 WIB

Dibintangi Zikri Daulay hingga Mongol Stres, Pok Ame Ame Siap Ramaikan Bioskop 10 Desember 

Rabu, 23 September 2026 - 21:05 WIB

Perlu Strategi Kebudayaan untuk Mendukung Perfilman Nasional

Sabtu, 19 September 2026 - 16:35 WIB

Dari Mitos ke Layar Lebar, FFHoror IX Mengupas Wajah Baru Film Horor Indonesia

Kamis, 20 Agustus 2026 - 22:55 WIB

FSPPI Dorong Regulasi Terpadu, Perlindungan Pekerja Perfilman Dinilai Tak Boleh Lagi Terfragmentasi

Berita Terbaru

Foto: Wakil Wali Kota Administrasi Jakarta Timur Kusmanto bersama jajaran Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur berfoto bersama para Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Guru usai penandatanganan perpanjangan perjanjian kerja di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Kamis (1/10/2026).sm

Wali Kota Jakarta Pusat

1.200 PPPK Guru Jaktim Kembali Dapat Kepastian Masa Kerja

Kamis, 1 Okt 2026 - 22:17 WIB