Jakarta, okjakarta.com – Setiap orang memiliki kisah hidup yang menarik. Tak peduli dari latar belakang apapun. Apakah dia orang kaya, keturunan raja atau pejabat, bahkan orang miskin sekalipun. Akan tetapi tidak semua orang mau menceritakan kisah hidupnya. Apalagi menuliskannya dalam sebuah autobiografi atau biografi. Banyak yang memilih memendam kisah hidupnya, dan membawanya ke liang kubur.
Stanislaus Jumar Sudiana adalah kekecualian. Bagi lelaki kelahiran Kulonprogo, 8 April 1976 itu, sepahit apapun perjalanan hidupnya, tak ragu ia ceritakan, dan dituangkannya dalam sebuah buku berjudul: “Stanislaus Jumar Sudiyana – Operator Telepon Jadi Wartawan Kepresidenan”.
“Awalnya memang saya agak ragu untuk menuliskan autobiografi saya. Saya ini apalah, anak desa yang miskin. Sekolah jalan kaki, bahkan mau kuliah pun tidak punya uang,” kata Jumar sambil meneteskan air mata, saat peluncuran autobiografinya di Sekretariat PWI Jaya, Jl. Suryopranoto Jakarta, Jum’at (30/10) sore.
Peluncuran buku ini dihadiri oleh Ketua PWI Jaya Kesit B. Handoyo, Wakil Ketua PWI Jaya Dr. Bagus Sudarmanto, seniornya dari Radio Vilini Lesmana; wartawan senior Majong Suryolaksono dan editor buku Algooth Putranto. Acara dipandu oleh Wakil Ketua Bidang Kerjasama PWI Jaya Tb. Adhi.
Bagi Vilini, apa yang dikerjakan oleh Jumar adalah sebuah pencapaian luar biasa. “Dulu Pak Jacob Oetama mengatakan, mahkota seorang wartawan adalah menulis buku. Dan rekan kerja saya, Mas Jumar, telah meraih mahkota itu,” kata Filia.
Menurut Majong Suryolaksono, buku adalah sebuah prasasti, yang akan menjadi penting bagi orang yang membacanya. Kalau sebuah kisah tak dituliskan, kisah itu akan berlalu begitu saja. Jadi keberanian Jumar patut diapresiasi,” kata Majong.
Dengan membaca buku Jumar, papar Dr. Bagus Sudarmanyo, terlihat gambaran integritas seorang wartawan. Jumar ternyata bisa menolak pemberian amplop dari seorang polisi.
“Saat ini pemberian amplop kepada wartawan adalah sebuah dilema. Hanya wartawan berintegritas yang mampu menolak amplop,” ujar Dr. Bagus.
Ketua PWI Jaya Kesit Budi Handoyo mengatakan, Jumar telah memberi inspirasi bagi banyak wartawan, untuk menulis buku. Terutama untuk wartawan muda.
“Ikutilah jejak Mas Jumar. Meskipun saya sendiri belum menulis buku sendiri, kecuali bersama beberapa teman. Mudah-mudahan suatu saat saya juga akan mengikuti jejak Mas Jumar,” kata Kesit.
Jumar yang kini menjadi wartawan Radio Sonora, mengawali kariernya sebagai operator telepon di radio yang sama. Buku yang ditulisnya kebanyakan berisi perjalanan yang bersangkutan sebagai jurnalis radio, sejak melaporkan hasil liputan menggunakan telepon umum, hingga berkesempatan bertemu Paus Leo XIV di Vatican.
Karena tekadnya yang kuat Jumar terus mengaktualisasi diri dengan meneruskan pendidikannya dari SMA lalu meraih S1, dan S2. Jumar pernah menjadi wartawan istana, dan kini bertugas sebagai wartawan di Kantor Wapres. (hw)




































