JAKARTA – Jabatan dan kekuasaan bukanlah ukuran utama kehormatan seorang pemimpin. Kejujuran, integritas, komitmen, serta keteladanan justru menjadi fondasi yang menentukan apakah seorang pemimpin benar-benar layak mendapatkan kepercayaan dan penghormatan masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Irjen Pol (Purn) Heribertus Dahana Resmiwara atau Herry Dahana, praktisi hukum sekaligus mantan Deputi Politik dan Strategi Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) RI tahun 2022, dalam refleksinya mengenai integritas dan tanggung jawab kepemimpinan.
Menurut Herry, strategi memang menentukan arah dan langkah dalam setiap perjuangan. Namun, strategi tanpa integritas hanya akan kehilangan makna karena kepemimpinan tidak semata-mata diukur dari kemampuan memenangkan persaingan atau mempertahankan kekuasaan.
“Dalam setiap perjuangan, strategi menentukan langkah. Namun, integritas menentukan kehormatan,” demikian pesan Herry, Jumat (30/10/2026).
Ia menekankan, kejujuran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari integritas seorang pemimpin. Kejujuran bukan sekadar nilai moral yang disampaikan dalam pidato, melainkan karakter yang harus tercermin secara konsisten dalam perkataan, sikap, keputusan, dan tindakan.
Herry menjelaskan, kejujuran melahirkan kepercayaan. Dari kepercayaan itulah tumbuh dukungan publik yang menjadi salah satu kekuatan penting dalam menjalankan kepemimpinan.
Karena itu, dukungan masyarakat tidak bisa sekadar dituntut, apalagi dipaksakan. Kepercayaan publik harus diperjuangkan melalui konsistensi, keterbukaan, kejujuran, dan bukti nyata dalam menjalankan tanggung jawab.
Dalam pandangannya, seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki jabatan, kewenangan, dan kemampuan menyusun strategi. Ia juga harus mampu membangun keyakinan masyarakat bahwa setiap keputusan yang diambil berlandaskan tanggung jawab dan kepentingan bersama.
Herry juga mengingatkan bahwa ujian integritas justru muncul ketika seorang pemimpin menghadapi tekanan, benturan kepentingan, maupun godaan kekuasaan. Dalam situasi seperti itu, karakter dan prinsip moral menjadi penentu apakah seseorang tetap mampu menjaga kehormatannya.
“Kemenangan terbesar seorang pemimpin bukanlah ketika ia berhasil mengalahkan lawan atau menguasai keadaan, melainkan ketika ia tetap mampu menjaga kehormatan dan integritas dirinya,” tegasnya.
Ia menambahkan, kepemimpinan sejati bukan sekadar persoalan posisi, pengaruh, dan kekuasaan. Lebih dari itu, kepemimpinan merupakan cerminan karakter, tanggung jawab, serta keteladanan yang ditunjukkan kepada masyarakat.
Pada akhirnya, jabatan bisa berakhir, kekuasaan dapat berganti, dan dukungan publik bisa berubah. Namun, kejujuran, integritas, dan kehormatan akan menjadi warisan yang menentukan bagaimana seorang pemimpin dikenang.
Pesan Herry tersebut menjadi refleksi bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi jabatan yang berhasil diraih, tetapi juga oleh seberapa kuat ia mempertahankan prinsip dan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.
(Helmi AR)




































