Jakarta — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong penguatan sinergi antara pemerintah dan dunia usaha untuk memperkuat daya saing industri alas kaki nasional. Hal tersebut disampaikan Airlangga saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) ke-XI Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) secara virtual, Kamis (22/1).
Airlangga menyebut industri alas kaki merupakan salah satu pilar utama sektor padat karya nasional yang berperan penting sebagai penyangga perekonomian dan penyerap tenaga kerja. Pada kuartal III 2025, industri alas kaki tercatat berkontribusi sebesar 1,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan.
Dari sisi ketenagakerjaan, sektor ini menyerap sekitar 921 ribu tenaga kerja per Februari 2025, sehingga dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi nasional.
Di tengah dinamika dan ketidakpastian global, industri alas kaki nasional menunjukkan tingkat resiliensi yang kuat. Pada 2024, nilai ekspor industri alas kaki tumbuh 13,13 persen dan mencapai US$7,28 miliar,” kata Airlangga.
Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan daya saing industri alas kaki Indonesia yang tetap terjaga di pasar global. Kepercayaan investor juga dinilai terus meningkat, tercermin dari realisasi penanaman modal asing (PMA) yang mencapai US$859 juta pada 2024 dan US$803 juta hingga semester I 2025.
Tingginya minat investasi ini sejalan dengan tingkat utilisasi industri yang konsisten berada di atas 80 persen, menandakan kapasitas produksi yang optimal dan prospek usaha yang positif,” ujarnya.
Meski demikian, Airlangga mengingatkan sektor ini masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk kebijakan tarif resiprokal sebesar 19 persen di pasar Amerika Serikat. Pemerintah berharap implementasi Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dapat membuka akses pasar yang lebih luas.
Di tahun ini kita persiapkan agar implementasi IEU-CEPA bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin,” kata Airlangga.
Untuk menjaga resiliensi industri alas kaki, pemerintah telah menyiapkan berbagai instrumen kebijakan, di antaranya penguatan pasar domestik melalui Permendag Nomor 23 Tahun 2025 terkait pengaturan impor barang konsumsi, stimulus fiskal melalui kebijakan PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah, serta penyediaan Kredit Investasi Padat Karya.
Selain itu, pemerintah juga mendorong kemudahan ekspor melalui optimalisasi kawasan berikat dan penyederhanaan prosedur ekspor, serta berkomitmen menciptakan ekosistem usaha yang kondusif melalui reformasi regulasi ketenagakerjaan dan penguatan kualitas sumber daya manusia industri.
Airlangga menilai Munas XI APRISINDO menjadi momentum penting untuk menetapkan arah kebijakan organisasi yang adaptif dan visioner dalam mengawal transformasi ekonomi dan penerapan standar keberlanjutan.
Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan dunia usaha, industri alas kaki Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tampil sebagai pemimpin di pasar global,” ujarnya.
Airlangga pun menyampaikan apresiasi kepada APRISINDO atas kontribusinya selama 37 tahun sebagai mitra strategis pemerintah dalam memajukan industri alas kaki nasional. Ia berharap Munas XI APRISINDO dapat menghasilkan keputusan strategis yang mendorong pertumbuhan industri padat karya dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan




































