SURABAYA – Di tengah arus cepat industri kreatif yang kerap menonjolkan popularitas instan, Jasmine Vernadya Stevani memilih jalur berbeda. Perempuan muda ini menapaki dunia pendidikan, seni, dan kreatif secara bertahap, dengan fondasi akademik serta nilai pengabdian yang kuat.
Pertemuan dengan Jasmine di sebuah kafe di Surabaya, Rabu (7/1/2026), menjadi ruang refleksi atas perjalanan hidupnya. Lulusan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya itu memandang pengembangan sumber daya manusia sebagai investasi jangka panjang yang tak bisa dilepaskan dari disiplin, karakter, dan konsistensi.
Sebagai Sarjana Ekonomi Pembangunan, Jasmine tak semata menempatkan ilmunya pada ranah teoritis. Ia memilih terjun langsung ke lapangan dengan mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik di sekolah swasta kawasan Surabaya Barat.
Di sana, ia mengajar mata pelajaran Ekonomi dan Seni Prakarya untuk tingkat SMA, sekaligus membina kegiatan ekstrakurikuler dance dari jenjang SD hingga SMA.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfungsi mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk mental, keberanian, dan rasa percaya diri peserta didik.
“Disiplin dan keberanian tampil itu perlu dilatih sejak dini, bukan sekadar diajarkan,” ungkapnya dalam perbincangan tersebut.
Di luar dunia pendidikan formal, Jasmine juga aktif menekuni industri kreatif, khususnya di bidang fashion dan modeling.
Kiprahnya sebagai model profesional membawanya terlibat dalam berbagai proyek komersial, sekaligus mengantarkannya meraih penghargaan Foto Model Terbaik Wanita Jawa Timur 2020. Capaian itu menjadi penanda penting yang memperluas perannya di sektor kreatif regional.
Kepercayaan terhadap kapasitas manajerialnya semakin menguat ketika ia didaulat menjadi pengajar modeling pada ajang Top Model Jawa Timur 2021.
Setahun berselang, Jasmine dipercaya memegang peran strategis sebagai Ketua Pelaksana Grand Final Top Model Jawa Timur 2022, sebuah posisi yang menuntut kemampuan kepemimpinan, pengelolaan sumber daya, serta tanggung jawab besar dalam penyelenggaraan event berskala regional.
Memasuki 2025, langkah Jasmine kembali berkembang. Ia membuka kelas pelatihan minat dan bakat anak-anak di bidang entertainment, meliputi modeling, dance, dan public speaking.
Program tersebut dirancang tidak berorientasi pada popularitas semata, melainkan sebagai sarana pembentukan karakter, etika, dan kesiapan mental generasi muda menghadapi ruang publik.
Jasmine menilai dunia hiburan dan industri kreatif harus dibarengi dengan tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, setiap materi pelatihan disusun untuk menanamkan nilai disiplin, kerja keras, serta kesadaran akan batas dan etika.
Ketika ditanya mengenai peluang terjun lebih jauh sebagai figur publik, Jasmine menyatakan sikap terbuka namun berhati-hati. Baginya, ruang publik bukan sekadar tempat tampil, melainkan amanah yang membawa konsekuensi moral.
“Ruang publik harus dimaknai sebagai tanggung jawab. Setiap peran yang kita ambil akan berdampak pada orang lain, terutama generasi muda,” tegasnya.
Dengan latar pendidikan, pengalaman lapangan, dan kiprah lintas sektor yang terus berkembang, Jasmine Vernadya Stevani menjadi contoh figur muda yang berupaya menyeimbangkan prestasi personal dengan kontribusi sosial secara berkelanjutan.
Reporter: Matyadi
Editor: Fahmy Nurdin




































