Jakarta — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang kerap menyingkirkan ruang kontemplasi, sebuah peristiwa hening namun sarat makna berlangsung di Jakarta, Selasa (27/1). Sri Eko Sriyanto Galgendu menyerahkan Kitab Spiritual Ma Ha Is Ma Ya kepada Chryshnanda Dwilaksana, sebagai ikhtiar merawat dimensi batin dalam kehidupan kebangsaan.
Penyerahan kitab tersebut disaksikan sejumlah tokoh lintas bidang, di antaranya Karodalops Stama Ops Mabes Polri Brigjen Pol Benni Iskandar Hasibuan, anggota Dewan Pakar PWI Pusat Raldy Doy, Ketua Umum Forum Pemred Media Siber Indonesia Dar Edi Yoga, serta wartawan senior Jacob Ereste. Momentum ini menjadi titik temu antara spiritualitas, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.
Kitab Ma Ha Is Ma Ya disebut lahir dari proses batin yang panjang. Sri Eko menuturkan, kitab ini tidak disusun melalui imajinasi atau tafsir bebas, melainkan dirangkai dari bahasa Bhumi—bahasa simbolik yang ia tangkap melalui laku hidup, kehadiran, serta keteladanan berbagai tokoh Indonesia. Rapalan atau paritta dari bahasa Bhumi itu kemudian dirumuskan menjadi Ayat-Ayat Bhuwana, yang menjadi inti spiritual kitab tersebut.
Bahasa Bhumi diyakini memuat pesan tentang relasi manusia dengan Tuhan, sesama, dan tanah air. Bagi Sri Eko, spiritualitas bukanlah pelarian dari realitas, melainkan jalan terdalam untuk memahaminya secara utuh.
“Kitab ini bukan untuk dipuja, tetapi untuk dibaca dengan batin,” ujar Sri Eko. Ia menegaskan bahwa Ma Ha Is Ma Ya tidak dimaksudkan sebagai ajaran baru, melainkan pengingat kesadaran di tengah zaman yang mudah terjebak pada kebisingan kekuasaan dan formalitas hukum.
Menurutnya, ketika manusia kehilangan kepekaan batin, hukum berpotensi menjadi kering, kekuasaan kehilangan empati, dan kehidupan sosial kehilangan arah. Ayat-Ayat Bhuwana, kata dia, dihadirkan sebagai pengingat bahwa nurani adalah fondasi dari setiap tindakan.
Penyerahan kitab kepada Chryshnanda Dwilaksana—yang juga menjabat Ketua Tim Transformasi Reformasi Polri—dimaknai sebagai simbol jembatan antara spiritualitas dan kepemimpinan. Sebuah pesan bahwa pengabdian kepada negara menuntut kejernihan batin, tidak semata ketegasan struktural.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan serba bising, Ma Ha Is Ma Ya hadir sebagai laku sunyi: sebuah doa yang dititipkan kepada para penjaga nilai, agar bangsa ini tetap berpijak pada bumi, menengadah kepada Tuhan, dan memuliakan kemanusiaan.
Reporter Matyadi




































