Pesan Batin Ma Ha Is Ma Ya untuk Penjaga Nilai Bangsa

- Jurnalis

Rabu, 28 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Penyerahan Kitab Ma Ha Is Ma Ya
Sri Eko Sriyanto Galgendu menyerahkan Kitab Spiritual Ma Ha Is Ma Ya kepada Chryshnanda Dwilaksana di Jakarta

Foto: Penyerahan Kitab Ma Ha Is Ma Ya Sri Eko Sriyanto Galgendu menyerahkan Kitab Spiritual Ma Ha Is Ma Ya kepada Chryshnanda Dwilaksana di Jakarta

Jakarta — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang kerap menyingkirkan ruang kontemplasi, sebuah peristiwa hening namun sarat makna berlangsung di Jakarta, Selasa (27/1). Sri Eko Sriyanto Galgendu menyerahkan Kitab Spiritual Ma Ha Is Ma Ya kepada Chryshnanda Dwilaksana, sebagai ikhtiar merawat dimensi batin dalam kehidupan kebangsaan.

Penyerahan kitab tersebut disaksikan sejumlah tokoh lintas bidang, di antaranya Karodalops Stama Ops Mabes Polri Brigjen Pol Benni Iskandar Hasibuan, anggota Dewan Pakar PWI Pusat Raldy Doy, Ketua Umum Forum Pemred Media Siber Indonesia Dar Edi Yoga, serta wartawan senior Jacob Ereste. Momentum ini menjadi titik temu antara spiritualitas, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.

Kitab Ma Ha Is Ma Ya disebut lahir dari proses batin yang panjang. Sri Eko menuturkan, kitab ini tidak disusun melalui imajinasi atau tafsir bebas, melainkan dirangkai dari bahasa Bhumi—bahasa simbolik yang ia tangkap melalui laku hidup, kehadiran, serta keteladanan berbagai tokoh Indonesia. Rapalan atau paritta dari bahasa Bhumi itu kemudian dirumuskan menjadi Ayat-Ayat Bhuwana, yang menjadi inti spiritual kitab tersebut.

Bahasa Bhumi diyakini memuat pesan tentang relasi manusia dengan Tuhan, sesama, dan tanah air. Bagi Sri Eko, spiritualitas bukanlah pelarian dari realitas, melainkan jalan terdalam untuk memahaminya secara utuh.

“Kitab ini bukan untuk dipuja, tetapi untuk dibaca dengan batin,” ujar Sri Eko. Ia menegaskan bahwa Ma Ha Is Ma Ya tidak dimaksudkan sebagai ajaran baru, melainkan pengingat kesadaran di tengah zaman yang mudah terjebak pada kebisingan kekuasaan dan formalitas hukum.

Menurutnya, ketika manusia kehilangan kepekaan batin, hukum berpotensi menjadi kering, kekuasaan kehilangan empati, dan kehidupan sosial kehilangan arah. Ayat-Ayat Bhuwana, kata dia, dihadirkan sebagai pengingat bahwa nurani adalah fondasi dari setiap tindakan.

Penyerahan kitab kepada Chryshnanda Dwilaksana—yang juga menjabat Ketua Tim Transformasi Reformasi Polri—dimaknai sebagai simbol jembatan antara spiritualitas dan kepemimpinan. Sebuah pesan bahwa pengabdian kepada negara menuntut kejernihan batin, tidak semata ketegasan struktural.

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan serba bising, Ma Ha Is Ma Ya hadir sebagai laku sunyi: sebuah doa yang dititipkan kepada para penjaga nilai, agar bangsa ini tetap berpijak pada bumi, menengadah kepada Tuhan, dan memuliakan kemanusiaan.

Reporter Matyadi

Berita Terkait

Tahun Api dan Shio Kuda, Nyai Nova Sebut 2026 Perlu Kewaspadaan Tinggi terhadap Bencana Alam
Imam Muda 17 Tahun dari Sabang, Tgk. Muchtar Andhika: Pelopor Regenerasi Ulama di Era Gen Z
Borobudur Jadi Saksi Ritual Dhammayatra Umat Buddha DKI Jakarta
Praktisi Spiritual Ingatkan Bahaya Energi Negatif, Serukan Pemimpin Teladani Gunung Padang
Nyai Dewi Rantian: Tahun 2025 Dibayangi Energi Alam Tak Stabil, Menuju “Tahun Api” 2026
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 13:46 WIB

Pesan Batin Ma Ha Is Ma Ya untuk Penjaga Nilai Bangsa

Rabu, 21 Januari 2026 - 23:53 WIB

Tahun Api dan Shio Kuda, Nyai Nova Sebut 2026 Perlu Kewaspadaan Tinggi terhadap Bencana Alam

Kamis, 20 November 2025 - 21:21 WIB

Imam Muda 17 Tahun dari Sabang, Tgk. Muchtar Andhika: Pelopor Regenerasi Ulama di Era Gen Z

Sabtu, 20 September 2025 - 14:18 WIB

Borobudur Jadi Saksi Ritual Dhammayatra Umat Buddha DKI Jakarta

Kamis, 4 September 2025 - 23:29 WIB

Praktisi Spiritual Ingatkan Bahaya Energi Negatif, Serukan Pemimpin Teladani Gunung Padang

Berita Terbaru