Jakarta Timur — Di tengah padatnya permukiman warga Cakung, sebidang lahan yang sempat terbengkalai kini menjelma menjadi kebun produktif. Dari ruang sempit itulah, sekitar 10 kilogram anggur berhasil dipanen warga RW 13 Komplek Taman Buaran Indah, Kelurahan Penggilingan, Jumat (9/1/2026).
Panen tersebut dipimpin langsung oleh Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, Munjirin, yang menyebut kebun anggur warga sebagai bukti bahwa keterbatasan lahan tidak selalu berbanding lurus dengan keterbatasan hasil.
“Ini contoh konkret bagaimana ruang yang sebelumnya tidak bernilai bisa diubah menjadi sesuatu yang produktif dan bermanfaat bagi lingkungan,” ujar Munjirin usai memetik anggur bersama warga.
Menurut Munjirin, inisiatif warga ini sejalan dengan dorongan pemerintah kota agar lahan-lahan kosong di kawasan permukiman tidak dibiarkan terbengkalai. Selain mempercantik lingkungan, pemanfaatan lahan juga dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan skala rumah tangga.
Panen anggur tersebut turut disaksikan jajaran pejabat Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur, mulai dari asisten wali kota, kepala bagian, hingga lurah dan camat se-Kecamatan Cakung. Kehadiran mereka menegaskan dukungan pemerintah terhadap gerakan warga berbasis kemandirian dan inovasi lingkungan.
Kebun anggur itu sendiri dirintis oleh Harismawati Sharifah bersama keluarganya sejak tiga tahun lalu. Berbekal pembelajaran mandiri dan ketekunan, lahan kosong yang awalnya tak terurus perlahan berubah menjadi kebun dengan berbagai varietas anggur.
Prosesnya tidak instan. Harismawati mengaku sempat mengalami kegagalan di awal masa tanam. Namun pengalaman tersebut justru menjadi modal utama untuk terus belajar, baik melalui media daring maupun kunjungan langsung ke kebun anggur di sejumlah daerah.
Kini, hasil panen tidak hanya dinikmati keluarga, tetapi juga dibagikan kepada warga sekitar. Kebun anggur tersebut bahkan terbuka bagi tamu yang ingin melihat langsung atau memetik buahnya.
Pemerintah Kota Jakarta Timur berharap keberhasilan warga Taman Buaran Indah dapat direplikasi di wilayah lain. Di tengah keterbatasan ruang perkotaan, kreativitas warga dinilai menjadi kunci untuk menghadirkan nilai ekonomi, sosial, sekaligus ekologis dari lahan-lahan yang selama ini terabaikan.
Reporter: Matyadi




































