Jakarta — Universitas Nasional (Unas) mengukuhkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai Profesor Kehormatan (Prof. Hon) dalam Sidang Terbuka Senat Akademik yang digelar di Auditorium Universitas Nasional, Jakarta, Rabu (11/2).
Rektor Universitas Nasional El Amry Bermawi Putera mengatakan penganugerahan tersebut merupakan bentuk penghargaan akademik tertinggi atas dedikasi, pemikiran, serta kontribusi intelektual Fadli di bidang kebudayaan, pendidikan, dan kehidupan kebangsaan.
Pengukuhan ini kami maknai sebagai pengakuan akademik atas kerja panjang, ketekunan intelektual, serta konsistensi Dr. Fadli Zon dalam memperjuangkan kebudayaan, sejarah, dan jati diri bangsa. Ini bukan sekadar penghargaan personal, tetapi juga pesan moral bahwa kebudayaan harus ditempatkan sebagai fondasi pembangunan peradaban Indonesia,” ujar El Amry dalam sambutannya.
Menurut dia, keputusan pemberian gelar tersebut melalui kajian akademik mendalam yang mempertimbangkan rekam jejak intelektual, integritas, serta kontribusi nasional dan internasional Fadli.
El Amry menilai kiprah Fadli dalam pelestarian sejarah, penguatan literasi budaya, serta diplomasi kebudayaan selaras dengan nilai-nilai yang diwariskan Sutan Takdir Alisjahbana (STA), salah satu pendiri Universitas Nasional.
Dalam orasi kebudayaannya, Fadli Zon mengangkat gagasan tentang pentingnya reinventing Indonesian identity sebagai fondasi penguatan peradaban bangsa di tengah dinamika global.
Upaya reinventing Indonesian identity merupakan wujud nyata penguatan kembali posisi Indonesia sebagai episentrum peradaban dunia. Berbagai temuan dan jejak arkeologis membuktikan bahwa Nusantara merupakan panggung vital dalam evolusi dan peradaban umat manusia,” kata Fadli.
Ia menegaskan Indonesia tidak dapat dipahami semata sebagai negara-bangsa modern, melainkan sebagai civilizational-state yang berdiri di atas fondasi keberagaman atau megadiversity.
Menurutnya, keberagaman etnis, bahasa, adat, dan tradisi justru menjadi kekuatan strategis dalam memainkan peran di panggung politik kebudayaan global.
Budaya bukan hanya sebagai kompas, namun juga jalan tengah, sebuah ruang solusi yang melampaui dikotomi kekuasaan dan kepentingan. The Power of Culture menjadi fondasi dalam konstruksi identitas bangsa,” ujarnya.
Universitas Nasional menyebut penganugerahan tersebut juga mempertimbangkan rekam jejak akademik Fadli, termasuk kiprahnya sebagai dosen luar biasa di Universitas Indonesia serta dosen tidak tetap di Universitas Nasional sejak 2018.
Fadli juga tercatat telah menulis lebih dari 40 buku serta berbagai karya tulis dan jurnal nasional maupun internasional di bidang politik, kebudayaan, dan ekonomi kerakyatan.
Selain itu, komitmennya dalam pelestarian sejarah diwujudkan melalui pendirian Fadli Zon Library, pengelolaan museum, serta rumah budaya yang menghimpun ribuan artefak dan naskah kuno.
Sejumlah pejabat negara turut hadir dalam pengukuhan tersebut, di antaranya Ketua MPR RI Ahmad Muzadi, Menteri Koordinator Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra, Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Kepala BRIN Arif Satria, serta jajaran DPR dan duta besar negara sahabat.
Menutup orasinya, Fadli menyampaikan terima kasih atas penganugerahan tersebut dan menegaskan kebudayaan harus menjadi fondasi utama dalam pembangunan nasional dan penguatan persatuan bangsa.
ŸJika Anda ingin, saya bisa buatkan versi lebih ringkas (sekitar 500 kata) atau versi dengan angle yang lebih tajam, misalnya fokus pada gagasan civilizational-state atau rekam jejak intelektual Fadli Zon.



































