Oleh: Laksamana Sukardi
Ada sesuatu perubahan mendasar dalam arah perkembangan perang modern, terutama dalam dinamika perang Amerika–Israel melawan Iran. Perubahan tersebut adalah “aritmatika ekonomi perang.”
Selama beberapa dekade, kekuatan militer ditentukan oleh kelangkaan senjata canggih.
Senjata presisi, intelijen satelit, dan sistem siluman adalah aset eksklusif yang hanya dimiliki oleh negara super power. Biaya produksi yang tinggi menciptakan kelangkaan alami. Perang menjadi mahal; dan karena itu, ia cenderung dihindari.
Kini, batas itu mulai menghilang.
Seperti dicatat oleh Fareed Zakaria, dunia memasuki era di mana senjata presisi diproduksi secara massal di luar negara super power. Pernyataan ini tampak sederhana, tetapi implikasinya radikal. Ketika senjata presisi menjadi murah dan mudah direplikasi, maka kemampuan menghancurkan ikut menjadi murah.
Dan ketika kehancuran menjadi murah, perang kehilangan sifatnya sebagai pilihan terakhir.
Model lama peperangan, yang bertumpu pada platform bernilai miliaran dolar dan keunggulan teknologi eksklusif, perlahan runtuh.
Sebagai gantinya, muncul persamaan baru yang jauh lebih mengganggu: drone murah bernilai puluhan ribu dolar mampu bersaing dengan sistem pertahanan rudal bernilai jutaan dolar.
Dalam logika ini, keberhasilan tidak lagi diukur dari apakah serangan drone murah berhasil menembus pertahanan. Bahkan ketika drone murah berhasil digagalkan, biaya intersepsi yang dikeluarkan jauh lebih besar daripada biaya drone.
Ini bukan sekadar ketimpangan taktis. Ini adalah jebakan struktural. Dan telah terjadi disrupsi ekonomi teknologi senjata presisi.
Pihak yang mengandalkan sistem mahal terperangkap dalam permainan matematika yang sulit dimenangkan. Setiap keberhasilan justru mempercepat kelelahan pengurasan ekonominya sendiri apa lagi jika terjadi kegagalan.
Sebagaimana dijelaskan oleh Michael C. Horowitz, kita kini memasuki era precise mass, di mana presisi tidak lagi langka, tetapi diproduksi dalam skala besar. Dalam kerangka ini, keunggulan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki senjata termahal, tetapi oleh siapa yang mampu memproduksi senjata yang “cukup efektif” dalam jumlah besar, dengan biaya rendah, dan dalam tempo cepat.
Perang, dengan demikian, berubah dari kompetisi kualitas menjadi kompetisi volume dan daya tahan.
Namun transformasi ini tidak berhenti pada dimensi persenjataan. Ia merambah ke fondasi lain dari kekuatan modern, yaitu; informasi.
Di masa lalu, dominasi medan perang sangat ditentukan oleh monopoli atasi informasi intelijen yang diperoleh dari; citra satelit, pemetaan real-time, dan pengawasan geospatial. Kini, keunggulan itu mulai terkikis. Teknologi yang dahulu eksklusif telah menjadi komoditas umum. Platform komersial dan berkembangnya open-source intelligence memungkinkan aktor yang sebelumnya lemah, telah memperoleh kemampuan pengintaian dan penargetan yang semakin presisi.
Apa yang dulu rahasia negara, kini tersedia di pasar dan jauh lebih murah.
Akibatnya, negara seperti Iran, yang dalam banyak aspek konvensional dianggap berada di bawah, kini memiliki kemampuan untuk melihat, melacak, dan menyerang target dengan tingkat akurasi yang semakin mengkhawatirkan lawannya.
Di sinilah terjadi pergeseran fundamental: hegemoni militer tidak lagi ditentukan oleh kecanggihan sistem semata, tetapi oleh kemampuan mengintegrasikan data, perangkat lunak, dan produksi dalam skala besar. Keunggulan kini berada pada pihak yang paling adaptif; bukan semata yang paling besar anggaran militernya.
Konsekuensinya adalah dunia yang jauh lebih rapuh.
Ketika hambatan untuk berperang menurun, jumlah aktor yang mampu melakukannya meningkat. Perang tidak lagi menjadi monopoli negara. Ia kini dapat dijalankan oleh jaringan, milisi, dan kelompok non-negara yang beroperasi lintas batas.
Dalam konteks Iran, hal ini tercermin melalui jaringan seperti Hezbollah dan Houthi movement. Mereka bukan sekadar perpanjangan tangan negara, tetapi aktor dengan kapasitas operasional yang relatif mandiri.
Struktur seperti ini menciptakan konflik yang terfragmentasi, tidak terpusat, dan sulit dikendalikan. Tidak ada garis depan yang jelas, tidak ada titik akhir yang tegas.
Perang menjadi kondisi yang berkelanjutan, oleh karenanya perang Amerika-Israel melawan Iran dapat dipastikan berkepanjangan.
Namun implikasi paling berbahaya dari perubahan ini justru terletak pada psikologi pengambil keputusan.
Ketika perang menjadi lebih murah. Risiko terasa lebih kecil. Respons menjadi lebih cepat. Eskalasi menjadi lebih mungkin.
Para pemimpin tidak lagi melihat perang semata sebagai kegagalan diplomasi, tetapi sebagai salah satu instrumen kebijakan.
Masalahnya, dunia saat ini terhubung dalam sistem ekonomi global yang rapuh.
Gangguan pada satu kawasan dapat memicu efek domino yang luas: rantai pasok terganggu, harga energi melonjak, pasar finansial bergejolak. Konflik yang tampak terbatas dapat berdampak global. Perang Amerika-Israel Vs Iran secara tidak langsung menghantam ekonomi global termasuk ekonomi Amerika.
Artinya, perang yang murah di awal dapat menjadi sangat mahal pada akhirnya.
Ironisnya, justru karena biaya awal rendah, konflik menjadi lebih mudah dimulai tetapi lebih sulit dihentikan. Ia tidak cukup mahal untuk dicegah, tetapi terlalu kompleks untuk diselesaikan dengan cepat.
Perang menjadi berlarut-larut.
Di tengah semua perubahan ini, hanya satu domain yang relatif tidak berubah, yaitu; senjata nuklir.
Ia tetap mahal, tetap eksklusif dan tetap berada di luar logika efisiensi.
Nuklir adalah titik di mana semua kalkulasi berhenti.
Dan justru di sinilah kekhawatiran terbesar muncul. Ketika perang konvensional menjadi semakin tidak menentukan, karena sifatnya yang berkepanjangan dan tidak konklusif, maka tekanan untuk mencari penyelesaian yang lebih cepat dapat meningkat.
Dalam kondisi ekstrem, eskalasi perang menjadi kemungkinan.
Bukan karena diinginkan, tetapi karena alternatifnya tidak tersedia.
Masalahnya sederhana namun mengganggu: manusia telah berhasil menghilangkan banyak hambatan untuk memulai perang, tetapi belum pernah benar-benar belajar bagaimana menghentikannya.
Jika abad ke-20 adalah era akumulasi kekuatan, maka abad ke-21 adalah era optimalisasi penggunaannya.
Dan dalam konteks perang, optimalisasi berarti efisiensi; yang pada akhirnya berarti frekuensi.
Lebih banyak konflik. Lebih sulit dikendalikan.
Aritmatika baru perang tidak hanya mengubah siapa yang menang.
Ia mengubah seberapa sering perang akan terjadi, dan seberapa luas dampaknya terhadap stabilitas global.
Dan mungkin, di situlah letak bahaya terbesar.
Karena dalam dunia di mana perang menjadi murah, yang menjadi mahal adalah stabilitas.
Dan ketika stabilitas menjadi mahal, ia menjadi langka.
Dan ketika stabilitas menjadi langka, perang berkecamuk tanpa akhir,
sejarah jarang memberi akhir yang baik. Sangat dikhawatirkan jika Nuklir menjadi opsi untuk menemukan stabilitas yang hilang.
Kita lupa bahwa stabilitas murni lahir dari perdamaian.
- Venice, 27 Maret 2026




































