DELI SERDANG – Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan ruang pamer Museum Sejarah Al-Qur’an di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, Selasa (10/3). Peresmian ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat infrastruktur kebudayaan yang inklusif di berbagai daerah.
Fadli mengatakan penguatan sarana dan prasarana kebudayaan menjadi langkah penting dalam mendorong pemajuan kebudayaan nasional sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap ruang literasi sejarah dan budaya.
Sebagai negara dengan ragam ekspresi budaya dan peninggalan warisan budaya yang kita sebut megadiversity, kita berharap ada narasi literasi yang hidup di tengah masyarakat melalui museum dan berbagai sanggar yang menghidupkan aktivasi ruang publik,” ujar Fadli dalam sambutannya.
Ia menilai museum memiliki peran penting sebagai ruang edukasi publik yang dapat menghubungkan masyarakat dengan sejarah serta perkembangan peradaban.
Dalam kesempatan itu, Fadli juga menyarankan agar tata pamer Museum Sejarah Al-Qur’an dirancang secara modern dan tematik agar mampu menarik minat generasi muda. Menurutnya, pengalaman belajar di museum perlu dikemas secara interaktif dengan memanfaatkan teknologi, pencahayaan yang tepat, serta narasi yang jelas.
Tata pamer yang baik akan membuat generasi muda merasakan pengalaman belajar yang menarik, mendalam, dan relevan dengan perkembangan zaman,” katanya.
Ketua Pembina Museum Sejarah Al-Qur’an Sabrina mengatakan keberadaan museum tersebut merupakan salah satu upaya untuk melestarikan peradaban Islam di Sumatra Utara.
Kehadiran peradaban Islam, khususnya Al-Qur’an ini secara budaya dan secara agama wajib kita lestarikan,” ujarnya.
Museum Sejarah Al-Qur’an sendiri berfungsi sebagai ruang dokumentasi berbagai khazanah naskah Al-Qur’an serta tradisi penulisan mushaf yang berkembang dalam sejarah peradaban Islam di Nusantara.
Selain menjadi ruang pamer, museum tersebut juga dimanfaatkan sebagai tempat riset akademik serta aktivitas seni dan budaya yang melibatkan masyarakat.
Fadli juga mengajak masyarakat untuk mengunjungi museum sebagai sarana pembelajaran sejarah dan budaya yang lebih komprehensif. Ia menyebut museum dapat menjadi ruang publik yang memperkuat literasi sejarah sekaligus membangun kesadaran budaya di tengah masyarakat.
Peresmian ruang pamer baru ini diharapkan dapat mendorong pengelola museum lain, baik yang dikelola pemerintah, filantropis, maupun komunitas, untuk terus mengembangkan ruang pelestarian warisan budaya.
Turut mendampingi Menteri Kebudayaan dalam kegiatan tersebut antara lain Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Wawan Yogaswara, Direktur Warisan Budaya I Made Dharma Suteja, Direktur Sarana dan Prasarana Feri Arlius, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh Piet Rusdi, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Medan Sukronedi.
Hadir pula Kepala Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan Provinsi Sumatra Utara M. Mahfullah Pratama Daulay serta Ketua Yayasan Museum Sejarah Al-Qur’an Ichwan Azhari.
Di akhir sambutannya, Fadli berharap kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, filantropis, serta komunitas dapat memperkuat upaya pelestarian manuskrip dan warisan budaya Islam di Indonesia.
Kita harapkan suatu saat kita memiliki museum manuskrip yang kuat, hasil kerja bersama antara pemerintah pusat dan daerah, swasta, filantropis, dan juga komunitas,” ujarnya.



































