Home / PWI

Jumar dan Perjalanan 25 Tahun di Radio Sonora: Tentang Dedikasi, Integritas, dan Independensi

- Jurnalis

Sabtu, 31 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Wakil Pimpinan Redaksi okjakarta.com, Herman Wijaya, menyampaikan pertanyaan kepada narasumber dalam diskusi bedah buku Operator Telepon Jadi Wartawan Kepresidenan: 25 Tahun Berkarya di Radio Sonora karya Stanislaus Jumar Sudiyana, di Markas PWI Jaya, Jumat (30/10/2026).

Foto: Wakil Pimpinan Redaksi okjakarta.com, Herman Wijaya, menyampaikan pertanyaan kepada narasumber dalam diskusi bedah buku Operator Telepon Jadi Wartawan Kepresidenan: 25 Tahun Berkarya di Radio Sonora karya Stanislaus Jumar Sudiyana, di Markas PWI Jaya, Jumat (30/10/2026).

JAKARTA – Perjalanan panjang di dunia jurnalistik tidak selalu dimulai dari ruang redaksi atau bangku pendidikan kewartawanan. Stanislaus Jumar Sudiyana membuktikan, karier seorang jurnalis dapat berawal dari posisi operator telepon hingga akhirnya dipercaya menjadi wartawan kepresidenan.

Pengalaman selama 25 tahun berkarya di Radio Sonora itu kini dituangkan Jumar dalam sebuah buku berjudul Operator Telepon Jadi Wartawan Kepresidenan: 25 Tahun Berkarya di Radio Sonora. Perjalanan tersebut dibedah dalam kegiatan literasi yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya di Markas PWI Jaya, Jumat (30/10/2026) sore.

Buku yang diterbitkan Jembatan Literasi Nusantara dan disunting Algooth Putranto, doktor Ilmu Komunikasi, ini bukan sekadar catatan perjalanan karier. Lebih dari itu, buku tersebut merekam dinamika profesi wartawan, pergulatan menjaga integritas, independensi pers, hingga tantangan industri media menghadapi perubahan zaman.

Kegiatan bedah buku berlangsung hangat dan penuh keakraban. Acara dibuka Ketua PWI Jaya, Kesit Budi Handoyo, serta dihadiri Direktur Radio Sonora Viking Lesmana, wartawan senior Mayong Suryo Laksono, dan sejumlah sahabat dari kalangan jurnalistik maupun akademisi, di antaranya Bagus Sudarmanto, Tb. Adhi, dan Arman Suparman.

Dalam sambutannya, Kesit Budi Handoyo memberikan apresiasi terhadap perjalanan profesional Jumar. Ia menilai Jumar merupakan sosok wartawan yang tidak memilih medan peliputan dan tidak menawar waktu ketika menjalankan tugas.

Sikap tersebut, menurutnya, mencerminkan dedikasi, kesiapan, dan tanggung jawab seorang jurnalis dalam menjalankan profesinya. Sebab, pekerjaan wartawan tidak hanya menuntut kemampuan menyampaikan informasi, tetapi juga kesediaan menghadapi berbagai situasi dan tantangan di lapangan.

Apresiasi serupa disampaikan Direktur Radio Sonora, Viking Lesmana. Ia mengucapkan selamat atas terbitnya buku tersebut sekaligus menyebut Jumar sebagai sosok yang memiliki karakter “paket lengkap seorang jurnalis” dan dapat diandalkan.

Pernyataan itu menjadi pengakuan atas pengalaman panjang, kemampuan, serta dedikasi Jumar selama mengabdikan diri di dunia jurnalistik, khususnya di lingkungan Radio Sonora.

Mayong: Karya Buku Menjadi Puncak Perjalanan Wartawan

Salah satu pesan penting dalam diskusi datang dari wartawan senior Mayong Suryo Laksono. Ia menilai, menulis buku merupakan salah satu pencapaian penting dalam perjalanan seorang wartawan.

Mayong mengaku mengenal Jumar ketika dirinya masih mengabdi di majalah Intisari, bagian dari Kompas-Gramedia Network. Menurutnya, pengalaman panjang yang dimiliki seorang jurnalis akan mempunyai nilai lebih ketika didokumentasikan menjadi karya yang dapat dibaca masyarakat luas.

“Puncak karya seorang wartawan atau jurnalis adalah ketika mampu melahirkan karya berupa buku. Apa yang dilakukan Jumar merupakan pencapaian yang patut diapresiasi karena pengalaman panjang seorang wartawan akhirnya terdokumentasi menjadi karya yang bisa dibaca dan diwariskan kepada orang lain,” ungkap Mayong.

Mayong yang pernah menjadi anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Dewan Pengawas Antara itu juga mengingatkan bahwa perjalanan jurnalistik tidak seharusnya berhenti pada aktivitas peliputan sehari-hari.

Pengalaman, pemikiran, dan berbagai peristiwa yang ditemui wartawan selama bertugas merupakan kekayaan pengetahuan yang patut diwariskan melalui tulisan.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Jaya, Bagus Sudarmanto, menyoroti kekuatan utama buku Jumar, yakni keteguhan dalam menjaga tiga pilar integritas jurnalistik.

Menurut Bagus, perjalanan panjang seorang wartawan tidak semata-mata diukur dari pengalaman, jabatan, maupun kesempatan meliput tokoh-tokoh penting. Hal yang jauh lebih mendasar adalah kemampuan mempertahankan prinsip dan independensi di tengah berbagai tantangan profesi.

“Perjalanan panjang seorang wartawan bukan hanya tentang pengalaman, posisi, atau kesempatan meliput tokoh penting, melainkan juga tentang kemampuan mempertahankan prinsip dan independensi di tengah berbagai tantangan profesi,” ujar Bagus yang juga mengajar di sejumlah perguruan tinggi.

Enam Pelajaran dari Perjalanan 25 Tahun Jumar

Diskusi buku tersebut tidak hanya mengulas perjalanan Jumar dari operator telepon hingga menjadi wartawan kepresidenan. Para peserta juga menggali sejumlah nilai kehidupan dan pelajaran jurnalistik yang terkandung dalam buku tersebut.

Setidaknya ada enam tema penting yang menjadi perhatian dalam pembahasan.

Pertama, perjalanan karier yang ditempuh melalui ketekunan dan kerja keras. Peralihan Jumar dari operator telepon menjadi wartawan kepresidenan memperlihatkan bahwa keberhasilan tidak selalu diperoleh melalui jalan pintas.

Dalam halaman 115, Jumar menuliskan refleksi perjalanan tersebut: “Semua itu saya jalani tanpa jalan pintas.”

Kalimat singkat itu menggambarkan proses panjang yang membutuhkan kesabaran, kemauan belajar, dan konsistensi dalam menjalankan pekerjaan.

Kedua, integritas dan independensi wartawan. Salah satu kisah yang menarik perhatian adalah ketika Jumar menolak pemberian amplop dari seorang narasumber polisi.

Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Ia ingin tetap memiliki kebebasan dalam menyampaikan informasi kepada publik.

“Biar saya tetap bisa bicara leluasa di udara” (hlm. 12).

Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa independensi pers tidak hanya diuji ketika wartawan berhadapan dengan kekuasaan besar. Godaan dalam bentuk pemberian atau fasilitas kecil dalam keseharian profesi juga dapat menjadi ujian terhadap integritas seorang jurnalis.

Ketiga, pengalaman meliput Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada periode 2012–2014 sebagaimana diceritakan dalam Bab 4 tentang Liputan Istana Kepresidenan.

Pengalaman berada di lingkungan pusat kekuasaan memberikan kesempatan bagi wartawan untuk memperoleh informasi penting. Namun, kedekatan tersebut tidak boleh menghilangkan jarak kritis dalam menjalankan fungsi jurnalistik.

Wartawan tetap harus menjaga independensi, mengedepankan kepentingan publik, dan tidak terjebak dalam kedekatan personal dengan narasumber.

Keempat, pentingnya pendidikan dan kemauan untuk terus belajar. Dalam buku tersebut, Jumar mengutip pesan ayahnya yang menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan.

“Kamu boleh miskin harta, tapi tidak boleh miskin ilmu” (hlm. 113).

Pesan itu menegaskan bahwa pendidikan merupakan modal penting untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan, termasuk dalam membangun karier dan meningkatkan kualitas profesionalisme seorang wartawan.

Kelima, tantangan industri radio menghadapi transformasi digital. Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Namun, perubahan tersebut tidak serta-merta menghilangkan relevansi radio sebagai media komunikasi publik.

Dalam buku Jumar terdapat refleksi yang menarik mengenai masa depan radio.

“Radio tidak mati. Ia hanya berubah bentuk, dan dalam perubahan itu, radio menemukan relevansi baru” (hlm. 120).

Pernyataan tersebut menjadi gambaran bahwa media harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan kredibilitas, kualitas informasi, dan kepercayaan masyarakat.

Keenam, makna pengabdian dan warisan profesi. Jumar menegaskan bahwa kejujuran dan konsistensi merupakan fondasi penting agar seseorang tetap dihormati dan dikenang.

“… kalau kita jujur dan konsisten, perlahan kita akan dihormati dan diingat” (hlm. 13).

Pesan tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan seorang wartawan tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan, popularitas, ataupun akses terhadap tokoh penting. Integritas dan keberpihakan kepada kepentingan publik justru menjadi ukuran yang lebih mendasar.

Mendorong Wartawan Menulis dan Mewariskan Pengalaman

Suasana diskusi berlangsung dinamis. Berbagai pengalaman, cerita lapangan, dialog, dan pertukaran gagasan memperkaya pembahasan mengenai perjalanan Jumar selama seperempat abad berkarya di Radio Sonora.

Buku tersebut mendapat respons positif dari para peserta karena menghadirkan pengalaman jurnalistik yang tidak hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga menyimpan pelajaran berharga bagi wartawan, terutama generasi muda yang sedang membangun karier di dunia pers.

Lebih jauh, kegiatan bedah buku ini membawa pesan yang lebih luas, yakni mendorong para wartawan agar tidak hanya sibuk meliput dan memproduksi berita, tetapi juga mulai mendokumentasikan perjalanan profesinya melalui karya buku.

Sebab, setiap wartawan sesungguhnya memiliki cerita yang berharga. Ada peristiwa besar yang pernah diliput, tokoh-tokoh yang ditemui, pengalaman di lapangan, dinamika ruang redaksi, tantangan menjaga independensi, hingga perubahan dunia pers dari masa ke masa.

Seluruh pengalaman tersebut merupakan bagian dari sejarah jurnalistik yang layak dicatat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Perjalanan seorang wartawan tidak seharusnya berakhir sebagai kenangan pribadi. Ketika dituangkan menjadi sebuah buku, pengalaman itu dapat menjadi sumber pengetahuan, inspirasi, sekaligus referensi bagi mereka yang ingin memahami dunia jurnalistik lebih dalam.

Buku Jumar sekaligus memperlihatkan bahwa perjalanan menuju keberhasilan membutuhkan ketekunan, integritas, pendidikan, dan kemampuan beradaptasi. Karier boleh membawa seorang wartawan hingga ke Istana Kepresidenan, tetapi prinsip dan integritaslah yang menentukan kualitas dirinya sebagai jurnalis.

Melalui kegiatan ini, PWI Jaya tidak hanya menghadirkan ruang apresiasi terhadap karya literasi, tetapi juga membuka ruang tumbuhnya tradisi menulis buku di kalangan wartawan.

Pada akhirnya, setiap wartawan memiliki kisah yang layak diceritakan. Setiap perjalanan menyimpan pelajaran, dan setiap pengalaman mempunyai nilai sejarah.

Sebab, berita mungkin hanya dibaca dalam hitungan menit, tetapi sebuah buku dapat menjaga pengalaman dan pemikiran tetap hidup jauh melampaui masa pengabdian penulisnya.

Setiap wartawan punya cerita. Setiap perjalanan menyimpan pelajaran. Dan setiap cerita layak dituliskan agar tidak hilang ditelan waktu.

(Helmi AR)

Berita Terkait

Buku Autobiografi Jumar Sudiyana, Mantan Operator Telepon yang Menjadi Wartawan Istana
Camat Matraman Sambut Pokja PWI Wali Kota Jaktim, Kolaborasi Media dan Pemerintah Diperkuat
OKK PWI Jaya Diikuti 29 Peserta, Kesit Budi Handoyo Tekankan Kemampuan Menulis Wartawan
Komisi Pendataan Dewan Pers Terima Kunjungan PWI Murung Raya
Gedung Sekolah Makin Modern, Arifin Minta Siswa SDN Petojo Utara 01 Jaga Fasilitas
UKW Jadi Gerbang Keanggotaan, PWI Jaya Siapkan OKK Angkatan ke-25
PWI Jaya Gelar OKK pada 26 Oktober 2026, Biaya Pendaftaran Rp500 Ribu
Wali Kota Jakpus, Arifin: Tantangan Wartawan Kini Makin Besar di Tengah Derasnya Informasi Medsos
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 05:37 WIB

Jumar dan Perjalanan 25 Tahun di Radio Sonora: Tentang Dedikasi, Integritas, dan Independensi

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 00:10 WIB

Buku Autobiografi Jumar Sudiyana, Mantan Operator Telepon yang Menjadi Wartawan Istana

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:27 WIB

Camat Matraman Sambut Pokja PWI Wali Kota Jaktim, Kolaborasi Media dan Pemerintah Diperkuat

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:21 WIB

OKK PWI Jaya Diikuti 29 Peserta, Kesit Budi Handoyo Tekankan Kemampuan Menulis Wartawan

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:15 WIB

Komisi Pendataan Dewan Pers Terima Kunjungan PWI Murung Raya

Berita Terbaru