BANTEN– Gelaran akbar tahunan Festival Silaturahmi Jawara lan Ulama (SIJALU) memasuki edisi ke-10 dan kembali menjadi pusat perhatian masyarakat Banten serta tokoh-tokoh nasional. Acara yang digelar di Gedung Pusdiklat LPK dan SMK Gyokai Indonesia Kompeten, Kompleks Perumahan Pesona Wibawa Praja, Desa Jeungjing, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, ini berlangsung selama dua hari penuh dengan rangkaian kegiatan budaya, spiritual, dan kebangsaan.
Festival SIJALU yang telah menjadi agenda rutin setiap tahun, sejak awal digagas sebagai wadah silaturahmi para jawara, ulama, kyai, serta tokoh budaya. Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, perhelatan ke-10 kali ini tampil lebih megah dengan dukungan dari sejumlah lembaga besar nasional seperti Lemhanas RI, IKABNAS Angkatan 219, Gyokai Indonesia, Kesti TTKDH, Pancer Sanghyang Djati, GPSN, hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kehadiran dukungan ini memperkuat posisi SIJALU sebagai panggung kebudayaan sekaligus penguat persatuan bangsa.
Acara yang digelar sejak Sabtu (30/8/2025) ini dihadiri ribuan peserta dari berbagai daerah di Banten maupun luar provinsi. Para tokoh seni budaya, jawara dari berbagai padepokan, hingga ulama dan kyai besar nasional hadir untuk memberikan warna tersendiri.
Pementasan kesenian lokal, doa bersama, serta forum kebudayaan menjadi rangkaian utama yang menegaskan pentingnya menjaga warisan leluhur sekaligus memperkuat semangat kebangsaan.
“Festival SIJALU bukan hanya sekadar hiburan budaya. Ini adalah momentum silaturahmi, penguatan nilai-nilai kejawaraan, dan kebangsaan yang harus terus dilestarikan,” ujar salah satu tokoh penyelenggara.
Menariknya, Festival SIJALU ke-10 ini juga menghadirkan dimensi baru berupa pelayanan hukum gratis bagi masyarakat.
Senior Partner Kantor Hukum Akhyari Hendri & Partners, Hendri Yudi, S.H., M.H., bersama timnya memberikan konsultasi hukum terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan pendampingan.
“Kami ingin Festival ini bukan hanya menghadirkan nilai budaya, tapi juga memberi manfaat nyata kepada masyarakat, salah satunya melalui layanan bantuan hukum,” ungkap Hendri Yudi.

Dalam kesempatan tersebut, Hendri Yudi didampingi rekan timnya, antara lain Mukisn, S.H. (Senior Partner), Aisyah (Paralegal), serta Fawl (Staff Magang). Kehadiran tim hukum ini menjadi bentuk nyata sinergi antara pelestarian budaya dan pemenuhan kebutuhan sosial masyarakat.
Sebagai penanda perjalanan satu dekade, panitia memastikan bahwa gelaran tahun ini bukan hanya seremonial, tetapi juga momentum refleksi atas keberlangsungan budaya lokal di tengah arus modernisasi.
Dukungan lembaga-lembaga nasional memberi sinyal kuat bahwa pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan pembangunan bangsa.
Festival yang berlangsung hingga Minggu malam ini diproyeksikan menjadi salah satu yang terbesar sepanjang sejarah penyelenggaraan SIJALU.
Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga mempertegas identitas Banten sebagai salah satu pusat kebudayaan dan spiritualitas di Indonesia.