JAKARTA – Tahun 2026 diproyeksikan tetap menjadi tahun penuh kewaspadaan bagi Indonesia. Selain ancaman banjir yang masih mendominasi berbagai wilayah, potensi bencana lain seperti kebakaran, gempa bumi, dan longsor juga dinilai perlu mendapat perhatian serius.
Hal tersebut disampaikan spiritualis asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Nyai Nova, dalam keterangannya kepada awak media di kediamannya di kawasan Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (21/1/2026).
Menurut Nyai Nova, secara spiritual tahun 2026 dipandang sebagai tahun dengan unsur api dan berada dalam naungan shio Kuda, yang menurut keyakinannya identik dengan energi kuat, pergerakan cepat, namun juga berpotensi memicu ketidakseimbangan alam bila tidak diantisipasi dengan bijak.
“Kalau saya lihat secara spiritual, banjir masih akan menjadi yang utama. Tapi yang perlu diwaspadai berikutnya adalah gempa, kebakaran, baik kebakaran hutan maupun pemukiman, serta longsor,” ujar Nyai Nova.
Ia menyebutkan periode yang dinilai rawan terjadi peningkatan bencana berada pada bulan Juni hingga Oktober, seiring dengan dinamika cuaca, musim kemarau, dan aktivitas manusia yang meningkat.
Meski demikian, Nyai Nova menegaskan bahwa pandangan tersebut merupakan hasil pembacaan spiritual, bukan kepastian mutlak. Ia mengingatkan bahwa bencana sejatinya tidak hanya dipengaruhi faktor alam, tetapi juga ulah manusia dalam memperlakukan lingkungan.
Dalam konteks ini, pernyataan Nyai Nova sejalan dengan realitas yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Sejumlah daerah di Kalimantan, Sumatera, hingga Jawa dalam beberapa tahun terakhir kerap mengalami banjir berulang, longsor di kawasan lereng, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat musim kemarau.
“Sebagai orang asli Kalimantan Tengah, saya merasakan sendiri. Palangkaraya sekarang juga banjir. Kalimantan Selatan, Barat, sampai Timur pun terdampak. Ini menandakan kondisi hutan dan daerah hulu sudah tidak baik-baik saja,” katanya.
Nyai Nova mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dalam beraktivitas, khususnya saat bepergian ke kawasan rawan bencana seperti lereng gunung, daerah aliran sungai, maupun destinasi wisata alam.
“Minimal kita lebih berhati-hati, banyak berdoa, dan tidak mengabaikan tanda-tanda alam,” ujarnya.
Sementara itu, kepada pemerintah, ia menekankan pentingnya langkah konkret dan berkelanjutan dalam menjaga lingkungan, bukan sekadar program seremonial.
Menurutnya, penanganan banjir harus dimulai dari hal mendasar, seperti normalisasi sungai, pembersihan saluran air, dan pengelolaan drainase perkotaan secara konsisten. Selain itu, pengawasan terhadap aktivitas pertambangan juga dinilai krusial.
“Tambang-tambang liar harus benar-benar diatur. Kalau sudah selesai menambang, harus ada kewajiban menanam kembali. Jangan ditinggal begitu saja,” tegasnya.
Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan adanya pejabat atau tokoh publik yang tersandung masalah atau berpulang pada tahun ini, Nyai Nova memilih bersikap hati-hati. Ia menegaskan bahwa urusan hidup dan mati sepenuhnya berada di tangan Tuhan.
Namun, ia menyebut secara umum bahwa dalam siklus kehidupan, selalu ada kelahiran dan kepergian. Ketika ditanya lebih lanjut, ia mengaku memiliki firasat akan adanya figur laki-laki dari kalangan publik figur atau artis, meski enggan menyebutkan detail.
Di akhir pernyataannya, Nyai Nova menyampaikan pesan moral bagi seluruh elemen bangsa.
“Kita harus mensyukuri alam yang Tuhan berikan. Alam ini sumber kehidupan, bukan sekadar objek eksploitasi. Kalau kita jaga alam, alam juga akan menjaga kita,” tuturnya.
Pandangan spiritual seperti yang disampaikan Nyai Nova menambah sudut pandang reflektif di tengah tantangan kebencanaan yang nyata di Indonesia.
Terlepas dari keyakinan masing-masing, fakta menunjukkan bahwa upaya mitigasi bencana, perlindungan lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi risiko bencana di tahun 2026 dan seterusnya.
Reporter: Fahmy Nurdin
Editor: Fahmy Nurdin




































