JAKARTA – Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah DKI Jakarta dalam beberapa waktu terakhir kembali memicu bencana banjir di Jakarta Timur. Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, menjadi salah satu wilayah terdampak paling serius, khususnya di lingkungan RT 02 RW 07, yang dilanda genangan air hingga hampir satu meter.
Menindaklanjuti keluhan warga, awak media melakukan wawancara langsung dengan Ketua RT 02 RW 07 Kelurahan Cakung Barat, Ahmad Nur, yang akrab disapa Enung, di kediamannya di Jalan Tipar Cakung, Senin malam (26/1/2026).
Ahmad Nur menjelaskan bahwa banjir besar yang terjadi beberapa waktu lalu disebabkan oleh tingginya intensitas hujan yang berlangsung dalam durasi cukup lama, sehingga kapasitas saluran air lingkungan tidak mampu menampung debit air.
“Kemarin memang hujannya cukup ekstrem. Di lingkungan kami, khususnya RW 07, air naik cukup cepat dan menggenangi rumah warga,” ujar Ahmad Nur kepada awak media.
Menurutnya, sedikitnya 50 kepala keluarga (KK) terdampak langsung akibat banjir tersebut. Jika dirata-ratakan, jumlah warga terdampak mencapai sekitar 1000 jiwa, dengan variasi jumlah anggota keluarga antara tiga hingga lima orang per KK.
“Ketinggian air kemarin hampir satu meter, setinggi orang dewasa. Otomatis aktivitas warga lumpuh,” jelasnya.
Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, banjir juga menimbulkan kerugian material. Ahmad Nur menyebut, sejumlah perabotan rumah tangga dan peralatan elektronik milik warga mengalami kerusakan.
“Kalau banjir setinggi itu, risiko kerusakan barang elektronik seperti kulkas dan televisi tidak bisa dihindari,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Nur menyampaikan harapan besar warga kepada pemerintah, khususnya Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, agar segera merealisasikan pembangunan embung sebagai solusi jangka panjang pengendalian banjir di wilayahnya.
“Harapan kami sebagai warga, embung itu segera dibangun. Tujuannya jelas, untuk meminimalisir banjir besar seperti kemarin agar tidak terulang lagi,” tegasnya.
Senada dengan itu, Lusimin (48), Sekretaris RT 02 RW 07 yang juga mewakili suara warga, menilai banjir yang kerap melanda Cakung Barat sudah berada pada level mengkhawatirkan.
“Setiap musim hujan, banjir di Cakung Barat bisa mencapai satu meter lebih. Ini jelas tidak nyaman dan berbahaya bagi warga,” ujar Lusimin.
Ia berharap pemerintah setempat dapat bergerak lebih cepat dan konkret dalam memberikan solusi permanen, bukan hanya penanganan darurat.
“Harapan kami sederhana, supaya warga Cakung Barat bisa merasa aman dan nyaman. Kami mohon anggaran pengadaan embung segera disahkan dan dicairkan, sehingga pembangunan bisa segera terlaksana, khususnya di wilayah RT 02 RW 07,” tambahnya.
Diberitakan sebelumnya, hujan lebat yang mengguyur DKI Jakarta sejak Minggu dini hari (18/1/2026) menyebabkan banjir meluas di wilayah Jakarta Timur. Kelurahan Cakung Barat tercatat sebagai salah satu kawasan terdampak terparah akibat meluapnya Kali Cakung dan Kali Cakung Drain, yang diperparah oleh keterbatasan kapasitas drainase lingkungan.
Genangan air merendam permukiman warga di sedikitnya empat rukun warga, yakni RW 03, RW 06, RW 07, dan RW 08, dengan ketinggian air bervariasi antara 50 sentimeter hingga 120 sentimeter di sejumlah titik terendah.
Lurah Cakung Barat, Yasir Habib Putra, membenarkan kondisi tersebut dan menyebut banjir kali ini terjadi secara cepat dan merata.
“Air naik cukup signifikan. Di beberapa lokasi bahkan setinggi pinggang orang dewasa, sehingga sangat berisiko bagi anak-anak dan lansia,” kata Yasir saat ditemui di lokasi.
Sejumlah jalan lingkungan tidak dapat dilalui kendaraan, akses menuju sekolah, rumah ibadah, dan fasilitas publik terganggu, sementara sebagian warga terpaksa mengungsi demi keselamatan.
Meski tidak ada laporan korban jiwa, banjir ini diperkirakan menimbulkan kerugian material yang cukup besar. Sejumlah rumah warga terendam lebih dari satu meter, menyebabkan perabotan dan peralatan rumah tangga rusak.
Dalam penanganan darurat, pihak Kelurahan Cakung Barat bersama BPBD DKI Jakarta, PPSU, serta unsur terkait langsung turun ke lapangan. Evakuasi warga dilakukan menggunakan perahu karet, dengan prioritas kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan warga yang sedang sakit.
“Kami mendahulukan keselamatan warga. Lansia dan warga dengan kondisi kesehatan tertentu langsung kami evakuasi ke lokasi yang lebih aman,” ujar Yasir.
Pemerintah kelurahan juga mendirikan dapur umum di halaman kantor kelurahan untuk memenuhi kebutuhan logistik para pengungsi. Penyediaan makanan siap saji didukung oleh Baznas Bazis Kota Jakarta Timur serta Suku Dinas Sosial. Petugas kesehatan dari puskesmas setempat turut disiagakan untuk mencegah penyakit pascabanjir.
Berdasarkan pendataan sementara, lebih dari 1.000 jiwa terdampak banjir di Kelurahan Cakung Barat. Rinciannya, sekitar 300 jiwa di RW 03 mengungsi di musala setempat, 300 jiwa di RW 06 mengungsi di Musala At-Taqwa, serta sekitar 600 jiwa di RW 08, dengan sebagian mengungsi di Gereja GBI Kampung Baru.
Di tengah penanganan darurat, warga kembali menegaskan perlunya solusi jangka panjang. Normalisasi kali, perbaikan sistem drainase, serta percepatan pembangunan embung dinilai menjadi langkah mendesak guna mencegah banjir berulang setiap musim hujan.
“Kalau hanya evakuasi dan bantuan, itu sifatnya sementara. Kami butuh solusi permanen supaya banjir tidak terus berulang,” ujar salah satu warga RW 08.
Namun hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi awak media terkait percepatan pembangunan embung kepada Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, belum mendapatkan tanggapan. Pihak Dinas SDA terkesan belum memberikan pernyataan resmi.
Hal serupa juga terjadi pada Komisi D DPRD DKI Jakarta yang membidangi pembangunan, infrastruktur, dan lingkungan hidup. Komisi yang dipimpin Yuke Yurike tersebut belum memberikan keterangan resmi kepada media terkait aspirasi warga Cakung Barat.
Warga Cakung Barat kini berharap, peringatan cuaca tersebut tidak kembali berujung pada bencana serupa, serta diiringi langkah nyata pemerintah dalam menghadirkan solusi permanen bagi kawasan rawan banjir.
Reporter: Fahmy Nurdin
Editor: Fahmy Nurdin




































