JAKARTA – Dewan Adat Nasional Republik Indonesia (DAN-RI) menegaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir secara instan maupun dibangun melalui pencitraan semata.
Menurut DAN-RI, kepemimpinan yang kuat dan berkarakter hanya dapat terbentuk melalui proses panjang yang mencakup gemblengan sejarah, pengalaman jatuh bangun kehidupan, serta pengabdian nyata kepada rakyat dan bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan DAN-RI sebagai refleksi atas dinamika kepemimpinan nasional yang terus berkembang di tengah tantangan zaman, baik di tingkat lokal maupun nasional, Senin (12/1/2026).
DAN-RI berpandangan bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber kepemimpinan yang berakar kuat pada sejarah dan tradisi Nusantara, khususnya dari para ahli waris kerajaan dan kesultanan yang sah dan autentik.
Menurut DAN-RI, para pewaris kerajaan dan kesultanan Nusantara tidak hanya mewarisi garis keturunan atau simbol sejarah, tetapi juga memikul tanggung jawab adat dan kewajiban moral yang telah ditempa oleh perjalanan waktu.
Sejak dini, mereka dibesarkan dalam lingkungan yang menuntut pemahaman mendalam tentang nilai-nilai luhur leluhur, tata kelola kehidupan sosial, serta prinsip kepemimpinan yang mengedepankan keadilan, kebijaksanaan, dan keberpihakan kepada masyarakat.
“Para pemangku adat dan pewaris tradisi Nusantara telah lama digembleng oleh dinamika zaman. Mereka belajar memahami sistem kenegaraan, hukum, budaya, ekonomi, hingga persoalan sosial kemasyarakatan sebagai bagian dari tanggung jawab kepemimpinan,” demikian pandangan DAN-RI dalam keterangannya.
DAN-RI menilai bahwa kekuatan kepemimpinan Indonesia sejatinya terletak pada kemampuan memadukan nilai adat dan tradisi Nusantara dengan sistem negara modern.
Perpaduan tersebut, menurut DAN-RI, harus tetap berlandaskan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kepemimpinan yang berakar pada jati diri bangsa diyakini mampu melahirkan kebijakan yang adil, bijaksana, serta berpihak pada kepentingan rakyat secara luas.
Dalam pandangan DAN-RI, nilai-nilai adat seperti musyawarah, gotong royong, tanggung jawab moral, dan penghormatan terhadap martabat manusia merupakan modal sosial yang relevan dan dibutuhkan dalam menjawab tantangan Indonesia masa kini.
Meski demikian, DAN-RI menegaskan bahwa penguatan nilai adat tidak bertentangan dengan prinsip demokrasi maupun sistem pemerintahan modern. Sebaliknya, nilai-nilai tersebut justru dapat memperkaya praktik demokrasi dengan menghadirkan kepemimpinan yang beretika, berintegritas, dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang bangsa.
Oleh karena itu, DAN-RI terus mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin bangsa yang tidak hanya cakap secara administratif dan politik, tetapi juga memiliki karakter kuat, integritas tinggi, serta berakar pada nilai adat dan budaya Nusantara.
Pemimpin ideal, menurut DAN-RI, adalah mereka yang setia pada amanah rakyat, menghormati nilai luhur leluhur, serta menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
DAN-RI berharap, ke depan, proses kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan nasional dapat lebih memperhatikan dimensi karakter, moral, dan kebudayaan, sehingga Indonesia tidak hanya memiliki pemimpin yang kuat secara struktural, tetapi juga kokoh secara nilai dan jati diri bangsa.
Reporter: Fahmy Nurdin
Editor: Fahmy Nurdin
Sumber: Humas DAN-RI




































