DEPOK – Di balik hiruk-pikuk Margonda Raya yang tak pernah benar-benar tidur, terselip kisah sunyi tentang ketahanan hidup seorang anak perempuan. Pantauan okjakarta.com, Sabtu (24/1/2026), menangkap pemandangan yang menyentuh nurani, seorang remaja perempuan bersandar lelah di sudut tembok pintu keluar SPBU Margonda, ditemani dua adiknya yang masih balita, terlelap di lantai keras beralas seadanya.
Remaja itu bernama Laras (16), siswi kelas IX/3 SMP melalui sekolah paket di PKBM Cahaya Utama. Di sampingnya, Syaid (4) dan Niken (3) tertidur pulas, seolah kebisingan kendaraan tak lagi berarti. Ironisnya, tepat di belakang tempat mereka beristirahat, tampak tumpukan sampah yang tak semestinya berada di area publik tersebut.
Kepada okjakarta.com, Laras mengaku sedang menunggu ayahnya, Ari (sekitar 52 tahun), yang sejak sore mencari botol bekas di sekitar Stasiun Universitas Indonesia. Ibunya, Dian (36), juga melakukan pekerjaan serupa. Aktivitas memulung botol plastik telah menjadi denyut kehidupan keluarga itu sejak Laras lahir.
“Kami sudah tinggal di Kampung Lio, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, dari aku kecil. Orang tua aku dari dulu nyari botol bekas,” ujar Laras lirih.
Laras merupakan anak sulung dari enam bersaudara. Selain Syaid dan Niken, ia memiliki adik Tian (14), Ibra (12), serta Jenar, bayi yang baru berusia satu minggu. Tian dan Ibra, seperti Laras, juga mengikuti pendidikan sekolah paket. Menurut Laras, sekolah formal sulit dijalani karena kebutuhan keluarga mendesak.
“Kalau sekolah biasa, kami nggak bisa bantu orang tua. Kalau paket, masih bisa bantu cari jajan juga,” katanya.
Setiap hari, mulai sekitar pukul 16.00 hingga 20.00 WIB, Laras berada di sekitar SPBU Margonda. Ia berjalan hingga lampu merah Juanda untuk mencari botol bekas, lalu menunggu ayahnya di pintu keluar SPBU. Biasanya, Ari menjemputnya setelah salat Isya.
Penghasilan keluarga ini jauh dari kata pasti. Dalam sepekan, hasil penjualan botol bekas berkisar Rp300.000 hingga Rp600.000, itu pun langsung dialokasikan untuk membayar kontrakan Rp700.000 per bulan, sebuah petak sederhana dengan kamar mandi di dalam.
“Kadang bapak kalau ada panggilan servis TV, ya kerja itu. Kalau nggak ada, baru nyari botol,” tutur Laras.
Dengan kondisi tersebut, kebutuhan dasar sering kali harus dikorbankan. Laras mengaku hanya makan sekali sehari, demi memastikan adik-adiknya tidak kelaparan.
“Aku lebih milih adik makan. Kalau aku nggak bantu orang tua, adik-adik kasihan,” katanya, menahan air mata.
Di tengah keterbatasan, Laras tetap menyimpan mimpi. Ia bercita-cita menjadi pramugari, bukan untuk gaya hidup, melainkan agar bisa membantu keluarganya keluar dari lingkaran kemiskinan.
“Aku pengen banget kerja, tapi belum punya KTP. Kalau nanti selesai sekolah, aku mau cari kerja. Harapan aku hidup lebih baik ke depannya,” ujarnya pelan.
Kisah Laras bukan sekadar cerita tentang kemiskinan, melainkan cermin tentang ketimpangan sosial di kota penyangga ibu kota. Di saat pembangunan terus bergulir dan wajah kota terus dipercantik, masih ada anak-anak yang mengorbankan masa remajanya demi bertahan hidup.
Potret ini menjadi pengingat bahwa persoalan kemiskinan perkotaan bukan sekadar angka statistik, melainkan tentang manusia, anak-anak, dan masa depan yang menunggu uluran tangan kebijakan serta kepedulian bersama.
Reporter: Fahmy Nurdin
Editor: Fahmy Nurdin




































