Pemilik Saung Intan Curhat: Omzet Lumayan tapi Beban Sewa & Biaya Tinggi Harap Pemerataan, Ini Kisahnya

- Jurnalis

Sabtu, 6 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Idris bersama Istri, pemilik “Saung Intan”, sebuah warung kuliner di lantai 3A nomor 30 zona kuning di Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur. (Dok-Okj/FN)

Foto: Idris bersama Istri, pemilik “Saung Intan”, sebuah warung kuliner di lantai 3A nomor 30 zona kuning di Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur. (Dok-Okj/FN)

JAKARTA – Idris (46), pemilik “Saung Intan”, sebuah warung kuliner di lantai 3A nomor 30 zona kuning di Pusat Grosir Cililitan (PGC) mengungkap kisah usaha dan pergulatan nyata pelaku UMKM kuliner di ibu kota, pada Sabtu (6/12/2025).

Idris, yang berasal dari Serdang Bedagai, Medan, Sumatera Utara, dan telah “beranak-pinak” di Jakarta sejak era 1990-an memilih berjualan di Pusat Grosir Cililitan ini karena menurutnya “asetnya ramai, pengunjung banyak, jadi banyak peluang”.

Menurut Idris, Saung Intan menawarkan masakan kelas menengah: ayam bakar, ayam penyet, nasi goreng seafood, kwetiau, ayam geprek dan lainnya. Menu terpopuler adalah paket asam manis dan ayam bakar/penyet, yang menurutnya “selalu ramai” ketika pengunjung datang, terutama di pagi sampai siang sebelum makan utama.

Namun di balik keramaian itu, Idris menyayangkan biaya operasional dan sewa yang menurutnya “berat”. “Service tasnya ini gede bisa 3 juta ke atas, listrik dan airnya itu bisa 3 juta ke atas,” ujarnya. Artinya, keuntungan yang dirasakan tidak sebanding kalau dibanding biaya tetap, terutama di hari biasa. Hanya pada Sabtu–Minggu, omzet bisa “lumayan”.

Suka Duka Usaha – Antara Ramai dan Beban Operasional

Idris menjelaskan, suka dari usaha ini jelas: pengunjung ramai, rasa dan pelayanan, “ramah-tamah, sopan, santun”, serta cita rasa khas warungnya menjadi daya tarik utama. Ia menekankan bahwa kelezatan makanan saja tidak cukup; pelayanan dengan “ikhlas” menjadi bagian dari daya saing mereka. Ia merasa, pelanggan kembali bukan sekadar karena rasa, tapi juga keramahan dan konsistensi pelayanan.

Namun duka utamanya justru pada beban tetap: biaya listrik & air yang tinggi, service charge/sewa kios, serta pendapatan yang fluktuatif. “Kalau dari Senin sampai Jumat itu belum tentu dapat penghasilan kita berharap Sabtu–Minggu”, katanya.

Harapan ke Depan: Perbaikan Sewa, Peluang Ekspansi – hingga Luar Negeri

Ke depan, Idris berharap pengelola lokasi warung baik manajemen pusat grosir bisa menurunkan “service charge / sewa kios”. Ia merasa bahwa tarif sekarang tidak sebanding dengan pengunjung dan pendapatan. Ia menekankan bahwa banyak pengunjung datang, sehingga seharusnya beban bagi pedagang tidak dibebankan secara tidak adil.

Selain itu, ia punya impian besar: membuka cabang usaha kuliner “Saung Intan” di luar Indonesia, khususnya di Malaysia. Ia memilih kuliner karena menurutnya makanan adalah kebutuhan pokok manusia, sehingga bidang ini “tidak akan pernah runtuh” selama manusia butuh makan.

Mengapa Pemilihan Usaha Kuliner dan Apa yang Membuat Warungnya Bertahan

Idris menyatakan bahwa ia tidak punya latar belakang khusus di bidang restoran atau kuliner, bukan “turunan pedagang” kuliner ataupun pernah bekerja di perusahaan besar. Yang penting baginya: “dikasih resep, dijalankan, dengan pelayanan dan cita rasa yang konsisten”. Ia percaya bahwa dengan pelayanan sopan, keramahan, dan rasa makanan yang enak, pelanggan akan terus datang.

Menurutnya, “yang membedakan” Saung Intan dari warung lain adalah kombinasi rasa enak + pelayanan ramah + konsistensi. Penyajian “sambal / bumbu kuncian” sendiri, menurut Idris, menjadi ciri khas sesuatu yang sulit ditemukan di tempat lain.

Kritik & Pesan ke Pengelola – Agar Usaha UMKM Tidak Tercekik

Idris punya pesan tegas kepada pengelola pusat grosir/pasar tempatnya berjualan: turunkan biaya sewa / service charge. Dengan biaya tinggi, pedagang seperti ia sulit mendapatkan keuntungan yang layak, apalagi jika harus mengandalkan omzet hanya pada akhir pekan.

Ia berharap pengelola memahami kondisi pedagang kecil-menengah seperti dirinya, bahwa bagi mereka, warung bukan sekadar bisnis, melainkan cara hidup dan mencari nafkah. Jika beban terus besar, banyak pedagang bisa terancam berhenti, meski pengunjung banyak.

Mengapa Kisah Ini Relevan: Gambaran Masalah UMKM & Sewa Kios di Jakarta

Kisah Idris bukanlah kasus tunggal. Baru-baru ini, beberapa pusat kuliner / mal di Jakarta menghadapi gejolak karena kenaikan tarif sewa kios yang dianggap “memberatkan” yang bahkan menyebabkan banyak pedagang memilih hengkang.

Contoh paling terkini: di Plaza 2 Blok M, pusat kuliner/ritel di Jakarta Selatan, sejumlah pedagang UMKM ramai-ramai keluar setelah tarif sewa dianggap melonjak sangat tinggi.

Pemerintah (melalui Dinas PPKUKM DKI Jakarta) bahkan menemukan praktik penyalahgunaan izin kios di pasar lain, Pasar Barito, di mana puluhan kios dikuasai oleh segelintir pedagang besar dan kemudian disewakan kembali ke pedagang kecil, memperlihatkan ketidakadilan distribusi tempat berjualan.

Ini menunjukkan bahwa pedagang kecil/kuliner seperti Saung Intan berada dalam posisi rentan antara harapan omzet dari pengunjung, dan beban sewa/biaya operasional yang bisa saja melampaui pendapatan.

Penutup – Suara Pedagang Kecil yang Perlu Didengar

Melalui cerita Idris, kita memperoleh pandangan langsung dari pelaku usaha kuliner “kaki lima / warung kecil-menengah” di Jakarta, yang berusaha bertahan dengan modal sederhana: rasa, keramahan, dan harapan. Namun realitas keras: biaya tetap tinggi, fluktuasi omzet, dan ketidakpastian masa depan.

Kasus ini mengingatkan bahwa kebijakan sewa kios, tarif service charge, serta regulasi pengelolaan pusat grosir / pasar perlu memperhatikan keseimbangan antara hak pedagang kecil dan kepentingan pengelola, agar UMKM bisa terus hidup, berkembang, dan memberi pelayanan ke konsumen tanpa terbebani biaya tak masuk akal.

Reporter: Fahmy Nurdin

Editor Fahmy Nurdin

Berita Terkait

Harmoni Imlek Nusantara Meriahkan Tahun Baru Imlek di Jantung Jakarta
Sengketa Lahan Kunciran Jaya Memanas, Ahli Waris Laporkan Dugaan Penyerobotan 2.300 Meter ke Polda Metro Jaya
Macet di Jalur Priok, Pengguna Tol Desak Solusi Pemerintah
Ancol Ucapkan Selamat HPN 2026, Tegaskan Pers sebagai Pilar Demokrasi
Pelayanan Samsat Jakarta Timur Tuai Apresiasi Warga, Proses Perpanjangan STNK Dinilai Cepat dan Transparan
Saluran Tersumbat Sampah, Banjir Berulang Hantui Gang Damai Pulo Gebang
Aparat Akui Keliru Tangkap Pedagang Es Gabus, Hasil Uji Laboratorium Pastikan Produk Aman Dikonsumsi
Polemik Sinking Fund dan Service Charge di PGC, Relawan Tegak Lurus Prabowo Pertanyakan Transparansi Pengelolaan
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Senin, 16 Februari 2026 - 23:43 WIB

Harmoni Imlek Nusantara Meriahkan Tahun Baru Imlek di Jantung Jakarta

Senin, 16 Februari 2026 - 17:34 WIB

Sengketa Lahan Kunciran Jaya Memanas, Ahli Waris Laporkan Dugaan Penyerobotan 2.300 Meter ke Polda Metro Jaya

Kamis, 12 Februari 2026 - 23:58 WIB

Macet di Jalur Priok, Pengguna Tol Desak Solusi Pemerintah

Senin, 9 Februari 2026 - 18:26 WIB

Ancol Ucapkan Selamat HPN 2026, Tegaskan Pers sebagai Pilar Demokrasi

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:30 WIB

Pelayanan Samsat Jakarta Timur Tuai Apresiasi Warga, Proses Perpanjangan STNK Dinilai Cepat dan Transparan

Berita Terbaru

Foto Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi DKI Jakarta, Muhamad Matsani, memberikan keterangan terkait proses rekrutmen Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) yang disebut telah dilaksanakan sesuai regulasi dan kebutuhan wilayah, Senin (16/2/2026).

News Metropolitan

Kesbangpol DKI: FKDM Strategis untuk Deteksi Ancaman Wilayah

Senin, 16 Feb 2026 - 17:30 WIB