Jakarta — Kementerian Kebudayaan RI menyiapkan peta jalan pengembangan ekosistem musik nasional dengan memberi perhatian khusus pada kawasan Indonesia Timur. Langkah tersebut dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) Peta Jalan Ekosistem Musik Indonesia Timur yang digelar di Jakarta, Rabu (29/1).
FGD tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ekosistem kebudayaan nasional, sekaligus memastikan musik daerah memperoleh ruang yang setara untuk tumbuh, berdaya saing, dan berkontribusi terhadap identitas serta ekonomi budaya Indonesia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, berkembangnya musik Indonesia Timur yang belakangan banyak mendapat perhatian publik merupakan sinyal positif bagi kemajuan musik nasional. Fenomena viralnya lagu-lagu daerah dinilai menunjukkan kuatnya daya tarik musik berbasis kearifan lokal.
Banyak musik Indonesia Timur yang viral, seperti lagu Tabola-Bale. Ini fenomena menarik yang patut kita apresiasi. Kementerian Kebudayaan siap mendorong dan memfasilitasi terciptanya ekosistem musik yang kuat,” ujar Fadli dalam sambutannya.
Menurutnya, keberhasilan musik Indonesia Timur menembus pasar nasional hingga internasional tidak terlepas dari kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam. Modal budaya tersebut dinilai menjadi kekuatan utama dalam melahirkan karya-karya musik yang unik dan berdaya saing.
“Indonesia adalah negara mega diversity dengan kekayaan budaya yang luar biasa.
Ini menjadi fondasi kuat bagi perkembangan musik nasional,” kata Fadli.
Sebagai bentuk komitmen, Kementerian Kebudayaan terus mendorong penguatan ekosistem musik melalui berbagai program, salah satunya Konferensi Musik Indonesia (KMI) yang mencakup diskusi, pameran, seminar, hingga music market untuk membuka peluang kolaborasi dan perluasan pasar bagi musisi Tanah Air.
Selain musik, Fadli juga menyoroti pentingnya pengembangan ekosistem drama musikal sebagai bagian dari industri kreatif berbasis budaya. Ia berharap musisi Indonesia Timur dapat tampil lebih luas, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di panggung global.
Kita harap musisi Indonesia Timur bisa muncul dan dikenal di dunia,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menegaskan sektor musik menjadi salah satu prioritas utama kementeriannya. Musik dinilai memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai ekspresi budaya, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi kreatif dan identitas bangsa.
Kami ingin mendengar langsung masukan dari para musisi sebagai bahan perumusan kebijakan ke depan,” kata Giring.
Dalam sesi diskusi, sejumlah musisi Indonesia Timur menyampaikan pandangan dan rekomendasi terkait penguatan ekosistem musik daerah. Musisi asal Gorontalo, Echo Show, menilai perlu adanya “rumah” bagi musik Indonesia Timur, khususnya dalam pengelompokan dan pengakuan genre musik.
Kita mungkin perlu memiliki rumah bagi musik Timur, khususnya dalam hal genre,” ujarnya.
Musisi asal Ambon, Hany Patikawa, juga mengusulkan adanya malam penganugerahan khusus bagi musisi Indonesia Timur dengan identitas tersendiri, termasuk pengakuan genre musik yang lebih jelas.
Menanggapi hal tersebut, Giring menegaskan negara hadir sebagai fasilitator dan siap mengikuti kesepakatan para musisi dalam penguatan ekosistem musik, termasuk pembentukan atau pengakuan genre baru.
“Teman-teman musisi punya ruang untuk membentuk genre baru karena sudah memiliki ekosistem dan penggemarnya sendiri, apalagi dengan dukungan media digital,” ujar Giring.
FGD ini menjadi langkah awal membangun kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, pelaku industri, musisi, dan masyarakat dalam merumuskan peta jalan pengembangan ekosistem musik Indonesia Timur yang komprehensif, aplikatif, dan berkelanjutan.




































