KPK Dalami Dugaan Aliran Suap Proyek Kereta Api ke Sejumlah Anggota DPR Komisi V

- Jurnalis

Kamis, 22 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Gedung KPK. (Dok-Antara)

Foto: Gedung KPK. (Dok-Antara)

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus memperluas penyidikan kasus dugaan suap proyek pembangunan jalur kereta api di lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan. Selain menetapkan Bupati Pati nonaktif Sudewo sebagai tersangka, KPK kini menelusuri kemungkinan adanya aliran dana kepada anggota DPR RI lainnya, khususnya yang bertugas di Komisi V.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menegaskan, penyidik masih mendalami fakta-fakta yang muncul dalam persidangan untuk memastikan apakah terdapat keterlibatan pihak lain, termasuk anggota legislatif.

“Apakah juga ada dugaan aliran-aliran uang lainnya kepada para anggota Dewan di Komisi V lainnya, itu tentu masih akan terus kami telusuri,” kata Budi kepada awak media di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis (22/1/2026).

Terkait munculnya nama 19 anggota DPR RI dalam fakta persidangan perkara tersebut, Budi menyatakan KPK belum dapat serta-merta menetapkan tersangka baru. Menurutnya, setiap penetapan status hukum harus didasarkan pada kecukupan alat bukti yang sah.

“Kami masih melihat perkembangan perkara. Apakah fakta-fakta persidangan itu dapat menjadi bukti baru atau bukti tambahan untuk pengembangan penyidikan, tentu akan kami kaji secara mendalam,” ujarnya.

Adapun 19 anggota DPR RI yang namanya disebut dalam fakta persidangan antara lain Lasarus, Ridwan Bae, Hamka Baco Kady, Sudewo, Novita Wijayanti, Sumail Abdullah, Ali Mufthi, Ishak Mekki, Lasmi Indaryani, Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, Sofyan Ali, Mochamad Herviano Widyatama, Sukur H Nababan, Sudjadi, Sadarestuwati, Sri Rahayu, Sarce Bandaso Tandiasik, Fadholi, dan Sri Wahyuni, yang berasal dari berbagai fraksi partai politik.

Sebelumnya, KPK telah menjelaskan dasar penetapan Sudewo sebagai tersangka. Sudewo diduga menerima aliran uang dari sejumlah proyek perkeretaapian di DJKA saat masih menjabat sebagai anggota Komisi V DPR RI.

“Yang bersangkutan diduga menerima aliran sejumlah uang dari proyek di DJKA,” kata Budi Prasetyo saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (21/1/2026).

Dalam perkara ini, posisi Sudewo sebagai anggota Komisi V dinilai strategis karena komisi tersebut memiliki fungsi pengawasan serta kemitraan kerja dengan Kementerian Perhubungan.

“Dalam perkara DJKA, kapasitas Saudara SDW adalah selaku anggota Komisi V DPR RI, dengan salah satu mitra kerja yang diawasi adalah Kementerian Perhubungan,” jelas Budi.

Selain Sudewo, dokumen putusan pengadilan dan fakta persidangan yang telah berkekuatan hukum tetap juga mengungkap peran dua pimpinan Komisi V DPR RI, yakni Lasarus dan Ridwan Bae. Fakta tersebut terungkap dari kesaksian pejabat Kemenhub, Harno Trimadi, yang disampaikan di bawah sumpah.

Dalam persidangan, Harno mengungkap adanya arahan terkait proyek pengadaan Rel R54 di Wilayah Jawa Tengah senilai Rp82,1 miliar. Proyek tersebut disebut diarahkan agar dikerjakan oleh rekanan tertentu yang dikaitkan dengan Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus.

Harno bersaksi bahwa dirinya didatangi Ivan Soegiarto dari PT Gumaya Anggun, yang mengaku mendapatkan dukungan Lasarus untuk mengerjakan proyek tersebut. Dalam kesaksian itu, disebutkan adanya permintaan fee sebesar 10 persen dari nilai kontrak.

Namun, angka tersebut dinilai terlalu besar. Harno menyatakan sempat menyampaikan keberatan dan menawarkan batas maksimal 5 persen. Jika tidak disepakati, proyek dipersilakan untuk tidak dilanjutkan.

Ivan Soegiarto kemudian menyatakan kesediaannya untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Lasarus terkait besaran fee tersebut.

Sementara itu, untuk Ridwan Bae, fakta persidangan mengungkap adanya penitipan kepentingan dalam proyek di wilayah Arjawinangun. Awalnya, dua perusahaan diajukan namun ditolak karena masuk dalam daftar hitam. Proyek akhirnya dimenangkan oleh PT Hapsaka Mas milik Muhammad Hikmat dengan catatan harus mengakomodasi kepentingan pihak tertentu.

Dalam kesaksiannya, disebutkan bahwa seorang bernama Ence bertindak sebagai perantara. Ketika ditanya apakah ingin terlibat langsung dalam proyek atau hanya menerima imbalan, Ence memilih uang tunai. Selanjutnya, diserahkan fee sebesar 2,5 persen dari nilai kontrak atau sekitar Rp1 miliar yang diduga diperuntukkan bagi Ridwan Bae.

Meski demikian, KPK menegaskan bahwa seluruh nama yang disebut dalam persidangan masih berstatus sebagai pihak yang disebut dalam fakta hukum, dan belum tentu memiliki pertanggungjawaban pidana sebelum adanya penetapan resmi sebagai tersangka.

KPK memastikan akan menangani perkara ini secara profesional, transparan, dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku, sembari mengingatkan publik agar tetap menghormati asas praduga tak bersalah.

Reporter: Fahmy Nurdin

Editor: Fahmy Nurdin

Berita Terkait

“Lima Tahun Terpisah, Lapas Cianjur Fasilitasi Pertemuan Warga Binaan dengan Keluarga Lansia”
Video Antrean BBM Picu Polemik, Bhatara Buka Suara dan Siapkan Langkah Hukum
Sengketa Toyota Innova Berlarut, Konsumen Soroti Dugaan Cacat Kemudi dan Proses Pembuktian di Pengadilan
BNN Temukan 98 Persen Sampel Cairan Vape Mengandung Zat Berbahaya
Kodaeral IV dan Satgas BAIS TNI Gagalkan Dugaan Keberangkatan Ilegal WNA Vietnam
Jabatan Kepala DLH Labuhanbatu Jadi Sorotan, GARANSI Minta Transparansi Hasil Pemeriksaan
Prabowo Perintahkan Usut Tuntas Karhutla, Korporasi Pelanggar Terancam Dicabut Izinnya
Putus Mata Rantai Narkoba, Kapolda Metro Jaya Tekankan Sinergi Polisi, Pemda dan Warga
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 23:34 WIB

“Lima Tahun Terpisah, Lapas Cianjur Fasilitasi Pertemuan Warga Binaan dengan Keluarga Lansia”

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:46 WIB

Video Antrean BBM Picu Polemik, Bhatara Buka Suara dan Siapkan Langkah Hukum

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 18:51 WIB

Sengketa Toyota Innova Berlarut, Konsumen Soroti Dugaan Cacat Kemudi dan Proses Pembuktian di Pengadilan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 09:51 WIB

BNN Temukan 98 Persen Sampel Cairan Vape Mengandung Zat Berbahaya

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:59 WIB

Kodaeral IV dan Satgas BAIS TNI Gagalkan Dugaan Keberangkatan Ilegal WNA Vietnam

Berita Terbaru