JAKARTA – Lembaga Survei KedaiKOPI merilis laporan hasil riset kualitatif bertajuk Eksplorasi Kriteria Pemimpin Ideal Nasional pada Selasa (13/1/2026). Riset tersebut memotret gambaran pemimpin ideal yang diharapkan masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang.
Penelitian dilakukan melalui metode Focus Group Discussion (FGD) pada 2–3 Desember 2025 dengan melibatkan 30 responden, mulai dari akademisi, aktivis NGO, mahasiswa, jurnalis, ibu rumah tangga, pengemudi ojek online, pedagang, pengusaha, ketua RT, hingga guru. Komposisi responden terdiri dari 73,3 persen laki-laki dan 26,7 persen perempuan.
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI Hendri Satrio mengatakan riset ini bertujuan memberikan gambaran kepada elit politik dan calon pemimpin mengenai kriteria kepemimpinan yang diinginkan masyarakat.
Riset ini untuk menginformasikan kepada elit politik, kepada calon pemimpin tentang kriteria, kategori, dan kompetensi pemimpin yang diinginkan oleh masyarakat di Indonesia,” kata Hendri Satrio atau Hensa kepada wartawan.
Menurut Hensa, riset tersebut juga ditujukan kepada masyarakat agar memiliki referensi dalam menentukan pilihan pemimpin ke depan.
“Jadi hari ini kita tidak bicara tentang siapa atau nama. Kita ingin menyampaikan kepada rakyat Indonesia, dari hasil FGD ini, pemimpin ideal itu seperti apa, dari sisi karakter, kriteria, kategori, dan isu yang dibawa,” ujarnya.
Sejumlah tokoh turut merespons temuan riset tersebut. Rektor Institut Harkat Negeri Sudirman Said menyebut ada empat kriteria utama yang konsisten muncul dalam menentukan pemimpin ideal, yakni integritas, kompetensi, inspiratif, serta memiliki visi lingkungan dan masa depan yang luas.
Semakin jujur lingkungan yang diurus, semakin tinggi integritas yang dibutuhkan. Riset ini seperti menjadi justifikasi dari apa yang saya sampaikan,” kata Sudirman.
Ia juga menilai perbedaan persepsi antara kelompok elit dan non-elit dalam menentukan pemimpin ideal merupakan hal yang wajar.
Elite cenderung fokus pada hulu seperti tata kelola pemerintahan, sementara non-elite lebih fokus pada aspek hilir yang nyata dan langsung dirasakan,” ujarnya.
Peneliti BRIN Prof. R. Siti Zuhro menilai dinamika rekrutmen kepemimpinan nasional saat ini tidak berjalan mulus.
Kita merasakan adanya dinamika suksesi kepemimpinan yang tidak mulus, baik nasional maupun daerah. Padahal negara ini luas, tetapi ketika Pilpres seperti tidak ada pilihan,” kata Siti Zuhro.
Ia berharap eksplorasi kepemimpinan melalui riset seperti ini dapat membuka ruang bagi munculnya pemimpin-pemimpin baru yang lebih ideal.
Pakar Hukum Tata Negara Feri Amsari menilai hasil survei KedaiKOPI tidak jauh berbeda dengan harapan publik sejak lama.
“Riset ini memvalidasi keinginan masyarakat terhadap pemimpin yang ideal yang sebenarnya sudah lama ada,” kata Feri.
Sementara itu, Ekonom dari Aliansi Ekonom Indonesia Talitha Chairunissa menyoroti ketegasan dan respons cepat sebagai karakter penting bagi pemimpin di mata pemilih Indonesia.
“Masyarakat Indonesia sangat menyukai pemimpin yang tegas,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan adanya potensi trade-off dalam proses pencarian pemimpin ideal.
Ketika ketegasan itu mengorbankan moralitas, misalnya menganggap ketidakjujuran sebagai hal yang bisa ditoleransi, itu justru berbahaya,” katanya.
Dalam laporannya, KedaiKOPI juga mencatat adanya perbedaan preferensi antara kelompok elit dan non-elit. Kelompok elit cenderung menilai pemimpin ideal dari visi besar, kecakapan strategis, dan tata kelola berbasis data. Sementara kelompok non-elit lebih menekankan empati, kesederhanaan, komunikasi langsung, serta respons cepat terhadap krisis.
Meski memiliki perbedaan pandangan, kedua kelompok sepakat bahwa pengalaman, prestasi, dan rekam jejak bebas kontroversi menjadi syarat utama kepemimpinan ideal.




































