Kementerian HAM Jelaskan Arah Revisi UU HAM: Perkuat Fungsi Pengawasan dan Koordinasi

- Jurnalis

Senin, 25 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Moderator Prita Laura bersama sejumlah narasumber dan tenaga ahli Kementerian HAM RI, yakni Iffdhal Kasim, Siti Aminah, Muhammad Hafiz, Feri Kusuma, dan Wahyudi Djafar. (Dok-okj/fn)

Foto: Moderator Prita Laura bersama sejumlah narasumber dan tenaga ahli Kementerian HAM RI, yakni Iffdhal Kasim, Siti Aminah, Muhammad Hafiz, Feri Kusuma, dan Wahyudi Djafar. (Dok-okj/fn)

JAKARTA – Proses uji publik Rancangan Perubahan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) terus bergulir. Dalam talkshow yang digelar Pusat Strategi Hak Asasi Manusia (PSHAM) Kementerian Hak Asasi Manusia RI, para perumus revisi undang-undang menegaskan bahwa perubahan regulasi tersebut bukan untuk melemahkan lembaga-lembaga HAM nasional, melainkan memperkuat fungsi, kewenangan, serta koordinasi antar lembaga pengawas HAM di Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung pada Senin (25/5/2026) itu menghadirkan moderator Prita Laura bersama sejumlah narasumber dan tenaga ahli Kementerian HAM RI, yakni Iffdhal Kasim, Siti Aminah, Muhammad Hafiz, Feri Kusuma, dan Wahyudi Djafar.

Dalam diskusi tersebut, salah satu isu yang paling banyak disorot ialah tudingan bahwa revisi UU HAM berpotensi melemahkan posisi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan lembaga nasional HAM lainnya. Namun, tim perumus menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak tepat.

Tenaga ahli Kementerian HAM RI, Ifdhal Kasim, menjelaskan bahwa rancangan perubahan justru memperkuat fungsi-fungsi utama Komnas HAM, mulai dari fungsi pemantauan, mediasi, pemajuan HAM, hingga penguatan kewenangan dalam menjalankan tugas pengawasan.

“Kalau kita lihat substansi RUU ini, sebenarnya tidak ada yang melemahkan Komnas HAM. Sebaliknya, justru memperkuat kewenangan dan fungsi Komnas HAM agar lebih efektif dalam menjalankan mandatnya,” ujar Ifdhal dalam forum diskusi.

Ia menjelaskan, salah satu penguatan yang diatur dalam rancangan tersebut adalah penambahan kewenangan Komnas HAM untuk melakukan inspeksi mendadak atau kunjungan mendadak ke berbagai tempat penahanan, termasuk rumah tahanan imigrasi, fasilitas penahanan kepolisian, hingga lembaga pemasyarakatan.

Selain itu, kewenangan lain yang diperkuat antara lain hak memanggil secara paksa pihak-pihak tertentu dalam proses penyelidikan, hingga memberikan pendapat hukum di muka persidangan atau amicus curiae.

Menurut Ifdhal, tanpa penguatan kewenangan, lembaga pengawas HAM akan mengalami keterbatasan dalam menjalankan fungsi pengawasan secara efektif.

“Fungsi tidak mungkin berjalan optimal kalau tidak dibarengi dengan kewenangan yang memadai,” katanya.

Ia juga menepis anggapan bahwa pengaturan lebih besar mengenai peran pemerintah dan Kementerian HAM dalam revisi UU tersebut merupakan bentuk pengambilalihan fungsi Komnas HAM.

Menurutnya, posisi Komnas HAM tetap sebagai lembaga independen pengawas pelaksanaan HAM oleh negara dan pemerintah. Sementara pemerintah memiliki kewajiban konstitusional dalam penghormatan, perlindungan, pemajuan, dan pemenuhan HAM.

“Komnas HAM tetap menjadi oversight body atau lembaga pengawas. Sedangkan pemerintah memang memiliki tanggung jawab menjalankan perlindungan dan pemenuhan HAM. Jadi tidak ada pengambilalihan fungsi,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Siti Aminah turut menjelaskan mengenai gagasan pembentukan Forum Lembaga Nasional HAM yang dimasukkan dalam rancangan revisi UU tersebut. Forum itu akan menjadi wadah koordinasi antara sejumlah lembaga nasional HAM, seperti Komnas HAM, Komnas Perempuan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan Komisi Nasional Disabilitas (KND).

Menurut Siti, pembentukan forum tersebut bukanlah konsep baru yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil abstraksi dari praktik kolaborasi yang selama ini telah berjalan di lapangan.

“Selama ini sebenarnya komunikasi dan kerja sama antar lembaga nasional HAM sudah berlangsung. Dalam isu penyiksaan misalnya, ada koalisi untuk pencegahan penyiksaan. Begitu juga dalam pemantauan tindak pidana kekerasan seksual,” jelasnya.

Ia mencontohkan implementasi kerja sama tersebut terlihat dalam penanganan kasus pembunuhan Brigadir J yang menyeret mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo. Saat itu, Komnas HAM melibatkan Komnas Perempuan dalam proses penyelidikan karena terdapat dugaan unsur kekerasan seksual dalam perkara tersebut.

Menurutnya, pola koordinasi seperti itu perlu dilembagakan agar tidak bergantung pada pergantian kepemimpinan di masing-masing komisi.

“Yang ingin dipastikan adalah praktik-praktik baik yang sudah berjalan ini tetap berkelanjutan meski terjadi pergantian komisioner atau kepemimpinan,” ujar Siti Aminah.

Ia menambahkan, forum komunikasi tersebut nantinya dibangun berdasarkan kesepakatan bersama antar lembaga nasional HAM, sehingga tetap menjaga independensi masing-masing institusi.

Dalam proses uji publik, Kementerian HAM RI juga telah melakukan serangkaian diskusi akademik di sejumlah perguruan tinggi, termasuk di Yogyakarta dan Semarang. Forum-forum tersebut melibatkan akademisi, pegiat HAM, mahasiswa, serta para perumus revisi undang-undang untuk memperoleh masukan publik secara luas.

Moderator acara, Prita Laura, menyebutkan bahwa rangkaian uji publik akan terus dilakukan agar masyarakat memahami substansi perubahan UU HAM sekaligus memberikan kritik dan saran terhadap draft yang telah disusun.

“Tujuannya agar publik memahami substansi rancangan undang-undang ini sekaligus memberi masukan terhadap penyempurnaan regulasi,” ujarnya.

Revisi UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM sendiri dinilai menjadi momentum penting untuk menyesuaikan sistem perlindungan HAM nasional dengan tantangan perkembangan zaman, termasuk penguatan kelembagaan, mekanisme koordinasi, serta efektivitas pengawasan terhadap potensi pelanggaran HAM.

Namun demikian, sejumlah kalangan sipil sebelumnya juga menyuarakan kekhawatiran agar penguatan peran pemerintah dalam regulasi baru tidak mengurangi independensi lembaga pengawas HAM. Karena itu, proses uji publik dinilai penting untuk memastikan substansi revisi tetap selaras dengan prinsip-prinsip independensi, akuntabilitas, dan perlindungan HAM yang demokratis.

Dengan terus bergulirnya pembahasan revisi UU HAM, pemerintah dan tim perumus dihadapkan pada tantangan untuk menjaga keseimbangan antara penguatan peran negara dalam pemenuhan HAM dan tetap mempertahankan independensi lembaga pengawas HAM sebagai pilar kontrol demokrasi di Indonesia.

Reporter: Fahmy Nurdin

Editor: Fahmy Nurdin

Berita Terkait

Idul Adha 2026 Rabu 27 Mei, Berpotensi Libur Long Weekend
PMJ Pastikan Kasus Ijazah Jokowi Terus Berjalan, Berkas Dilimpahkan ke Kejaksaan
Perbekel Desa Blahkiuh beri tugas Linmas Ronda Malam
Polda Metro Jaya Panen 219 Kilogram Nila Merah, Perkuat Ketahanan Pangan dan Pasok Protein Berkelanjutan
Polda Metro Jaya Kerahkan 14.237 Personel Gabungan Amankan Aksi Hari Kebangkitan Nasional 2026
Polri Soroti Ancaman Tak Terlihat di Era Digital, Buku Gamifikasi Kekerasan Jadi Peta Baru Pencegahan Terorisme
Silaturahmi Lintas Agama, Lapas Medan Tegaskan Perang Melawan Narkoba
Polemik Video Ceramah Jusuf Kalla: Dr. Mansur Tokoh Akademik dan Keagamaan Dorong Penegakan Hukum yang Beretika
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 14:59 WIB

Kementerian HAM Jelaskan Arah Revisi UU HAM: Perkuat Fungsi Pengawasan dan Koordinasi

Senin, 25 Mei 2026 - 08:26 WIB

Idul Adha 2026 Rabu 27 Mei, Berpotensi Libur Long Weekend

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:58 WIB

PMJ Pastikan Kasus Ijazah Jokowi Terus Berjalan, Berkas Dilimpahkan ke Kejaksaan

Jumat, 22 Mei 2026 - 21:06 WIB

Perbekel Desa Blahkiuh beri tugas Linmas Ronda Malam

Kamis, 21 Mei 2026 - 13:51 WIB

Polda Metro Jaya Panen 219 Kilogram Nila Merah, Perkuat Ketahanan Pangan dan Pasok Protein Berkelanjutan

Berita Terbaru

Foto: Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin bersama jajaran pemerintah dan pelajar berfoto usai kegiatan sosialisasi wawasan kebangsaan dan pencegahan paham radikalisme serta terorisme di lingkungan sekolah. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman generasi muda terhadap nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, serta menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.

Wali Kota Jakarta Pusat

Arifin: Generasi Muda Harus Miliki Ketahanan Ideologi di Tengah Ancaman Radikalisme

Senin, 25 Mei 2026 - 12:49 WIB