“Nah, Google ini ibarat platform, ibarat mal yang besar sekali. Yang menyediakan apa saja. Istilahnya palugada ya? Apa yang perlu, kami ada. Apa saja ada. Jadi Anda tanya apa saja, ada!” kata Ketua Dewan Pers.
GNI Update diadakan atas kerjasama Dewan Pers dengan Google News Update, untuk mengisi Perayaan Hari Pers Nasional 2026 di Serang Banten. Hadir dalam acara ini selain Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, Head Head of News Partnership Southeast Asia, Abdeel Farhan, dan Wamen Komdigi Nezar Patria, yang sekaligus membuka acara.
Berbicara tentang peranan google saat ini, terutama dengan munculnya Artificial Inteligen (AI), menurut Komaruddin, sangat besar.
Dulu di kampus, terutama di kampus internasional, posisi makalah kalau kuliah itu nilainya 70 persen. Selanjutnya itu dari interaksi di kelas. Tapi sekarang terbalik, nilai makalah menjadi 35 persen. Karena kalau ada makalah bagus, gramatikanya bagus, sistematis bahasanya. Karena dicurigai itu berkat AI.
“Dan itu rupanya juga terjadi di banyak kampus di Indonesia. Di Australia pun begitu. Jadi ada beberapa mahasiswa itu yang memang ketergantungan berpikir dengan IAI. Anda bisa nulis buku, tulis judulnya, ada daftar isinya. Kalau buku itu sebagian informasi umum, tidak spesifik, tidak unik, itu pasti jadi!”
Tentu, tambah Prof. Komaruddin, masyarakat sangat terima kasih kepada AI, kepada Google yang bisa mewakili dan bertanya apa saja. Sampai-sampai sekarang disebut Profesor Google, yang tidak pernah tidur, tidak pernah lapar, tidak pernah ngantuk, kapan saja ditanya bisa menjawab.
“Eksesnya kalau guru dosen kurang hati-hati, membuat mahasiswa itu malas berpikir. Kalau ingin bertanya, dia lari ke Google,” katanya.
Di dunia wartawan, keberadaan google dan AI juga sangat membantu. Penyebaran informasi sangat cepat. Walaupun kadang-kadang kerasa agak sama, karena sumbernya sama. Nah, ibarat mall yang besar tadi, ada satu hal yang… Kita secara gratis, apa saja dilayani oleh Google. Tapi pertanyaannya, mall tadi dari mana sebagian bahannya diambil?
Sebagian diambil adalah dari karya-karya tulis, karya-karya jurnalistik. Sehingga ada beberapa wartawan yang capek-capek bekerja, melakukan investigatif reproting Luar biasa capeknya, eksklusif, tapi kemudian begitu masuk ke Google, maka orang lain dengan mudahnya mengambil.
“Oleh karena itu, publisher right, penting untuk diseriusi. Sebab kalau tidak, itu very discouraging bagi kawan-kawan untuk melakukan investasi report. Karena dia capek-capek kerja, tidak ada insentifnya, dan tidak ada royaltinya, dan ini negatif!” tandas Komaruddin.
Menurut Komaruddin, ada berapa agenda kerjasama yang perlu dibicarakan lebih lanjut antara Dewan Pers, Komdigi dan Google. Salah satunya adalah kemungkinan bagaimana publisher right itu bisa dibicarakan sehingga ada win-win solution bersama-sama. Dan kemudian juga berapa kerjasama. Karena hari ini kita tidak mungkin tanpa menggunakan bantuan AI, Google, itu tidak mungkin.
Google dan AI menurut Prof. Komaruddin Hidayat adalah sebuah quantum leap, walau masih ada bolong-bolong yang itu perlu kita tambah. (hw)





































