Budaya Terancam Jadi Kenangan, Andy Java Desak Regenerasi dan Perlindungan

- Jurnalis

Selasa, 27 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Pemerhati Lingkungan dan Budaya, Andy Java, menekankan pentingnya regenerasi dalam pelestarian budaya lokal.

Foto: Pemerhati Lingkungan dan Budaya, Andy Java, menekankan pentingnya regenerasi dalam pelestarian budaya lokal.

BOGOR – Pengakuan terhadap sebuah kebudayaan dari para budayawan dinilai tidak cukup untuk menjamin kelestariannya. Budaya membutuhkan ekosistem yang berkelanjutan agar tidak hanya menjadi artefak masa lalu.

Hal tersebut disampaikan Pemerhati Lingkungan dan Budaya, Andy Java. Menurutnya, selama ini pelestarian budaya seringkali hanya berhenti pada seremoni, pemberian piagam, dan disebut dalam sambutan resmi sebagai warisan luhur tanpa tindak lanjut yang konkret.

“Pengakuan bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah pintu masuk. Banyak kebudayaan kita diakui hebat, batik diakui UNESCO, wayang disebut adi luhung, tapi di lapangan kita gagal menjawab bagaimana cara membuatnya tetap hidup,” ujar Andy Java, Selasa, (27/10/2026).

Andy Java menilai, pengakuan tanpa perawatan hanya akan menjadi nostalgia. Budaya yang hanya didokumentasikan dalam museum atau buku tebal tanpa ada regenerasi akan mati secara perlahan.

“Budaya tidak hidup di dalam museum. Ia hidup pada manusia. Jika tidak ada anak muda yang mau belajar menenun, menganyam, menari, dan bertutur, maka pengakuan itu hanya menjadi eulogi, pidato kematian yang indah,” tegasnya.

Andy Java menjelaskan, ada tiga hal yang dibutuhkan budaya setelah diakui. Pertama adalah regenerasi, bukan sekadar dokumentasi. Kedua adalah ruang hidup, bukan sekadar ruang pamer.

“Memberi pengakuan tapi merampas ruang hidupnya sama saja dengan memuji burung karena kicauannya indah sambil membakar hutan tempat ia tinggal. Lahan adat digusur, kampung adat dijadikan objek wisata tanpa melibatkan pemiliknya, ini pembunuhan pelan-pelan,” katanya.

Ketiga, menurut Andy, adalah keberpihakan ekonomi dan kebijakan. Para penjaga budaya tidak bisa hidup hanya dari pujian.

“Seorang pengrajin tidak bisa hidup hanya dari pujian ‘karya anda sangat budaya’. Ia butuh pasar yang adil, harga yang layak, dan kebijakan yang melindunginya dari produk industri tiruan. Tanpa itu, kita memaksa mereka memilih antara idealisme dan kelaparan,” ungkapnya.

Ia berharap, pengakuan dari budayawan seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Negara harus hadir dengan regulasi, akademisi dengan kurikulum, pengusaha dengan model bisnis beretika, dan masyarakat sebagai konsumen yang setia.

“Karena pada akhirnya, budaya tidak butuh dikasihani atau sekadar dipuji. Ia butuh dihidupi,” pungkas Andy Java.

(Helmi AR)

Berita Terkait

MI Al Falahiyyah Raih Juara Umum Jakarta Marching Art Competition 2026
Keroncong Sahadja Hadirkan Nuansa Musik Tradisional di La Piazza Kelapa Gading
Fadli Zon Dorong Sensus Ekonomi 2026 Perkuat Data Ekonomi Kebudayaan
Fadli Zon Dorong Vila Bung Hatta dan Riung Gunung Jadi Penggerak Ekonomi Budaya
Memutus Budaya KKN dengan Membangun Kepribadian dalam Kebudayaan
Menteri Kebudayaan: Keberagaman dan Budaya Jadi Akar Kekuatan Bangsa
Ketua Umum MASL Hadiri Upacara HUT RI ke-81 di Istana, Bawa Pesan Pelestarian Budaya Sunda
Hari Masyarakat Adat Sedunia, Tiga Pilar Sumedang Soroti Ancaman Degradasi Kedaulatan Adat
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:02 WIB

Budaya Terancam Jadi Kenangan, Andy Java Desak Regenerasi dan Perlindungan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:37 WIB

MI Al Falahiyyah Raih Juara Umum Jakarta Marching Art Competition 2026

Senin, 31 Agustus 2026 - 12:42 WIB

Keroncong Sahadja Hadirkan Nuansa Musik Tradisional di La Piazza Kelapa Gading

Senin, 24 Agustus 2026 - 08:38 WIB

Fadli Zon Dorong Sensus Ekonomi 2026 Perkuat Data Ekonomi Kebudayaan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 18:36 WIB

Fadli Zon Dorong Vila Bung Hatta dan Riung Gunung Jadi Penggerak Ekonomi Budaya

Berita Terbaru

Foto: Ketua TP PKK Jakarta Timur, Essie Feransie Munjirin, bersama jajaran kader TP PKK berfoto bersama saat kegiatan Supervisi, Monitoring, dan Evaluasi (SME) TP PKK tingkat kecamatan dan kelurahan se-Kecamatan Makasar di Aula Kantor Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Selasa (27/10/2026).

Wali Kota Jakarta Pusat

Tinjau SME PKK Makasar, Essie Munjirin Tekankan Administrasi dan Inovasi Program

Selasa, 27 Okt 2026 - 21:14 WIB