Dampak Bencana Sumatera Menjalar ke Jakarta, Tukang Ojek Pangkalan Terjepit Tekanan Ekonomi

- Jurnalis

Kamis, 1 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi Pangkalan Ojek/Ojek Pangkalan (Opang). (Dok-x.com)

Foto: Ilustrasi Pangkalan Ojek/Ojek Pangkalan (Opang). (Dok-x.com)

JAKARTA – Dampak bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera mulai dirasakan hingga ke Jakarta. Sebagai pusat perputaran ekonomi nasional, Ibu Kota tidak sepenuhnya steril dari efek lanjutan bencana tersebut. Perlambatan aktivitas ekonomi dan menurunnya daya beli masyarakat kini menjadi tekanan nyata, terutama bagi kelompok masyarakat menengah ke bawah yang bergantung pada sektor informal.

Kondisi ini paling terasa bagi pekerja dengan penghasilan tidak tetap, seperti pedagang keliling, buruh harian, hingga tukang ojek pangkalan. Mereka mengaku mengalami penurunan pendapatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Berkurangnya mobilitas masyarakat serta melemahnya transaksi harian menjadi faktor utama yang mempersempit peluang memperoleh penghasilan.

Pantauan awak media di kawasan Rawa Kuning, Kelurahan Pulogebang, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Kamis (1/1/2026), menggambarkan situasi tersebut. Di sejumlah pangkalan ojek, para pengemudi terlihat lebih banyak menunggu dibandingkan mengantar penumpang. Sepinya pelanggan menjadi keluhan utama yang terus berulang dari hari ke hari.

Fauzan, salah seorang tukang ojek pangkalan di kawasan Kelapa Satu, Rawa Kuning, mengungkapkan bahwa kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, jumlah penumpang menurun drastis, sehingga penghasilan harian tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan dasar.

“Sekarang penumpang sepi sekali. Kadang seharian cuma dapat satu atau dua orang. Untuk makan sehari-hari saja sering tidak cukup,” kata Fauzan.

Ketika disinggung mengenai peluang beralih ke layanan transportasi berbasis aplikasi, Fauzan mengaku hal tersebut sulit dilakukan. Keterbatasan ekonomi menjadi penghalang utama, mulai dari kepemilikan telepon pintar hingga biaya operasional yang dinilai tidak sebanding dengan kemampuan finansialnya.

“Jangankan beli handphone yang mahal, buat makan saja pas-pasan. Makanya kami bertahan jadi ojek pangkalan,” tuturnya.

Situasi ini menunjukkan masih lebarnya kesenjangan akses terhadap transformasi digital, khususnya di sektor transportasi. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, tidak semua lapisan masyarakat mampu beradaptasi secara cepat karena keterbatasan sarana dan modal.

Keluhan serupa juga disampaikan Udin, tukang ojek pangkalan lain di wilayah yang sama. Ia mengaku tekanan ekonomi semakin berat karena harus menanggung kebutuhan tiga orang anak yang masih menempuh pendidikan.

“Anak saya tiga, semuanya masih sekolah. Yang paling besar di SMA swasta. Setiap bulan harus bayar biaya sekolah, belum uang jajan dan kebutuhan lain,” ucapnya.

Udin menambahkan, hingga saat ini wilayah Rawa Kuning, Kelurahan Pulogebang, belum memiliki SMA Negeri. Kondisi tersebut memaksa warga dengan kemampuan ekonomi terbatas untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah swasta dengan biaya yang relatif lebih tinggi.

“Kalau ada SMA Negeri, pasti sangat membantu warga di sini. Kami berharap pemerintah bisa membangun SMA Negeri di Rawa Kuning, Pulogebang,” ujarnya.

Pengamat sosial, Ali Hanafiah menilai situasi yang dialami masyarakat kecil di Jakarta Timur tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“Kebijakan perlindungan sosial, penguatan sektor informal, serta pemerataan akses pendidikan dinilai harus lebih responsif terhadap kondisi nyata di lapangan,” tutur Ali Hanafiah.

Menurut Ali, tanpa intervensi kebijakan yang tepat dan berkelanjutan, tekanan ekonomi akibat bencana alam dan perlambatan aktivitas ekonomi berpotensi memicu persoalan sosial yang lebih luas.

“Dalam kondisi krisis, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah kembali menjadi pihak yang paling rentan dan paling merasakan dampaknya,” pungkasnya.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, harapan masyarakat kecil tetap tertuju pada kehadiran negara untuk memberikan solusi nyata, baik melalui bantuan sosial yang tepat sasaran, pemberdayaan ekonomi, maupun pembangunan fasilitas publik yang merata dan berkeadilan.

Reporter: Matyadi

Editor: Fahmy Nurdin

Berita Terkait

Wali Kota Jakarta Timur Lepas 50 Peserta Pengenalan Wisata Religi 2026, Dorong Penguatan Nilai Sejarah dan Spiritualitas
Safari Ramadan TP PKK Jakarta Timur, Perkuat Spiritualitas dan Kepedulian Sosial di Bulan Suci
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Sisir 397 Lapangan Padel, Gubernur Ancam Tutup dan Bongkar yang Tak Berizin
Dua Bus Transjakarta Adu Banteng di Koridor 13, 24 Penumpang Luka: Sopir Diduga Tertidur
Pemanggilan Eks Marketing BRI Warnai Perkembangan Kasus Dugaan Kredit Bermasalah Saung Intan PGC
BKPRMI DKI Jakarta dan BAZNAS RI Perkuat Gerakan Bersih Masjid, Sambut Ramadan dengan Spirit Kebersamaan
Alumni ’87 Bangkitkan Modal Sosial Lewat Reuni Akbar di JFS Cafe
Harmoni Imlek Nusantara Meriahkan Tahun Baru Imlek di Jantung Jakarta
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Selasa, 3 Maret 2026 - 20:06 WIB

Wali Kota Jakarta Timur Lepas 50 Peserta Pengenalan Wisata Religi 2026, Dorong Penguatan Nilai Sejarah dan Spiritualitas

Senin, 2 Maret 2026 - 21:51 WIB

Safari Ramadan TP PKK Jakarta Timur, Perkuat Spiritualitas dan Kepedulian Sosial di Bulan Suci

Selasa, 24 Februari 2026 - 19:38 WIB

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Sisir 397 Lapangan Padel, Gubernur Ancam Tutup dan Bongkar yang Tak Berizin

Selasa, 24 Februari 2026 - 00:00 WIB

Dua Bus Transjakarta Adu Banteng di Koridor 13, 24 Penumpang Luka: Sopir Diduga Tertidur

Sabtu, 21 Februari 2026 - 22:18 WIB

Pemanggilan Eks Marketing BRI Warnai Perkembangan Kasus Dugaan Kredit Bermasalah Saung Intan PGC

Berita Terbaru