JAKARTA – Pedagang Pasar Taman Puring, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menegaskan bahwa mereka tidak pernah menolak rencana revitalisasi pasar yang telah diwacanakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Sebaliknya, para pedagang berharap proses pembangunan kembali pasar yang terdampak kebakaran tersebut dapat segera direalisasikan agar aktivitas perdagangan kembali berjalan normal dan memberikan kepastian bagi ratusan pelaku usaha.
Penegasan itu disampaikan pada Rabu (5/8/2026), untuk meluruskan berbagai informasi yang berkembang di ruang publik terkait sikap pedagang terhadap rencana penataan kawasan Pasar Taman Puring. Menurut para pedagang, munculnya anggapan bahwa mereka menolak revitalisasi atau ingin membangun pasar secara mandiri tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Salah seorang pedagang senior Pasar Taman Puring, Nawara Harjo, menjelaskan bahwa pernyataannya mengenai pembangunan pasar secara swadaya pada masa lalu telah dipahami secara keliru karena hanya disampaikan sebagian, sehingga menimbulkan persepsi bahwa pedagang menolak pembangunan yang dilakukan pemerintah.
Ia menerangkan bahwa cerita mengenai pembangunan secara swadaya merujuk pada pengalaman yang terjadi sekitar tahun 2000 hingga 2002, ketika Pasar Taman Puring pernah dibangun melalui mekanisme gotong royong atau patungan antar pedagang pada masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta saat itu. Penjelasan tersebut, kata dia, semata-mata merupakan gambaran sejarah perjalanan pasar, bukan sikap pedagang terhadap rencana revitalisasi saat ini.
Menurut Nawara, apabila pemerintah memutuskan untuk membangun kembali Pasar Taman Puring melalui program revitalisasi, seluruh pedagang pada prinsipnya menyambut baik kebijakan tersebut dan siap mendukung proses pelaksanaannya.
Ia juga menegaskan bahwa tidak pernah ada penolakan terhadap program pemerintah. Justru yang diharapkan para pedagang adalah adanya kepastian waktu pelaksanaan revitalisasi sehingga mereka dapat kembali menjalankan usaha secara layak dan memperoleh kepastian mengenai masa depan aktivitas perdagangan di kawasan tersebut.
Lebih lanjut, Nawara membantah adanya konflik internal ataupun perpecahan di antara para pedagang terkait rencana penataan kawasan Taman Puring. Menurutnya, isu mengenai kelompok yang mendukung dan menolak revitalisasi tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya di lapangan.
Ia menilai sebagian informasi yang berkembang telah menciptakan kesan seolah-olah terdapat pertentangan antara pedagang dengan pemerintah, padahal mayoritas pedagang memiliki harapan yang sama, yakni melihat Pasar Taman Puring kembali berdiri sebagai pusat perdagangan yang lebih tertata, aman, dan nyaman.
Karena itu, Nawara mengingatkan agar tidak ada pihak yang membangun narasi yang berpotensi memperkeruh hubungan antara pedagang dan pemerintah. Menurutnya, komunikasi yang baik serta penyampaian informasi secara utuh menjadi hal penting agar tidak terjadi kesalahpahaman yang dapat menghambat proses penataan kawasan.
Dalam kaitannya dengan opsi relokasi maupun revitalisasi, Nawara mengatakan sebagian besar pedagang lebih menginginkan revitalisasi dilakukan di lokasi yang sama. Menurutnya, keberadaan Pasar Taman Puring selama puluhan tahun telah menjadi identitas kawasan sekaligus memiliki nilai historis dan ekonomi yang kuat bagi masyarakat Jakarta.
Ia berpandangan bahwa apabila pasar dipindahkan ke lokasi lain, identitas Taman Puring sebagai salah satu pusat perdagangan yang dikenal masyarakat akan sulit dipertahankan. Oleh karena itu, revitalisasi di lokasi eksisting dinilai menjadi solusi terbaik untuk menjaga keberlangsungan aktivitas ekonomi sekaligus mempertahankan karakter kawasan.
Di sisi lain, Nawara menegaskan bahwa para pedagang tidak menolak rencana pembangunan fasilitas publik, termasuk Taman Difabel, sebagaimana pernah diwacanakan dalam penataan kawasan pascakebakaran. Menurutnya, pembangunan ruang publik tetap dapat berjalan berdampingan dengan revitalisasi Pasar Taman Puring apabila dirancang secara terintegrasi.
Para pedagang berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi yang mengakomodasi seluruh kepentingan, baik penyediaan ruang publik yang inklusif maupun keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat melalui pembangunan kembali pasar.
Bagi para pedagang, revitalisasi bukan hanya persoalan pembangunan fisik semata, melainkan juga menyangkut keberlangsungan mata pencaharian ratusan keluarga yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas perdagangan di Pasar Taman Puring. Dengan hadirnya pasar yang lebih representatif, mereka optimistis aktivitas ekonomi dapat kembali bergairah dan menarik minat masyarakat untuk berbelanja.
Sebelumnya, wacana revitalisasi Pasar Taman Puring menjadi perhatian publik setelah muncul berbagai pembahasan mengenai penataan kawasan pascakebakaran. Sejumlah informasi yang beredar, mulai dari isu relokasi pedagang hingga rencana pembangunan ruang publik di lokasi tersebut, memunculkan beragam persepsi di tengah masyarakat.
Melalui klarifikasi yang disampaikan para pedagang, diharapkan tidak lagi muncul kesalahpahaman mengenai sikap mereka terhadap program pemerintah. Pedagang menegaskan bahwa mereka mendukung revitalisasi Pasar Taman Puring dan berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera merealisasikan pembangunan kembali pasar sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali aktivitas ekonomi, menjaga identitas kawasan, serta memberikan kepastian bagi para pelaku usaha yang selama ini menanti terealisasinya janji revitalisasi tersebut.
Editor: Fahmy Nurdin




































