Polemik Geotermal Tampomas, Para Penjaga Leluhur Pertanyakan Usulan Bupati Sumedang

- Jurnalis

Kamis, 29 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Kuncen Tampomas, Uyut Anom, menyampaikan sikap penolakan terhadap rencana pengembangan Wilayah Panas Bumi (WPSPE) seluas 22.514 hektare yang mencakup kawasan Gunung Tampomas, Kabupaten Sumedang.

Foto: Kuncen Tampomas, Uyut Anom, menyampaikan sikap penolakan terhadap rencana pengembangan Wilayah Panas Bumi (WPSPE) seluas 22.514 hektare yang mencakup kawasan Gunung Tampomas, Kabupaten Sumedang.

SUMEDANG – Penolakan terhadap rencana Wilayah Panas Bumi di Gunung Tampomas datang dari para penjaga gunung itu sendiri.

Paguyuban Kuncen se-Kabupaten Sumedang menyatakan menolak rencana 22.514 hektare kawasan geotermal yang mencakup Gunung Tampomas, yang tertuang dalam Kepmen ESDM No.309/2025 berdasarkan surat usulan Bupati Sumedang tahun 2023 dan 2024.

Pernyataan sikap itu disampaikan oleh Uyut Anom dan Itang Rohaendi selaku Kuncen Tampomas. Mereka menegaskan tugas kuncen turun temurun hanya satu, ngajaga gunung supaya gunung ngajaga manusa.

Para kuncen mengaku tidak pernah dilibatkan dalam proses pengajuan. Padahal gunung tersebut merupakan ruang hidup yang mereka jaga ratusan tahun sebagai penjaga makam, penjaga situs, penjaga petilasan dan penjaga cai kahuripan.

Kekecewaan itu memuncak pada rapat di DPRD Sumedang tanggal 21 Oktober 2026. Saat itu para kuncen datang bersama Majelis Adat Sumedanglarang dan koalisi lainnya memenuhi undangan dewan. Namun pihak yang mengusulkan justru tidak hadir.

“Kami melihat sendiri yang mengusulkan tidak datang. Bupati tidak hadir, Sekda tidak hadir, padahal merekalah yang mengajukan gunung kami. Yang mengusulkan tidak datang, yang menjaga gunung datang. Punten, ieu kumaha logikana,” tulis para kuncen dalam rilisnya. Kamis, (29/10/2026).

Bagi para kuncen, Tampomas bukan sekadar gunung.

Pertama, Tampomas adalah leluhur. Di sana ada makam karuhun, petilasan, tempat mujasmedi dan mata air yang memiliki nilai sejarah. Kedua, Tampomas adalah Ibu Cai, sumber air yang menghidupi Sumedang. Ketiga, Tampomas adalah Tumpeng Bumi yang tidak boleh dilukai perutnya.

Mereka mengingatkan, jika perut gunung dilubangi 2-3 kilometer untuk mengambil uap panas, yang keluar bukan hanya uap tapi murka alam. Terlebih di bawah kaki gunung terdapat Sesar Baribis Tampomas yang belum pernah dikaji dampaknya.

“Kami tidak anti pembangunan. Tapi pembangunan tanpa izin dari karuhun itu namanya ngaruksak,” tegasnya.

Pada momentum Hari Sumpah Pemuda, para kuncen menyatakan tiga sikap. Pertama, menolak WPSPE 22.514 hektare termasuk Gunung Tampomas dalam bentuk apapun karena tidak ada restu dari karuhun.

Kedua, meminta Bupati Sumedang untuk naik ke Tampomas dan menjelaskan di depan makam leluhur alasan gunung itu diajukan. Para kuncen mengutip pesan leluhur, pamali ngaruksak Tampomas, lamun Tampomas diganggu, cai bakal beak, taneuh bakal gerak, lembur bakal sangsara, karuhun moal ngijinan.

Ketiga, mendukung penuh Sumpah Jaga Tampomas oleh Pemuda Penjaga Tampomas dengan semboyan Insun Medal, Insun Madangan.

“Kami sudah tua. Kami tidak punya kuasa. Yang kami punya hanya doa. Tapi ingat, kalau gunung sudah menangis, air mata pertama yang jatuh adalah banjir dan gempa. Jangan jual Tampomas, kami tidak merestui,” tutup mereka.

(Helmi AR)

Berita Terkait

Astrid Angel hingga Adam Jackson Ramaikan Halloween Party di Phoenix Lounge
Anak Beruang Madu Terpisah dari Induk akibat Karhutla di Kalteng, Polri Selamatkan Satwa Dilindungi
Portal Dibongkar, Urugan di Petukangan Selatan Kembali Jalan, Warga Desak Gubernur Turun Tangan
KMP Batumandi Tenggelam, Keselamatan Penumpang dan Perlindungan Laut Jadi Sorotan
Uji Budaya Integritas, Rutan Tanjung Pura Jalani Verifikasi Lapangan APBI
Kapolres Cilegon Turun Langsung Tangani Kebakaran KMP Batu Mandi di Selat Sunda
216 Pedagang Setu Babakan Direlokasi Pemkot Jaksel
Ratusan Truk Urugan Lalu Lalang Setiap Hari di Larangan, Jalan Terancam Rusak
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 20:50 WIB

Polemik Geotermal Tampomas, Para Penjaga Leluhur Pertanyakan Usulan Bupati Sumedang

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:42 WIB

Astrid Angel hingga Adam Jackson Ramaikan Halloween Party di Phoenix Lounge

Jumat, 23 Oktober 2026 - 22:06 WIB

Anak Beruang Madu Terpisah dari Induk akibat Karhutla di Kalteng, Polri Selamatkan Satwa Dilindungi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:45 WIB

Portal Dibongkar, Urugan di Petukangan Selatan Kembali Jalan, Warga Desak Gubernur Turun Tangan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 05:10 WIB

KMP Batumandi Tenggelam, Keselamatan Penumpang dan Perlindungan Laut Jadi Sorotan

Berita Terbaru

Pendidikan

Bantuan Ijazah Tertunda Tahap II, 414 Pelajar Jaksel Terbantu

Kamis, 29 Okt 2026 - 17:40 WIB

Foto: Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, Munjirin, berfoto bersama para pelajar SMA dan SMK serta jajaran penyelenggara usai kegiatan peningkatan kapabilitas demokrasi di Kantor Sekretariat KPU Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung, Kamis (29/10/2026).

Wali Kota Jakarta Pusat

Munjirin: Pelajar Harus Jadi Penggerak Demokrasi yang Sehat

Kamis, 29 Okt 2026 - 17:33 WIB