Organda Bongkar Akar Masalah Transportasi Darat: Terminal Bayangan Marak, BBM Barcode Dinilai Tak Realistis

- Jurnalis

Kamis, 15 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organda bersama jajaran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya berfoto bersama usai dialog dan audiensi di Kantor DPP Organda, Wisma PMI, Jakarta Selatan

Foto: Pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organda bersama jajaran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya berfoto bersama usai dialog dan audiensi di Kantor DPP Organda, Wisma PMI, Jakarta Selatan

JAKARTA — Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Angkutan Darat (Organda) menilai persoalan transportasi darat nasional masih berkutat pada masalah lama yang belum tertangani secara menyeluruh. Mulai dari menjamurnya terminal bayangan, kebijakan BBM subsidi berbasis barcode, hingga minimnya koordinasi antarlembaga dinilai menjadi hambatan serius bagi keberlanjutan layanan angkutan umum.

Pandangan tersebut mengemuka dalam dialog antara DPP Organda dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya yang digelar di Kantor DPP Organda, Wisma PMI, Jakarta Selatan, Kamis (15/1/2026).

Sekretaris Jenderal DPP Organda, Kurnia Lesani Adnan, menegaskan bahwa transportasi darat masih menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat sekaligus penopang ekonomi pelaku usaha kecil dan menengah di sektor angkutan. Namun, kebijakan yang tidak berpijak pada realitas lapangan membuat masalah terus berulang dari tahun ke tahun.

Salah satu sorotan utama adalah keberadaan terminal bayangan. Menurut Organda, fenomena tersebut muncul akibat pembangunan terminal resmi yang kerap jauh dari pusat aktivitas warga dan sulit diakses. Akibatnya, penumpang dan pengemudi memilih titik-titik alternatif di luar terminal yang justru tidak terkelola.

Organda menilai pendekatan penertiban semata tidak akan efektif tanpa diiringi penataan lokasi naik-turun penumpang yang sesuai kebutuhan masyarakat. Regulasi, kata Kurnia, harus adaptif dan realistis agar terminal resmi kembali diminati.

Di sisi lain, kebijakan BBM subsidi dengan sistem barcode juga menuai kritik. Organda menyebut penetapan kuota harian BBM belum mempertimbangkan karakter operasional angkutan umum, khususnya kendaraan jarak jauh yang memiliki kebutuhan bahan bakar berbeda-beda tergantung rute dan kondisi lapangan.

Masalah tersebut kian rumit ketika pasokan BBM subsidi di sejumlah SPBU kerap kosong. Antrean panjang hingga kendaraan menginap di SPBU dinilai mengganggu layanan angkutan orang dan barang serta memicu kenaikan biaya operasional, terutama menjelang arus mudik Lebaran.

Organda mengaku telah berulang kali menyampaikan keberatan dan masukan kepada instansi terkait, baik melalui surat resmi maupun audiensi. Namun hingga kini, solusi komprehensif yang benar-benar menjawab kebutuhan angkutan umum dinilai belum terwujud.

Selain itu, dampak otonomi daerah juga menjadi perhatian. Perbedaan kebijakan pusat dan daerah dinilai menciptakan disharmoni pengelolaan transportasi. Bahkan, Organda menyoroti minimnya kompetensi teknis sebagian pejabat daerah di bidang transportasi, yang berujung pada kebijakan kurang responsif terhadap kondisi riil di lapangan.

Dalam pertemuan tersebut, Organda menekankan pentingnya peran media sebagai mitra strategis untuk mengangkat isu transportasi secara objektif dan mendorong lahirnya kebijakan yang lebih berpihak pada keberlanjutan layanan publik.

Sebagai langkah lanjutan, Organda dan PWI Jaya sepakat menjajaki penyelenggaraan diskusi publik tematik yang melibatkan pemerintah, aparat penegak hukum, akademisi, pelaku usaha angkutan, dan media. Forum ini diharapkan mampu merumuskan rekomendasi kebijakan yang konkret, khususnya menjelang penataan transportasi dan kesiapan mudik nasional.

 

Reporter Matyadi

Berita Terkait

Wali Kota Jakarta Timur Lepas 50 Peserta Pengenalan Wisata Religi 2026, Dorong Penguatan Nilai Sejarah dan Spiritualitas
Safari Ramadan TP PKK Jakarta Timur, Perkuat Spiritualitas dan Kepedulian Sosial di Bulan Suci
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Sisir 397 Lapangan Padel, Gubernur Ancam Tutup dan Bongkar yang Tak Berizin
Dua Bus Transjakarta Adu Banteng di Koridor 13, 24 Penumpang Luka: Sopir Diduga Tertidur
Pemanggilan Eks Marketing BRI Warnai Perkembangan Kasus Dugaan Kredit Bermasalah Saung Intan PGC
BKPRMI DKI Jakarta dan BAZNAS RI Perkuat Gerakan Bersih Masjid, Sambut Ramadan dengan Spirit Kebersamaan
Alumni ’87 Bangkitkan Modal Sosial Lewat Reuni Akbar di JFS Cafe
Harmoni Imlek Nusantara Meriahkan Tahun Baru Imlek di Jantung Jakarta
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Selasa, 3 Maret 2026 - 20:06 WIB

Wali Kota Jakarta Timur Lepas 50 Peserta Pengenalan Wisata Religi 2026, Dorong Penguatan Nilai Sejarah dan Spiritualitas

Senin, 2 Maret 2026 - 21:51 WIB

Safari Ramadan TP PKK Jakarta Timur, Perkuat Spiritualitas dan Kepedulian Sosial di Bulan Suci

Selasa, 24 Februari 2026 - 19:38 WIB

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Sisir 397 Lapangan Padel, Gubernur Ancam Tutup dan Bongkar yang Tak Berizin

Selasa, 24 Februari 2026 - 00:00 WIB

Dua Bus Transjakarta Adu Banteng di Koridor 13, 24 Penumpang Luka: Sopir Diduga Tertidur

Sabtu, 21 Februari 2026 - 22:18 WIB

Pemanggilan Eks Marketing BRI Warnai Perkembangan Kasus Dugaan Kredit Bermasalah Saung Intan PGC

Berita Terbaru