Yogyakarta — Pemerintah menegaskan komitmennya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan melalui penguatan sektor industri, pemanfaatan teknologi maju, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Pendekatan pembangunan tersebut dirancang untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan strategi pengelolaan ekonomi nasional saat ini tetap mengedepankan prinsip akselerasi yang terukur, tanpa mengorbankan stabilitas.
Saya akan bicara sedikit bagaimana mengatur ekonomi dengan cara mesin. Waktu penanganan Covid, kebijakan yang didorong adalah gas dan rem. Sekarang kita bicara tiga mesin pertumbuhan ekonomi, dan pendekatannya tetap sama, bagaimana mengatur akselerasi tanpa mengorbankan stabilitas,” kata Airlangga saat berdialog dengan mahasiswa dan alumni Departemen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Jumat (6/2).
Airlangga menyampaikan Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Target tersebut akan dicapai dengan memperkuat sektor-sektor penggerak utama ekonomi nasional, seperti industri manufaktur, energi dan teknologi masa depan, serta sektor konstruksi.
Menurutnya, sektor-sektor tersebut selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional dan memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan riset serta keunggulan SDM.
Kinerja ekonomi nasional hingga akhir 2025 dinilai menunjukkan tren yang solid. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 tercatat sebagai yang tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 5 persen.
Stabilitas makroekonomi juga tercermin dari inflasi yang terjaga di level 3,55 persen secara tahunan, neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus dalam beberapa tahun terakhir, serta cadangan devisa yang mencapai sekitar USD156 miliar.
Dalam kerangka transformasi ekonomi, pemerintah mengusung konsep tiga mesin pertumbuhan ekonomi (three engines of growth).
Mesin pertama difokuskan pada penguatan industri manufaktur dan industri padat karya, seperti tekstil, alas kaki, furnitur, serta industri otomotif termasuk pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Airlangga menilai industri tekstil tetap relevan dan berkelanjutan karena kebutuhan global yang terus meningkat serta kemampuannya menyerap jutaan tenaga kerja.
Mesin kedua diarahkan pada pembangunan ekonomi berbasis teknologi dan inovasi melalui penguatan digitalisasi, kecerdasan buatan, bioteknologi, dan semikonduktor. Pemerintah menekankan pentingnya investasi riset dan pengembangan (research and development/R&D) untuk memperkuat rantai nilai industri nasional.
S-Curve itu pelajaran inovasi. Di mana pun harus ada investasi R&D. Saya mendorong ekonomi Indonesia berbasis S-Curve, selalu ada riset dan ke depan kita harus jelas barang apa yang ingin kita kuasai,” ujar Airlangga.
Sementara itu, mesin ketiga menitikberatkan pada peningkatan produktivitas dan daya saing SDM sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang. Pemerintah mendorong penguatan keterampilan tenaga kerja, termasuk penyiapan ratusan ribu tenaga kerja terampil, serta pengembangan ekosistem ekonomi baru seperti gig economy dan ekonomi kreatif, khususnya bagi generasi muda.
Selain ketiga mesin tersebut, Airlangga juga menegaskan pentingnya ketahanan pangan sebagai bagian dari stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah terus memperkuat produksi pangan dalam negeri melalui pengembangan kawasan pangan dan peningkatan produktivitas pertanian guna menghadapi potensi krisis global dan gangguan rantai pasok internasional.




































