JAKARTA — Sebanyak 100 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jakarta Pusat mengikuti dialog penguatan ideologi dan karakter kebangsaan yang digelar Suku Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Suban Kesbangpol) Kota Administrasi Jakarta Pusat, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Serbaguna Utama, Kantor Wali Kota Jakarta Pusat, Jalan Tanah Abang I, Gambir, tersebut membahas tantangan generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.
Ruang digital dinilai memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa untuk memperoleh pengetahuan dan mengembangkan kreativitas. Namun, perkembangan tersebut juga diikuti sejumlah tantangan, mulai dari penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, ujaran kebencian, intoleransi hingga polarisasi.
Plh Kasuban Kesbangpol Kota Administrasi Jakarta Pusat Rachmat Hidayat mengatakan dialog tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap nilai-nilai kebangsaan.
“Dialog ini diikuti 100 mahasiswa dari universitas di wilayah Jakarta Pusat dalam upaya meningkatkan pemahaman peserta terhadap nilai-nilai ideologi Pancasila sebagai dasar dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Rachmat.
Menurut Arifin, mahasiswa juga didorong tidak hanya memahami nilai Pancasila secara teoritis, tetapi menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami mendorong peran aktif generasi muda dalam mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari serta memperkuat ketahanan ideologi bangsa di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi informasi,” ujarnya.
Rachmat mengatakan penguatan karakter kebangsaan di kalangan mahasiswa penting dilakukan karena generasi muda merupakan salah satu kelompok yang berhadapan langsung dengan dinamika informasi di ruang digital.
Mahasiswa Diminta Jadi Pelopor Persatuan
Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat Arifin mengatakan penguatan ideologi dan karakter kebangsaan merupakan bagian penting dalam membentuk generasi muda yang memiliki prinsip dalam menghadapi perubahan zaman.
Menurut Arifin, Pancasila perlu ditempatkan sebagai nilai dalam kehidupan, sementara wawasan kebangsaan menjadi cara pandang dalam menyikapi berbagai persoalan di masyarakat.
“Saya mengajak para mahasiswa untuk menjadi pelopor persatuan di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat. Jangan mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi,” kata Arifin.
Arifin juga meminta mahasiswa membangun budaya berdiskusi dan berpikir kritis ketika menerima informasi, khususnya yang beredar melalui media sosial.
“Mari kita kedepankan budaya berdiskusi, berpikir kritis, menghargai keberagaman, dan mencari solusi bersama,” ujarnya.
Arifin berharap mahasiswa dapat berkontribusi menciptakan lingkungan sosial yang harmonis dengan mengedepankan toleransi dan semangat kolaborasi.
“Saya percaya dengan mahasiswa yang berkarakter kuat, berwawasan kebangsaan, dan memiliki semangat kolaborasi, kita dapat membangun lingkungan Jakarta Pusat yang semakin harmonis, aman, toleran, produktif, dan berdaya saing,” kata Arifin.
Dalam dialog tersebut, Penanggung Jawab Tim Kerja Karakter dan Wawasan Kebangsaan Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Dirjen Polpum) Kemendagri Bangun Sitohang menjadi salah satu narasumber.
Ia menyampaikan materi bertajuk “Penguatan Ideologi dan Karakter Kebangsaan Bagi Mahasiswa Menuju Indonesia Emas 2045”.
Selain itu, Dina Kristina memberikan materi mengenai “Bijak Bermedia Sosial dengan Karakter Kebangsaan”.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjadi bagian dari generasi yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki ketahanan ideologi, karakter kebangsaan, serta kemampuan menyaring informasi sebelum menyebarkannya.
(Helmi AR)




































