15 Tahun Sudah Dedi Mengais Rejeki Sebagai Manusia Emas

- Jurnalis

Minggu, 19 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dua orang bocah mengamati dengan seksama Dedi

Dua orang bocah mengamati dengan seksama Dedi "Si Manusia Emas", yang beraksi di kawasan Musium Fatahillah, Sabtu (18/7) sore. (Foto: hw)

Jakarta – Dengan total APBD sebesar Rp.81,32 trilyun pada tahun 2026, Provinsi Jakarta merupakan daerah dengan APBD terbesar di Indonesia, walau pun luas wilayahnya kecil.

Karena besarnya perbuatan uang di Jakarta, dan menjadi kota termodern di Indonesia, tak mengherankan jika Jakarta menjadi tujuan para pencari kerja dari berbagai daerah di Indonesia. Sehingga, meskipun wilayahnya kecil, Jakarta memiliki jumlah penduduk sebanyak 11 juta jiwa lebih.

Banyak yang mengatakan, tidak sulit untuk mencari rejeki di Jakarta. Asal ada kemauan, pasti ada jalan.

Seperti yang dilakukan oleh Dedi (45 tahun), perantau asal sebuah desa di Jawa Timur. Sejak tahun 2011 Dedi mengais rejeki dengan menjadi “manusia emas” di kawasan wisata Kota Tua Jakarta. Tepatnya di seputar Musium Fatahillah.

Julukan “manusia emas” merujuk pada warna seluruh tubuh Dedi yang berwarna kuning keemasan. Warna itu merupakan balutan make-up khusus tahan keringat. Bukan cat. Jadi tidak berbahaya.

Mengenakan rompi terbuka, celana pangsi, topi bambu yang biasa digunakan petani di desa, Dedi cukup berdiri di tepi jalan di pinggiran plaza Musium Fatshillah, yang biasa dilalui oleh wisatawan. Di pinggangnya tergantung sebuah tempat ikan dari jaring untuk menempatkan beberapa barangnya. Dan di depannya digelar sehelai alas dari kulit berbentuk ikan, tempat ia meletakkan kotak untuk menaruh uang bagi orang-orang yang berlimpah kepadanya.

Baik kulit badan, topi, pakaian maupun aksesoris yang dikenakan dicat berwarna emas.

“Tapi ini tidak bukan cat, Mas. Tidak berbahaya. Ini hanya make-up yang bisa dibersihkan,” kata Dedi kepada okjakarta.com yang mewawancarainya, Sabtu (18/7) sore.

Sudah 15 tahun Dedi menjalani profesi itu. Sebagai perantau, ia harus mampu menyiasati keadaan agar bisa bertahan di Kota Jakarta yang kejam. Dengan menjadi manusia emas, diakui ia bisa bertahan hidup.

“Hasilnya memang tidak menentu. Karena kawasan Kota Tua ini kan hanya ramai pada hari Sabtu dan Minggu. Tetapi yang namanya rejeki, kadang hari biasa yang sepi pengunjung, malah suka dapat hasil lebih besar,” kata lajang yang tinggal mengontrak rumah di Kebun Sayur, tidak jauh dari Musium Fatahillah.

Rejeki besar yang datang di hari biasa itu biasanya datang dari wisatawan asing yang minta foto bersama. Wisatawan biasanya memasukan lembaran lima puluh ribuan atau seratus ribuan.

Kadang ada juga panggilan beraksi dari instansi swasta atau pemerintah untuk memeriahkan acara di sana. Tapi untuk acara semacam itu biasanya dia diundang bersama teman-temannya.

Di Kota Tua, Dedi memang tidak sendiri mencari uang dengan cara seperti itu. Ada pula “manusia silver” dan yang lainnya. Mereka tergabung dalam Komunitas Seni Kreasi Kota Tua (KSK). Sebagai anggota komunitas mereka ditarik iuran Rp.20 ribu tiap bulan.

“Biasanya kalau ada yang sakit atau mengalami musibah, Bendahara akan mengeluarkan uang itu untuk membantu,” kata Dedi.

Dari sekian banyak anggota yang berprofesi serupa di Kota Tua, tidak semuanya bertahan. Banyak yang sudah bergabung di kelompok koreografi artis terkenal seperti tim koreografi artis Agnez Monica.

“Biasanya kalau sudah bergabung di sana, mereka tidak mau kembali lagi ke sini, walau pun masih terdaftar sebagai anggota KSK,” tutur Dedi.

Matahari sudah menghilang. Lampu-lampu di Kota Tua mulai menyala. Malam minggu, makin banyak wisatawan yang datang, terutama wisatawan lokal. Dedi tetap bertahan sampai lampu-lampu di kawasan Musium Fatahillah dipadamkan, pukul 22.00 WIB. Esoknya, mulai pukul 09.00, Dedi dan para pencari rejeki di Kawasan Kota Tua, akan kembali lagi. Begitulah rutinitas yang dijalani. (hw)

Berita Terkait

Sambut Hari Anak Nasional 2026, Ancol Gratiskan Tiket Rekreasi Anak ke Lima Wahana Edukatif
Ancol Gratiskan Tiket Sea World dan Jakarta Bird Land untuk Lansia, Dorong Wisata Edukatif yang Inklusif
Rayakan Hari Jadi Perusahaan, Ancol Gratiskan Tiket Masuk bagi Pengunjung pada 10 Juli 2026
Perlu Dukungan Untuk Geopark Belitung
Ancol Gratiskan Tiket Masuk Kendaraan untuk Seluruh Motor Yamaha Selama 3 Hari, Sambut Yamaha Family Day 2026
Majelis Adat Sumedanglarang Keberatan atas Penolakan Dokumen WKP Tampomas, Singgung Dugaan Pelanggaran UU Kearsipan
Naufal Ubaidillah Perkuat Narasi Global South Melalui Festival Film Internasional di Turki
Gerbang Ancol–JIS Resmi Beroperasi, Perkuat Integrasi Transportasi, Pariwisata dan Kawasan Olahraga Jakarta Utara
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 11:25 WIB

15 Tahun Sudah Dedi Mengais Rejeki Sebagai Manusia Emas

Kamis, 16 Juli 2026 - 23:05 WIB

Sambut Hari Anak Nasional 2026, Ancol Gratiskan Tiket Rekreasi Anak ke Lima Wahana Edukatif

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:55 WIB

Ancol Gratiskan Tiket Sea World dan Jakarta Bird Land untuk Lansia, Dorong Wisata Edukatif yang Inklusif

Selasa, 7 Juli 2026 - 15:06 WIB

Rayakan Hari Jadi Perusahaan, Ancol Gratiskan Tiket Masuk bagi Pengunjung pada 10 Juli 2026

Senin, 6 Juli 2026 - 09:43 WIB

Perlu Dukungan Untuk Geopark Belitung

Berita Terbaru

Dua orang bocah mengamati dengan seksama Dedi

pariwisata

15 Tahun Sudah Dedi Mengais Rejeki Sebagai Manusia Emas

Minggu, 19 Jul 2026 - 11:25 WIB