Jakarta, okjakarta.com – Belitong (Belitung) telah menyandang status UNESCO Global Geopark sejak ditetapkan dalam Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-211 di Paris, Prancis, pada April 2021.
Kawasan Belitong UNESCO Global Geopark memiliki luas sekitar 4.800 kilometer persegi wilayah daratan dan 13.000 kilometer persegi wilayah laut, dengan 24 geosite yang tersebar di Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur. Dalam revalidasi pertama yang dilaksanakan pada 15–20 Juli 2024, tim asesor UNESCO memberikan lima rekomendasi dan empat saran perbaikan dengan hasil akhir berupa Yellow Card.
Kementerian Pariwisata mencatat sejumlah aspek yang perlu terus diperkuat, antara lain kelembagaan pengelola geopark, dukungan anggaran, penyelesaian regulasi yang dibutuhkan, kesiapan masyarakat di sekitar geosite, serta penguatan interpretasi dan storytelling pada setiap geosite. Promosi geopark sebagai bagian dari daya tarik wisata juga perlu dikembangkan secara lebih terarah.
“Oleh karena itu, saya berharap pertemuan hari ini dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai perkembangan tindak lanjut atas seluruh rekomendasi UNESCO, sekaligus mengidentifikasi hal-hal yang masih memerlukan dukungan dan percepatan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah,” kata Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana di Hotel Sheraton Belitung, Minggu (5/7/2026).
Kementerian Pariwisata akan terus memberikan pendampingan hingga seluruh tahapan revalidasi selesai. Dukungan tersebut antara lain dilakukan melalui pemasangan rambu di geosite prioritas, penyelenggaraan seminar internasional, serta pembuatan papan informasi dalam dua bahasa di sejumlah geosite.
Penggunaan material papan informasi yang tahan terhadap perubahan cuaca, baik hujan maupun panas, turut menjadi perhatian agar fasilitas tidak mudah rusak dan dapat memberikan informasi secara berkelanjutan kepada wisatawan.
Pendampingan juga mencakup pembaruan berkala situs web resmi geopark, integrasi tautan informasi peringatan dini cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terutama terkait potensi hujan, badai, dan gelombang tinggi, serta keberlanjutan program edukasi Geopark Goes to School.
Kesiapan masyarakat lokal dalam menyambut tim asesor juga menjadi perhatian. Pengalaman pada proses revalidasi sebelumnya menunjukkan asesor kerap berdiskusi secara langsung dengan warga yang tinggal di sekitar geosite.
Oleh karena itu, seluruh rekomendasi dan saran UNESCO terhadap Belitong UNESCO Global Geopark harus direspons secara serius. Menpar menegaskan tindak lanjut tidak cukup berhenti pada dokumen administratif, tetapi harus diwujudkan melalui langkah konkret dan perubahan nyata di lapangan. (*/hw)




































