JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mendorong Kawasan KUNCI Bersama menjadi model pengembangan kawasan berbasis aglomerasi polisentris guna mempercepat pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Hal tersebut disampaikan AHY usai menghadiri sekaligus memberikan keynote speech dalam KUNCI Bersama Summit 2026 di Jakarta, Senin (27/7).
Menurut AHY, kawasan yang mencakup delapan kabupaten/kota di Jawa Barat dan dua kabupaten di Jawa Tengah itu memiliki potensi besar di sektor industri, ekonomi, pariwisata, hingga pengembangan wilayah. Namun, potensi tersebut dinilai belum optimal tanpa dukungan konektivitas dan infrastruktur yang terintegrasi.
“Kawasan KUNCI Bersama memiliki potensi yang sangat besar dari sisi ekonomi, industri, pariwisata, dan pengembangan wilayah. Namun, potensi tersebut harus didukung oleh konektivitas dan infrastruktur yang terintegrasi agar mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar AHY.
Ia menilai posisi strategis kawasan tersebut semakin diperkuat dengan keberadaan Pelabuhan Patimban sebagai gerbang logistik nasional dan Bandara Internasional Kertajati sebagai pintu gerbang transportasi udara. Pemerintah, kata dia, terus mengoptimalkan fungsi kedua infrastruktur tersebut, termasuk menjadikan Kertajati sebagai pusat industri kedirgantaraan nasional.
Selain pembangunan infrastruktur, AHY menekankan pentingnya penataan ruang yang mampu mengembangkan potensi unggulan setiap daerah, mulai dari sektor pariwisata, agribisnis, kawasan pangan berkelanjutan, hingga industri. Langkah itu diyakini dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Menurut AHY, pembangunan infrastruktur tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga harus memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Bukan semata membangun jalan, pelabuhan, atau bandara, melainkan bagaimana infrastruktur tersebut membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata,” katanya.
AHY juga menyoroti masih adanya kesenjangan pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Karena itu, ia menawarkan konsep aglomerasi polisentris, yakni pengembangan beberapa pusat pertumbuhan yang saling terhubung sesuai keunggulan masing-masing wilayah.
Pendekatan tersebut dinilai mampu menekan biaya logistik, memperlancar mobilitas barang dan manusia, serta meningkatkan produktivitas kawasan melalui konektivitas yang terintegrasi.
AHY menegaskan pembangunan kawasan tidak lagi dapat dilakukan dengan pendekatan sektoral. Menurutnya, kolaborasi antardaerah menjadi kunci agar setiap wilayah dapat berkembang sesuai potensinya sekaligus saling mendukung.
“Yang dibutuhkan adalah pengembangan kawasan yang terintegrasi sehingga setiap daerah dapat tumbuh sesuai keunggulannya, namun tetap saling terhubung dan saling memperkuat,” ujarnya.
Ia menambahkan, inisiatif pembentukan Kawasan KUNCI Bersama lahir dari aspirasi para kepala daerah yang ingin mempercepat pembangunan melalui kerja sama lintas wilayah. Pemerintah pusat, lanjut AHY, siap mengawal pengembangan kawasan tersebut agar menjadi model pemerataan pembangunan di berbagai daerah Indonesia.
KUNCI Bersama Summit 2026 dihadiri Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan bersama sepuluh kepala daerah yang tergabung dalam KUNCI Bersama, serta sejumlah pejabat pemerintah pusat.




































