BANYUASIN – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mendorong pemerintah daerah menjadikan penghijauan sebagai gerakan berkelanjutan yang tidak hanya berdampak pada kelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat.
Bima mengatakan rehabilitasi hutan dan lahan tidak cukup dilakukan melalui penanaman pohon. Menurutnya, kegiatan tersebut harus disertai perawatan dan kolaborasi lintas sektor agar memberikan dampak jangka panjang.
“Penanaman ini bukan hanya sekadar seremoni, ini bukan sekadar aktivitas biasa, tapi ini tentang membangun ketahanan ekologis. Ini juga tentang sosial ekonomi. Ini yang tidak mudah karena ini membutuhkan kolaborasi,” kata Bima dalam peresmian Pusat Persemaian Sriwijaya Kemampo di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Sabtu (8/8/2026).
Ia menilai penghijauan perlu ditempatkan sebagai bagian dari agenda pembangunan daerah. Untuk itu, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mendorong agar aspek ekologis menjadi salah satu indikator dalam perencanaan dan evaluasi pembangunan di daerah.
“[Kemendagri] berikhtiar untuk memastikan bahwa semua perencanaan di daerah, yang direncanakan oleh Pak Gubernur, Bupati/Wali Kota, ini memiliki indikator ekologis. Jadi setiap melakukan asesmen, pasti kita lihat unsur-unsur ini,” ujarnya.
Bima mengakui pelaksanaan penghijauan berkelanjutan masih menghadapi berbagai tantangan. Di antaranya persoalan alih fungsi lahan, konflik lahan, hingga pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan karakteristik wilayah.
Karena itu, pemerintah daerah dinilai membutuhkan dukungan dan pendampingan dari berbagai pihak. Bima mengajak pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat untuk bersama-sama memastikan program penghijauan dapat berjalan hingga tahap pemeliharaan.
“Mari kita bangun kolaborasi, mari kita bangun co-creation. Tidak hanya dengan sesama institusi pemerintah, provinsi, kota, kabupaten, tapi dengan kampus, dengan korporasi dan lain-lain,” katanya.
Bima berharap agenda penghijauan yang telah diinisiasi Presiden dapat berkembang menjadi gerakan bersama dan tidak berhenti sebagai kegiatan penanaman pohon.
“Dan kita jadikan bersama-sama penghijauan yang sudah diinisiasi dan diperintahkan oleh Presiden sebagai movement. Bukan hanya kegiatan, tapi gerakan,” lanjutnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya merawat lingkungan. Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan tidak dapat hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari keberlanjutan pemeliharaannya.
“Mari kita sama-sama bangun budaya merawat, bukan hanya sekadar menanam, bukan juga hanya sekadar seremoni, tapi semuanya berorientasi pada aksi yang permanen dan berkelanjutan,” tegas Bima.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Ahmad Riza Patria, Direktur APP Group Soewarso, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, para bupati dan wali kota se-Sumatera Selatan, pejabat kementerian/lembaga terkait, serta jajaran Forkopimda Provinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten Banyuasin.




































