JAKARTA – Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin meninjau kapal Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) JS Kunisaki beserta tiga helikopter CH-47 Chinook di Mempawah, Kalimantan Barat, Rabu (16/9).
Kapal dan tiga helikopter milik Jepang tersebut dikerahkan untuk membantu mempercepat penanganan dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Barat.
Dalam kunjungan tersebut, Sjafrie menyampaikan apresiasi kepada unsur pimpinan pasukan bela diri Jepang yang berada di atas kapal JS Kunisaki. Ia juga berdiskusi dengan sejumlah pimpinan delegasi Jepang terkait perkembangan operasi bantuan kemanusiaan tersebut.
Para pimpinan delegasi Jepang yang ditemui Sjafrie antara lain Joint Force Commander Col Nakahara Syunzi, 1st Amphibious Squadron Commander Col Noma Toshihide, JS Kunisaki Commander Lt. Col Osanai Tetsuya, CH-47 Squadron Commander Lt. Col Wakatsuki, serta pimpinan tim aju Col. Ichihasi.
Sjafrie menerima laporan mengenai kondisi dan perkembangan operasional pasukan Jepang di lapangan. Dalam kesempatan itu, ia juga berkomunikasi melalui sambungan telepon dengan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi.
“Sebagai Menteri Pertahanan, saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi atas respons cepat dalam memberikan bantuan helikopter CH-47 yang dilengkapi kemampuan pemadaman kebakaran,” ujar Sjafrie.
Kerja sama antara TNI dan pasukan Jepang turut diperkuat dengan penempatan tiga safety officer dari masing-masing matra TNI, yakni TNI AD, TNI AL, dan TNI AU. Mereka bertugas mendukung koordinasi operasional bantuan di lapangan.
Sjafrie mengatakan bantuan Jepang tersebut merupakan bentuk konkret implementasi hubungan bilateral dan Kerja Sama Pertahanan atau Defense Cooperation Agreement (DCA) antara Indonesia dan Jepang.
Menurutnya, kerja sama tersebut dilandasi prinsip mutual respect dan mutual benefit atau saling menghormati dan saling memberikan manfaat.
“Bantuan kemanusiaan ini bergabung dengan Satgas TNI untuk membantu BNPB. Kemampuan nasional tetap dikerahkan secara penuh, namun dukungan dari Jepang diintegrasikan agar penanganan bencana dapat berjalan semakin cepat dan efektif,” kata Sjafrie.
Dalam perkembangan operasi, pemerintah juga menyiapkan rencana pergeseran wilayah operasi ke bagian selatan Kalimantan Barat, yakni Ketapang. Pergeseran tersebut mempertimbangkan kondisi wilayah yang dinilai lebih mendukung optimalisasi penggunaan helikopter CH-47.
Di sela peninjauan, hubungan antara pasukan Indonesia dan Jepang juga berlangsung dalam suasana akrab. Pasukan Jepang disebut menikmati sajian makanan khas Indonesia selama berada di wilayah tersebut.
Sjafrie berharap integrasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan soliditas kerja sama Indonesia-Jepang dapat memberikan manfaat nyata dalam penanganan karhutla.
“Yang paling penting adalah bagaimana seluruh kemampuan yang ada dapat digunakan untuk melindungi masyarakat, mempercepat pemadaman, dan mengurangi dampak Karhutla. Itulah manfaat nyata dari hubungan baik dan diplomasi pertahanan Indonesia dan Jepang,” pungkas Sjafrie.




































