WASHINGTON DC – Keputusan mengejutkan datang dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjelang berakhirnya masa gencatan senjata dengan Iran.
Alih-alih mengakhiri jeda konflik yang sedianya berakhir pada Rabu (22/4/2016), Trump justru mengumumkan perpanjangan gencatan senjata pada Selasa (21/4/2026) malam waktu setempat. Pengumuman itu disampaikan melalui akun media sosial Truth Social miliknya, dengan penegasan bahwa perpanjangan berlaku hingga Teheran mengajukan proposal konkret dalam proses negosiasi.
Meski memperpanjang masa jeda, Trump menegaskan pendekatan keras Washington belum berubah. Tekanan militer tetap dijaga, termasuk kelanjutan blokade Angkatan Laut AS terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Mengutip laporan Agence France-Presse (AFP), keputusan tersebut juga diklaim diambil atas permintaan Pakistan yang berperan sebagai mediator dalam upaya meredakan ketegangan kedua negara. Seiring perkembangan itu, Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan membatalkan rencana kunjungannya ke Pakistan untuk menghadiri putaran lanjutan pembicaraan damai.
Di sisi lain, respons dari Teheran belum sepenuhnya sejalan. Kantor berita Tasnim News Agency melaporkan pemerintah Iran tidak pernah mengajukan permintaan perpanjangan gencatan senjata. Bahkan, Iran memperingatkan akan merespons blokade yang dilakukan AS dengan kekuatan militer jika diperlukan.
Langkah Trump itu pun ditafsirkan berbeda oleh pihak Iran. Teheran menilai kebijakan tersebut sebagai manuver taktis untuk mengulur waktu, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan mendadak dari Washington.
Situasi ini menandai bahwa meski ruang diplomasi masih terbuka, ketegangan militer antara kedua negara belum benar-benar mereda.
Reporter: Yoga Stevian




































