Habib Syakur Kritik Rencana Aksi BEM UI pada Hari Bhayangkara ke-80: Jangan Bangun Narasi yang Melemahkan Kepercayaan Publik terhadap Polri

- Jurnalis

Rabu, 1 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Alhamid. (Dok-Istimewa)

Foto: Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Alhamid. (Dok-Istimewa)

JAKARTA – Rencana aksi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) yang mengusung tema “perkabungan” bertepatan dengan peringatan Hari Bhayangkara ke-80 menuai tanggapan dari berbagai kalangan. Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Alhamid, menilai aksi tersebut berpotensi memunculkan persepsi yang tidak tepat terhadap institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Menurut Habib Syakur, Hari Bhayangkara merupakan momentum untuk mengapresiasi dedikasi dan pengabdian seluruh anggota Polri yang selama puluhan tahun menjalankan tugas menjaga keamanan, ketertiban, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, ia menyayangkan apabila peringatan tersebut justru diwarnai aksi yang menurutnya bernuansa simbolik sebagai bentuk “perkabungan”.

“Polisi itu penjaga rakyat, bukan musuh rakyat. Kritik tentu boleh disampaikan dalam negara demokrasi, tetapi jangan sampai dibangun narasi yang membuat masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap institusi yang memiliki tugas menjaga keamanan negara,” ujar Habib Syakur dalam keterangannya, Rabu (1/7/2026).

Habib Syakur juga menanggapi kritik BEM UI yang menyebut reformasi Polri dinilai belum berjalan sebagaimana mestinya. Menurutnya, sejak era reformasi telah terjadi berbagai perubahan mendasar dalam tubuh Polri, termasuk pemisahan institusi Polri dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), penguatan mekanisme pengawasan internal melalui Divisi Propam, hingga adanya pengawasan eksternal dan proses hukum terhadap anggota yang terbukti melakukan pelanggaran.

Ia menilai, berbagai pembenahan tersebut menunjukkan bahwa sistem akuntabilitas terus berjalan dan tidak tepat apabila kesalahan yang dilakukan oleh oknum dijadikan dasar untuk menghakimi seluruh institusi.

“Kalau ada anggota yang melanggar hukum, tentu harus diproses sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, tidak adil apabila tindakan segelintir oknum dijadikan alasan untuk menggeneralisasi seluruh anggota Polri yang setiap hari bekerja melayani masyarakat,” katanya.

Habib Syakur kemudian mengibaratkan situasi tersebut dengan kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, apabila terdapat seorang warga yang melakukan pelanggaran, bukan berarti seluruh lingkungan tempat tinggalnya juga harus dipersalahkan.

Ia pun menilai pendekatan semacam itu perlu menjadi bahan refleksi agar kritik yang disampaikan tetap proporsional dan berorientasi pada perbaikan institusi.

Selain itu, Habib Syakur mengaku prihatin terhadap rencana aksi membawa karangan bunga duka ke kantor Polri pada saat Hari Bhayangkara. Menurutnya, simbol tersebut berpotensi melukai perasaan keluarga besar Polri, terutama para anggota yang telah gugur saat menjalankan tugas negara.

Ia mengingatkan bahwa banyak personel Polri yang kehilangan nyawa dalam operasi pemberantasan terorisme, penegakan hukum, maupun menjaga keamanan di berbagai daerah. Oleh karena itu, ia berharap penghormatan terhadap jasa para anggota Polri tetap dijaga, meskipun kritik terhadap institusi merupakan hak yang dijamin dalam sistem demokrasi.

“Momentum Hari Bhayangkara juga menjadi waktu untuk mengenang mereka yang gugur dalam menjalankan tugas negara. Karena itu, alangkah baiknya apabila semua pihak tetap menjaga etika dan rasa hormat terhadap pengabdian mereka,” tuturnya.

Habib Syakur juga menanggapi salah satu tuntutan yang menyerukan agar Polri dijauhkan dari ruang sipil. Menurutnya, kehadiran polisi dalam kehidupan masyarakat merupakan bagian dari fungsi negara dalam memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada warga.

Ia mencontohkan berbagai situasi yang membutuhkan kehadiran aparat kepolisian, mulai dari penanganan tindak kriminal seperti pencurian dan pembegalan, pengamanan pasar dan ruang publik, penanganan konflik sosial, hingga pemberantasan terorisme.

“Kelompok masyarakat seperti pedagang, pekerja, pengemudi ojek daring, hingga masyarakat kecil pada umumnya masih sangat membutuhkan kehadiran polisi dalam menjaga keamanan dan ketertiban,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Habib Syakur mengajak seluruh masyarakat agar menyikapi berbagai dinamika secara bijaksana dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang berpotensi memecah belah. Ia berharap kritik terhadap institusi negara tetap disampaikan secara konstruktif, objektif, serta mengedepankan semangat perbaikan.

Menurutnya, Polri sebagai institusi negara tetap memerlukan dukungan publik untuk terus berbenah, sekaligus menjalankan tugas menjaga keamanan nasional. Ia menilai kritik dan pengawasan masyarakat merupakan bagian penting dari demokrasi, namun hendaknya dilakukan dengan tetap menghormati jasa serta pengabdian anggota Polri yang telah bekerja untuk kepentingan bangsa dan negara.

Editor: Fahmy Nurdin

Berita Terkait

Sindikat Meterai Palsu Dibongkar, 16 Tersangka dan Potensi Kerugian Negara Rp1,034 Triliun Terungkap
Hadiri Upacara HUT RI di Istana, Chandra Damopolii Abadikan Momen Bersama Sufmi Dasco
KRI Bung Hatta Angkut Logistik untuk Korban Gempa M7,7 NTT ke Manggarai
Ribuan Warga Kalisari Tumpah Ruah Rayakan HUT Ke-81 RI di Pesta Rakyat
Polda Metro Jaya Siagakan 9.242 Personel Amankan 47 Kegiatan di Jakarta, Aspirasi Publik Dikawal Tetap Tertib
Mendagri Tito Dorong Pemda Data Kerusakan Sekolah dan Rumah Ibadah Pascagempa NTT
Menaker Yassierli: Pekerja Kompeten Kunci Perkuat Industrialisasi dan Kemandirian Ekonomi
APALI Hadir di Istana Merdeka, Teguhkan Semangat Kebersamaan pada HUT ke-81 Kemerdekaan RI
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:34 WIB

Sindikat Meterai Palsu Dibongkar, 16 Tersangka dan Potensi Kerugian Negara Rp1,034 Triliun Terungkap

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:32 WIB

Hadiri Upacara HUT RI di Istana, Chandra Damopolii Abadikan Momen Bersama Sufmi Dasco

Rabu, 19 Agustus 2026 - 12:14 WIB

KRI Bung Hatta Angkut Logistik untuk Korban Gempa M7,7 NTT ke Manggarai

Selasa, 18 Agustus 2026 - 23:25 WIB

Ribuan Warga Kalisari Tumpah Ruah Rayakan HUT Ke-81 RI di Pesta Rakyat

Selasa, 18 Agustus 2026 - 16:36 WIB

Polda Metro Jaya Siagakan 9.242 Personel Amankan 47 Kegiatan di Jakarta, Aspirasi Publik Dikawal Tetap Tertib

Berita Terbaru