Dari Upah Rp5.000 hingga Songket Rp20 Juta, Eridal Bawa Dal Songket Menembus Pasar Premium

- Jurnalis

Senin, 24 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Eridal, pelaku usaha dan pengrajin songket Pandai Sikek, menunjukkan sertifikat serta dokumen Indikasi Geografis (IG) yang terpajang di ruang usahanya di Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Foto: Eridal, pelaku usaha dan pengrajin songket Pandai Sikek, menunjukkan sertifikat serta dokumen Indikasi Geografis (IG) yang terpajang di ruang usahanya di Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

JAKARTA — Selembar songket bagi Eridal bukan sekadar kain. Di balik benang yang tersusun rapat dan motif yang dikerjakan dengan ketelitian tinggi, ada sejarah, identitas, sekaligus sumber penghidupan masyarakat Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Lebih dari empat dekade menekuni dunia tenun, Eridal kini dikenal melalui brand Dal Songket. Produk yang dikurasi dan dipasarkannya bahkan mampu menembus harga hingga Rp20 juta per helai.

Perjalanan itu tidak dibangun dalam semalam. Pada 1983, Eridal mengawali karier sebagai penenun dengan membuat selendang berukuran 30 sentimeter x 160 sentimeter. Upah yang diterimanya saat itu hanya Rp5.000.

Pendidikan formal yang hanya ditempuh hingga kelas 2 SMP tak menghalanginya untuk terus mengembangkan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun di Pandai Sikek.

“Di Pandai Sikek, kegiatan menenun dilakukan secara turun-temurun. Saya mulai benar-benar serius setelah 2009, ketika mulai membuat dengan modal sendiri,” kata Eridal.

Tahun 2009 menjadi titik penting. Eridal mulai membangun usaha secara mandiri dan perlahan mengembangkan Dal Songket sebagai brand yang mengutamakan kualitas dan kekhasan tenun Pandai Sikek.

Bertahan di Tengah Perubahan Pasar

Industri tenun Pandai Sikek ikut merasakan perubahan pola perdagangan setelah penjualan melalui platform digital dan live streaming semakin marak.

Pada awal 2025, Eridal sempat mempekerjakan sekitar 25 pengrajin secara langsung. Namun setahun kemudian jumlah itu tinggal lima orang.

Menurut Eridal, penyusutan tersebut bukan semata-mata akibat berkurangnya permintaan. Sebagian pengrajin memilih memasarkan sendiri produk mereka melalui siaran langsung di media sosial.

Eridal pun mengambil pendekatan berbeda. Alih-alih mempertahankan jumlah pekerja dalam skala besar, ia memilih membeli songket dari para pengrajin secara selektif.

“Saya lebih suka membeli songket dari pengrajin. Risikonya pun kecil. Kalau suka, kami beli; kalau tidak suka, kami tidak ambil,” ujarnya.

Strategi tersebut membuat Dal Songket dapat lebih leluasa mengendalikan modal sekaligus mempertahankan standar produk. Setiap kain yang masuk melalui proses seleksi sebelum dipasarkan.

Model bisnis itu juga menempatkan Eridal bukan hanya sebagai pedagang, tetapi sebagai kurator yang menentukan kualitas songket yang layak masuk ke segmen premium.

Rp20 Juta untuk Sebuah Motif

Salah satu karya yang menunjukkan tingginya nilai tenun Pandai Sikek adalah songket dengan motif Tumpal Sirih Gadang.

Motif sirih memiliki kedudukan penting dalam tradisi Minangkabau. Daun sirih digunakan dalam sekapur sirih sebagai bagian dari penyambutan tamu dalam berbagai kegiatan adat.

Kerumitan motif, bahan, benang, serta lamanya proses pengerjaan membuat harga songket sangat beragam.

Songket berbahan katun dengan motif klasik dapat dipasarkan sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta. Sementara penggunaan sutra dan motif yang lebih rumit dapat mendorong harga hingga Rp6 juta-Rp10 juta.

Untuk karya tertentu dengan tingkat kerumitan tinggi, harga bahkan dapat mencapai Rp20 juta per helai.

Bagi Eridal, harga tersebut bukan sekadar angka. Nilai sebuah songket juga ditentukan oleh waktu, keterampilan, bahan, serta pengetahuan budaya yang melekat pada kain tersebut.

Bada Mudiak dan Pesan Kebersamaan

Selain Sirih Gadang, Dal Songket juga mengangkat motif Bada Mudiak.

Bada merupakan ikan kecil yang hidup di perairan Minangkabau dan dikenal bergerak secara berkelompok. Ikan-ikan tersebut berenang searah dan menjadi inspirasi bagi salah satu motif klasik songket Pandai Sikek.

Eridal menyebut motif itu menyimpan pesan mengenai pentingnya kebersamaan.

“Bada adalah ikan kecil yang berenang searah. Filosofinya, kita harus berjalan seiya sekata dalam mufakat,” katanya.

Pesan tersebut sejalan dengan nilai musyawarah dan kebersamaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau.

Dengan demikian, motif pada songket tidak hanya berfungsi sebagai ornamen. Ia menjadi medium untuk menyampaikan nilai dan filosofi yang diwariskan lintas generasi.

Menjaga 800 Pengrajin

Di balik perjalanan Dal Songket, terdapat ekosistem tenun yang jauh lebih besar.

Diperkirakan sekitar 800 pengrajin masih menekuni aktivitas menenun di Nagari Pandai Sikek. Keberadaan mereka menunjukkan bahwa tenun masih menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat setempat.

Namun, tantangan regenerasi tetap menjadi pekerjaan rumah.

Perubahan pola pemasaran memang membuka akses pasar yang lebih luas. Tetapi pada saat yang sama, persaingan harga dan membanjirnya produk di ruang digital dapat memunculkan persoalan baru terkait standar kualitas dan keberlanjutan tradisi.

Eridal melihat pentingnya menjaga kualitas agar songket Pandai Sikek tidak kehilangan identitasnya ketika memasuki pasar yang semakin terbuka.

Sebagai Ketua Masyarakat Peduli Indikasi Geografis Songket Pandai Sikek (MPIG), ia juga terlibat dalam upaya mempertahankan karakter dan keaslian produk tersebut.

Teknik pembuatan songket Pandai Sikek, kata Eridal, membutuhkan ketelitian tinggi. Teknik seperti cucuk dan sesangkak menuntut penenun memahami susunan benang serta pola motif secara detail.

“Urutan benang harus tepat, hitungan helainya tidak boleh keliru, dan pola pun harus dihafal sepenuhnya tanpa bantuan alat modern. Satu kesalahan kecil saja dapat merusak keseluruhan komposisi motif,” ujarnya.

Warisan yang Harus Terus Hidup

Pengakuan terhadap songket Pandai Sikek memperkuat posisi kain tradisional tersebut sebagai bagian penting dari warisan budaya.

Songket Pandai Sikek juga telah memperoleh perlindungan melalui Indikasi Geografis, yang menegaskan keterkaitan produk dengan karakteristik daerah asal serta pengetahuan tradisional masyarakatnya.

Bagi Eridal, perlindungan tersebut penting agar kualitas dan identitas songket Pandai Sikek tetap terjaga ketika produk tersebut semakin dikenal di pasar nasional maupun internasional.

Perjalanan Eridal dari menerima upah Rp5.000 pada 1983 hingga mengembangkan songket dengan harga puluhan juta rupiah menunjukkan bahwa tradisi dan bisnis tidak harus saling bertentangan.

Justru melalui inovasi, kurasi, pemasaran dan perlindungan budaya, tradisi lama dapat menemukan ruang baru di tengah perubahan zaman.

Semangat itu sejalan dengan gelaran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang digelar Bank Indonesia pada 20-23 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).

KKI 2026 mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”. Sebanyak 1.850 UMKM berpartisipasi dalam ajang tersebut, terdiri atas 550 UMKM secara luring dan 1.300 UMKM secara daring.

Kisah Dal Songket menjadi gambaran bahwa kekuatan UMKM tidak selalu lahir dari teknologi tinggi. Dalam kasus Eridal, kekuatan itu justru berawal dari keterampilan tradisional yang diwariskan selama puluhan tahun, kemudian dipadukan dengan keberanian membangun usaha dan kemampuan membaca perubahan pasar.

Dari Pandai Sikek, benang-benang emas itu terus dirajut. Bukan hanya menjadi kain mahal, tetapi menjadi cerita tentang ketekunan, identitas dan upaya menjaga warisan agar tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.

(Helmi AR)

Berita Terkait

Maman Abdurrahman, Menteri UMKM, UMKM, kewirausahaan, pengusaha muda, mahasiswa, Universitas Sumatera Utara, USU, Medan, Sumatera Utara, lapangan kerja
Mendag Soroti Harga Ayam, Minta Tetap Beri Insentif Peternak
Karnaval Malam Merdeka Meriah, 1.200 UMKM Sajikan Kuliner Gratis untuk Rakyat
Kementerian UMKM Perkuat Standar Pelayanan Publik, Pastikan Layanan Lebih Pasti dan Mudah Diakses
Tinjau PPLI, Menteri LH Tekankan Pengelolaan Limbah B3 Harus Terlacak dari Hulu ke Hilir
Batman Cafe Hadirkan Hiburan Musik dan Kepedulian Sosial untuk Warga
Menko Airlangga: Sinergi Pemerintah-Dunia Usaha Kunci Perkuat Ekonomi Nasional
bank bjb Catat Laba Semester I 2026 Melonjak 58,8 Persen, Aset Tembus Rp228,2 Triliun
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 13:38 WIB

Dari Upah Rp5.000 hingga Songket Rp20 Juta, Eridal Bawa Dal Songket Menembus Pasar Premium

Senin, 24 Agustus 2026 - 08:26 WIB

Maman Abdurrahman, Menteri UMKM, UMKM, kewirausahaan, pengusaha muda, mahasiswa, Universitas Sumatera Utara, USU, Medan, Sumatera Utara, lapangan kerja

Jumat, 21 Agustus 2026 - 12:46 WIB

Mendag Soroti Harga Ayam, Minta Tetap Beri Insentif Peternak

Rabu, 19 Agustus 2026 - 08:24 WIB

Karnaval Malam Merdeka Meriah, 1.200 UMKM Sajikan Kuliner Gratis untuk Rakyat

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:01 WIB

Kementerian UMKM Perkuat Standar Pelayanan Publik, Pastikan Layanan Lebih Pasti dan Mudah Diakses

Berita Terbaru

Foto: Tokoh masyarakat sekaligus budayawan Betawi, Babe Mujamil atau yang akrab disapa Babe Jamil, bersilaturahmi dengan jajaran PWI Pokja Wali Kota Jakarta Barat di sela kegiatan Fun Run Wali Kota Jakarta Barat 2026, Minggu (23/8/2026).

Wali Kota Jakarta Pusat

Fun Run Jakbar 2026 Perkuat Sinergi Warga, Pemerintah, dan Insan Pers

Minggu, 23 Agu 2026 - 19:54 WIB