Dipertuan Agung DAN-RI Sultan Sepuh Cirebon Serukan Gerakan Nasional Stop Bullying, Selamatkan Masa Depan Anak Indonesia

- Jurnalis

Kamis, 13 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Flyer Kanjeng Gusti Sultan Sepuh, Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., S.H., M.H., menggagas seruan nasional agar seluruh elemen bangsa menghentikan praktik perundungan dan bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak Indonesia. (Dok: Istimewa)

Foto: Flyer Kanjeng Gusti Sultan Sepuh, Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., S.H., M.H., menggagas seruan nasional agar seluruh elemen bangsa menghentikan praktik perundungan dan bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak Indonesia. (Dok: Istimewa)

JAKARTA – Persoalan perundungan atau bullying terhadap anak kembali mendapat perhatian serius. Kanjeng Gusti Sultan Sepuh, Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., S.H., M.H., menggagas seruan nasional agar seluruh elemen bangsa menghentikan praktik perundungan dan bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak Indonesia.

Dalam seruannya, Pangeran Heru mengajak tokoh bangsa, pemerintah, aparat penegak hukum, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dunia pendidikan, pelaku usaha, komunitas, organisasi kemasyarakatan, insan media, orang tua, generasi muda hingga seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan perlindungan anak sebagai kepedulian bersama, Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, bangsa Indonesia perlu mengurangi energi yang selama ini terkuras oleh berbagai perdebatan, perselisihan, saling serang dan saling menyalahkan. Di tengah berbagai persoalan tersebut, terdapat kepentingan yang jauh lebih mendasar dan menyangkut masa depan bangsa, yakni memastikan anak-anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat dan penuh kepedulian.

“STOP BULLYING! STOP PERUNDUNGAN!”

Seruan tersebut menjadi pesan utama yang disampaikan Pangeran Heru sebagai penggagas Gerakan Nasional Stop Bullying.

Perundungan Bukan Persoalan Sepele

Pangeran Heru menilai perundungan tidak boleh lagi dipandang sebagai kenakalan biasa atau persoalan kecil yang dapat diselesaikan dengan membiarkannya berlalu.

Perundungan dapat memberikan dampak yang panjang terhadap kehidupan anak. Tidak hanya menyangkut hubungan sosial, tindakan tersebut juga dapat memengaruhi rasa percaya diri, kenyamanan dalam mengikuti pendidikan, hubungan dengan lingkungan sekitar serta perkembangan anak dalam menjalani kehidupan.

Karena itu, setiap bentuk perundungan perlu mendapatkan perhatian dari orang dewasa dan lingkungan di sekitar anak.

“Anak-anak kita membutuhkan perhatian kita. Anak-anak kita membutuhkan kasih sayang kita. Anak-anak kita membutuhkan sentuhan kepedulian kita,” demikian pesan yang disampaikan dalam seruan tersebut.

Ia menegaskan bahwa anak yang sedang menghadapi persoalan membutuhkan orang dewasa yang bersedia hadir, mendengar, melindungi dan memberikan pendampingan.

Mengajak Bangsa Mengurangi Ego dan Perpecahan

Seruan tersebut juga membawa pesan yang lebih luas mengenai pentingnya membangun budaya sosial yang mengedepankan kepedulian.

Pangeran Heru mengajak masyarakat untuk sejenak mengesampingkan berbagai perbedaan dan kepentingan kelompok yang berpotensi memecah perhatian terhadap persoalan perlindungan anak.

Menurutnya, perbedaan latar belakang, organisasi, agama, suku maupun pilihan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun komitmen bersama dalam melindungi generasi penerus bangsa.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat merendahkan ego dan menempatkan keselamatan anak sebagai salah satu prioritas bersama.

“Sudah saatnya kita merendahkan hati. Sudah saatnya kita menundukkan ego. Sudah saatnya kita mengesampingkan perbedaan,” menjadi salah satu pesan utama dalam seruan tersebut.

Dimulai dari Rumah dan Sekolah

Gerakan melawan perundungan, menurut Pangeran Heru, tidak cukup hanya menjadi slogan. Upaya tersebut harus dimulai dari lingkungan terdekat anak.

Keluarga menjadi tempat pertama untuk membangun karakter sekaligus memberikan rasa aman. Orang tua memiliki peran penting dalam menciptakan komunikasi terbuka sehingga anak tidak merasa takut untuk menceritakan persoalan yang dialaminya.

Sekolah juga memiliki posisi strategis. Lingkungan pendidikan harus menjadi ruang yang aman bagi seluruh peserta didik, bukan tempat di mana anak merasa terancam, dikucilkan atau dipermalukan.

Selain keluarga dan sekolah, masyarakat di lingkungan tempat anak tumbuh juga memiliki tanggung jawab moral untuk tidak membiarkan perundungan berlangsung tanpa perhatian.

“Mari kita mulai dari rumah. Mari kita mulai dari sekolah. Mari kita mulai dari lingkungan kita. Mari kita mulai dari diri kita sendiri.”

Pesan tersebut menegaskan bahwa perubahan tidak harus menunggu kebijakan besar. Kepedulian dapat dimulai dari tindakan sederhana di lingkungan masing-masing.

Jangan Biarkan Anak Tumbuh dalam Ketakutan

Pangeran Heru mengingatkan bahwa anak-anak membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka berkembang tanpa rasa takut.

Karena itu, masyarakat diminta tidak menutup mata ketika menemukan tindakan perundungan. Anak yang menjadi korban harus mendapatkan ruang untuk berbicara dan didampingi secara tepat, sementara persoalan yang terjadi perlu diselesaikan secara bertanggung jawab.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan perundungan sebagai sesuatu yang dianggap lumrah hanya karena dilakukan dengan dalih bercanda, tradisi pergaulan atau bagian dari proses pendewasaan.

Sikap saling menghormati perlu ditanamkan sejak dini. Anak harus dibimbing untuk memahami bahwa perbedaan karakter, kemampuan, kondisi keluarga, penampilan maupun latar belakang bukan alasan untuk merendahkan orang lain.

Mengubah Budaya Menyakiti Menjadi Budaya Melindungi

Seruan Gerakan Nasional Stop Bullying juga membawa ajakan untuk melakukan perubahan budaya dalam kehidupan bermasyarakat.

Pangeran Heru mengajak seluruh elemen bangsa mengubah budaya saling menyakiti menjadi budaya saling melindungi, mengubah kebencian menjadi kepedulian dan mengubah perpecahan menjadi persatuan.

Pesan tersebut tidak hanya ditujukan kepada anak-anak. Orang dewasa juga memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan contoh bagaimana menyelesaikan perbedaan secara bermartabat.

Di era komunikasi digital, semangat tersebut juga relevan terhadap perilaku saling mengejek, mempermalukan dan menyerang orang lain melalui ruang digital. Anak-anak dan generasi muda perlu mendapatkan pendampingan agar mampu menggunakan teknologi dan media sosial secara bertanggung jawab.

Seruan untuk Seluruh Elemen Bangsa

Sebagai penggagas Gerakan Nasional Stop Bullying, Pangeran Heru mengajak seluruh komponen bangsa bergerak bersama.

Pemerintah dan aparat penegak hukum diharapkan terus memperkuat perlindungan terhadap anak. Dunia pendidikan diharapkan menciptakan lingkungan belajar yang aman. Tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat dapat mengambil peran melalui pendidikan moral dan keteladanan.

Sementara itu, orang tua memiliki tanggung jawab untuk membangun komunikasi dengan anak. Media massa dan komunitas juga diharapkan ikut menyebarluaskan pesan positif mengenai perlindungan anak.

Dengan demikian, gerakan melawan perundungan tidak berhenti pada kampanye, tetapi berkembang menjadi kesadaran bersama yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Satukan Suara, Satukan Langkah

Pada akhirnya, Pangeran Heru menyerukan agar seluruh masyarakat Indonesia menyatukan perhatian pada keselamatan generasi penerus.

“Satukan suara. Satukan langkah. Selamatkan anak-anak Indonesia.”

Seruan tersebut sekaligus menjadi ajakan untuk menjadikan perlindungan anak sebagai gerakan bersama tanpa sekat perbedaan.

Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, kemajuan ekonomi atau perkembangan teknologi, tetapi juga oleh kualitas generasi yang akan meneruskan perjalanan bangsa.

Melindungi anak dari perundungan berarti ikut menjaga kesempatan mereka untuk tumbuh, belajar, berprestasi dan membangun masa depan.

Karena itu, pesan yang disampaikan Pangeran Heru sederhana namun memiliki makna luas: Stop Bullying, Stop Perundungan, dan Selamatkan Masa Depan Generasi Nusantara.

Kanjeng Gusti Sultan Sepuh

Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., S.H., M.H.

Penggagas Gerakan Nasional Stop Bullying

Editor: Fahmy Nurdin

Berita Terkait

Mendagri Ajak Kementerian Beri Apresiasi untuk Pemda Berprestasi
Abdul Muhari Dilantik Jadi Deputi Pencegahan BNPB, Fokus Perkuat Mitigasi Bencana
PWNU Papua Klarifikasi Kritik dan Laporan ke KPK, Kahar Yeliepele: Dugaan Korupsi Harus Dibuktikan Secara Hukum
Maxim Gelar Kompetisi Cerdas Cermat Pelajar di Banten, Asah Kemampuan Bahasa Inggris
Konferwil NU Papua Pegunungan Kembali Percayakan KH. Ahmad Shalehuddin dan H. Abdul Kahar Yelipele Pimpin Organisasi
Mendagri-Tito dan Nusron Teken SEB, Percepat Layanan BPHTB dan Sertifikat Tanah
Kemnaker Integrasikan Data Lintas Instansi Hadapi Era AI dan Otomatisasi
Rapat Pleno Federasi Serikat Pekerja MBG Nusantara Tunjuk Simon Benoni Laratmase sebagai Dewan Pengawas
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari OKJAKARTA.COM di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 19:44 WIB

Dipertuan Agung DAN-RI Sultan Sepuh Cirebon Serukan Gerakan Nasional Stop Bullying, Selamatkan Masa Depan Anak Indonesia

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:28 WIB

Mendagri Ajak Kementerian Beri Apresiasi untuk Pemda Berprestasi

Kamis, 13 Agustus 2026 - 07:56 WIB

Abdul Muhari Dilantik Jadi Deputi Pencegahan BNPB, Fokus Perkuat Mitigasi Bencana

Rabu, 12 Agustus 2026 - 14:20 WIB

PWNU Papua Klarifikasi Kritik dan Laporan ke KPK, Kahar Yeliepele: Dugaan Korupsi Harus Dibuktikan Secara Hukum

Rabu, 12 Agustus 2026 - 13:25 WIB

Maxim Gelar Kompetisi Cerdas Cermat Pelajar di Banten, Asah Kemampuan Bahasa Inggris

Berita Terbaru