OKJAKARTA – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mendorong asosiasi dan pelaku usaha laundry melakukan pemetaan sebaran bisnis di berbagai daerah untuk menciptakan ekosistem usaha yang sehat dan berkelanjutan.
Dorongan itu disampaikan Menteri UMKM saat menghadiri peringatan HUT ke-11 Asosiasi Laundry Indonesia (ASLI) di Jakarta, Senin (14/9). Menurutnya, bisnis laundry kini telah menjadi bagian dari perubahan gaya hidup masyarakat sekaligus berkembang menjadi sektor ekonomi yang tersebar di berbagai wilayah.
“Laundry sudah menjadi tren gaya hidup baru di masyarakat. Kita melihat hampir di semua daerah ada usaha laundry. Ini menunjukkan bahwa prospeknya positif dan terus berkembang,” ujar Menteri UMKM.
Namun, ia mengingatkan pertumbuhan jumlah usaha laundry tidak otomatis meningkatkan pendapatan seluruh pelaku usaha. Konsentrasi usaha yang terlalu tinggi di satu wilayah justru dapat memperketat persaingan dan memicu kanibalisasi pasar.
Karena itu, Menteri UMKM meminta ASLI bersama asosiasi laundry lainnya mulai memetakan potensi pasar dan sebaran usaha di masing-masing daerah.
Menurutnya, pemetaan dapat menjadi dasar bagi pengusaha dalam menentukan lokasi ekspansi dan pengembangan bisnis. Wilayah yang sudah terlalu padat dapat menjadi pertimbangan agar pelaku usaha baru mencari daerah lain yang masih memiliki potensi pasar.
“Jangan hanya mendorong pengusaha membuka laundry, tetapi juga perlu melihat dan mengatur sebarannya. Kalau di satu wilayah sudah terlalu banyak, pengusaha baru dapat diarahkan ke wilayah lain yang masih memiliki potensi. Dengan begitu, semua bisa tumbuh dan bertahan,” katanya.
Menteri menilai pemetaan usaha juga penting untuk menjaga investasi yang telah dikeluarkan pelaku UMKM sekaligus membangun rantai usaha yang lebih kuat.
Ekosistem bisnis laundry tidak hanya mencakup pemilik usaha, tetapi juga pemasok bahan, penyedia mesin dan peralatan, hingga tenaga kerja. Karena itu, keberlangsungan satu unit usaha dapat memberikan dampak ekonomi kepada banyak pihak.
“Ketika kita menghidupkan satu usaha, yang hidup bukan hanya satu orang. Usaha tersebut dapat menyerap dua, tiga, lima, bahkan lebih banyak tenaga kerja. Jadi ketika kita menjaga keberlangsungan usaha laundry, kita juga menjaga kehidupan orang-orang yang bekerja di dalamnya,” ujar Menteri.
Dorong Akses KUR
Dalam dialog bersama pelaku usaha, pengusaha laundry asal Riau sekaligus Ketua DPP ASLI Riau Kabul Santosa menyampaikan kebutuhan pelaku usaha terhadap akses pembiayaan untuk mengembangkan bisnis.
Menanggapi hal tersebut, Menteri UMKM mengatakan pihaknya akan memfasilitasi asosiasi laundry dengan perbankan penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Kami akan memfasilitasi asosiasi dengan bank-bank penyalur KUR. Ini akan segera ditindaklanjuti oleh tim kami bersama asosiasi,” kata Menteri.
Fasilitasi tersebut diharapkan dapat membuka alternatif pembiayaan bagi pelaku usaha laundry sesuai kebutuhan dan kapasitas masing-masing.
Selain pembiayaan, pelaku UMKM juga menyampaikan aspirasi terkait regulasi dan pendampingan usaha. Menteri mengatakan pihaknya akan mengkaji berbagai masukan tersebut dan berkoordinasi dengan kementerian serta lembaga terkait.
Ia menegaskan pengembangan sektor laundry perlu ditempatkan dalam kerangka pemberdayaan UMKM secara menyeluruh. Pertumbuhan jumlah pelaku usaha harus diikuti kemampuan membaca pasar, tata kelola bisnis, akses pembiayaan, dan ekosistem usaha yang mendukung keberlanjutan.
“Kementerian UMKM siap memberikan pelayanan dan dukungan kepada teman-teman yang bergerak di sektor laundry. Ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk memastikan UMKM dapat tumbuh, berkembang, dan berkelanjutan,” kata Menteri UMKM.



































