JAKARTA — Persaingan industri alat berat pertambangan di Indonesia tak lagi sekadar berkutat pada harga pembelian unit. Efisiensi biaya operasional dan kemampuan menjaga alat tetap produktif menjadi faktor yang semakin menentukan.
Kondisi tersebut mendorong PT San Traktor Indonesia (STI), bagian dari Multi Power Group, membawa merek alat berat Shantui dalam gelaran Mining Expo 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta.
Pameran yang berlangsung 9-12 September 2026 itu menjadi momentum STI memperkenalkan pendekatan bisnis bertajuk “The Solution for Efficiency”. STI tampil bersama PT Multi Power Aditama dan PT Haneagle Heavyparts Indonesia di Hall B1, Booth B4201 dan B4301.
STI menempatkan Shantui sebagai salah satu pilihan alat berat yang ditawarkan untuk menjawab kebutuhan perusahaan tambang yang semakin memperhitungkan biaya operasional dalam jangka panjang.
Perwakilan manajemen Multi Power Group, Joseph Effendy, mengatakan perusahaan tidak ingin hanya bersaing melalui harga jual unit.
“Kami tidak hanya menjual satu unit alat. Kami ingin masuk ke ekosistem pertambangan, dari komponen, unit, sampai layanan purna jual,” ujar Joseph dalam keterangan resminya.
Bukan Sekadar Harga Murah
Menurut Joseph, peluang pasar alat berat di Indonesia masih terbuka. Namun, kondisi industri yang dipengaruhi perubahan ekonomi, politik, dan harga komoditas membuat perusahaan harus memiliki strategi yang fleksibel.
“Pasar Indonesia secara umum opportunity-nya masih ada. Politik berganti, ekonomi bergerak, harga komoditas ikut naik-turun. Kalau kami hanya bertumpu pada satu sektor, kami yang akan kesulitan. Karena itu, fleksibilitas menjadi kunci,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Shantui diposisikan sebagai merek yang menawarkan kombinasi antara harga, fleksibilitas, dan efisiensi biaya operasional.
“Shantui merupakan salah satu mitra kami yang menawarkan fleksibilitas lebih tinggi, dengan struktur biaya yang jauh lebih efisien dibandingkan merek-merek premium,” ujar Joseph.
Joseph mengatakan perusahaan tidak menempatkan Shantui sebagai produk dengan harga paling murah. Pertimbangannya justru diarahkan pada biaya yang harus dikeluarkan pelanggan selama unit beroperasi.
“Saya tidak akan mengklaim ini yang termurah. Namun efisiensi biayanya memang nyata. Yang perlu dilihat adalah perspektif jangka panjang, minimal lima tahun ke depan,” tuturnya.
Konsep tersebut menjadi dasar Multi Power Group dalam mengartikan efisiensi. Harga pembelian, kata Joseph, hanya salah satu komponen dari keseluruhan biaya kepemilikan alat.
“Bagi kami, efisiensi bukan hanya mengenai harga komponen saat pembelian. Yang lebih penting adalah bagaimana komponen tersebut dapat bekerja secara optimal, memiliki lifetime yang sesuai dengan kondisi operasional, mengurangi risiko downtime, dan pada akhirnya memberikan cost per hour yang lebih baik bagi pelanggan,” katanya.
Berusia Lebih dari 35 Tahun
Multi Power Group sendiri telah beroperasi di industri alat berat sejak 1991. Perusahaan pada awalnya dikenal sebagai spesialis spare part dan undercarriage.
Pengalaman tersebut kemudian dikembangkan menjadi ekosistem bisnis yang mencakup komponen, alat berat, suku cadang, hingga layanan purna jual.
Ekosistem tersebut ditopang tiga entitas utama, yakni PT Multi Power Aditama yang berfokus pada undercarriage dan Ground Engaging Tools (G.E.T), PT San Traktor Indonesia sebagai penyedia alat berat Hyundai, Shantui, dan Dongfeng, serta PT Haneagle Heavyparts Indonesia yang bergerak dalam distribusi suku cadang untuk big digger.
Joseph mengatakan pengalaman di sektor komponen menjadi salah satu modal perusahaan memahami kebutuhan operasional pelanggan.
Pasar Tambang Mulai Bergeser
Perubahan karakter industri pertambangan juga menjadi perhatian Multi Power Group.
Joseph mengatakan pasar tidak lagi hanya didominasi batu bara. Sejumlah komoditas lain mulai menunjukkan pertumbuhan dan memiliki kebutuhan alat berat dengan karakter operasional yang berbeda.
“Komposisi pasar mulai bergeser. Batu bara dan sawit tetap menjadi tulang punggung, tapi kami melihat pertumbuhan yang cepat di nikel, emas, pasir silika, bauksit, timah, dan tembaga. Masing-masing punya karakter operasional yang berbeda, dan itu yang kami pelajari,” ujarnya.
Menurut dia, perubahan komoditas tidak serta-merta membuat industri pertambangan kehilangan prospek.
“Semua barang pada akhirnya berasal dari tanah. Plastik, minyak, kayu, handphone, semuanya dari hasil galian. Jadi industri pertambangan tidak akan hilang, yang berubah hanya komoditasnya,” kata Joseph.
Perubahan tersebut membuat perusahaan alat berat dituntut memahami karakter masing-masing sektor, mulai dari jenis pekerjaan, kondisi medan, beban kerja, hingga kebutuhan perawatan unit.
Purna Jual Jadi Penentu
Selain produk, Multi Power Group kini memperkuat layanan purna jual. Strategi tersebut dilakukan dengan mendekatkan tim teknis ke lokasi operasional pelanggan.
Joseph mengatakan pendekatan itu merupakan perubahan dari pola bisnis lama yang lebih berorientasi pada penjualan unit.
“Dulu kita memang cuma jual. Orang biasanya tidak peduli, pakai, usai, selesai. Tapi sekarang kita harus evolve. Customer minta after sales, minta service. Kita kunjungi customer, bantu operasional mereka. Bukan cuma jualan, tapi kita bantu profit mereka naik,” ujarnya.
Perusahaan juga berencana memperluas keberadaan tim layanan di sejumlah wilayah yang menjadi pusat aktivitas pertambangan dan perkebunan.
“Service kita memang ditingkatkan, dan kita mau lebih dekat ke customer secara lokasi. Dulu kita lebih banyak di kota-kota. Sekarang kita akan ke lokasi yang ada kebutuhan untuk equipment,” katanya.
Menurut Joseph, kedekatan dengan lokasi kerja pelanggan penting untuk mengurangi potensi downtime.
“Kalau kita cuma jual barang, kita cuma ada toko. Tapi kalau kita ada service, kita punya tim kunjungan setiap bulan, kita butuh mobil, solar, karyawan yang tinggal di dekat lokasi,” ujarnya.
Joseph menambahkan garansi yang diberikan perusahaan bukan sekadar dokumen administrasi, tetapi bagian dari komitmen untuk memberikan dukungan ketika terjadi persoalan di lapangan.
“Garansi itu bukan sekadar kertas, tapi komitmen bahwa kami yang akan turun tangan kalau ada masalah di lapangan,” kata Joseph.
Jaringan STI di Wilayah Tambang
Dalam ekosistem Multi Power Group, STI berperan sebagai penyedia unit sekaligus penghubung kebutuhan pelanggan dengan dukungan komponen, suku cadang, dan layanan purna jual.
STI berkantor pusat di kawasan Pluit, Jakarta Utara. Perusahaan juga memiliki jaringan cabang dan service center di sejumlah wilayah, antara lain Pekanbaru, Muara Enim, Palembang, Melak, Balikpapan, Tarakan, Banjarmasin, Tanjong, Sangatta, Makassar, dan Kendari.
Jaringan tersebut menyasar kawasan yang menjadi pusat kegiatan pertambangan dan perkebunan di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Bagi perusahaan, kedekatan dengan pelanggan menjadi salah satu strategi untuk mempercepat penanganan teknis dan menekan kehilangan waktu produksi akibat gangguan alat.
Mulai Masuk Teknologi Listrik
Selain alat berat konvensional, Multi Power Group juga mulai melihat peluang pada teknologi elektrifikasi.
Salah satunya melalui pengembangan forklift listrik bersama mitra dan pemasok.
Joseph mengatakan perusahaan memilih pendekatan berbasis pembuktian untuk memperkenalkan produk baru kepada pelanggan.
“Untuk produk baru, wajar kalau pelanggan ragu di awal. Dulu mobil listrik masuk Indonesia juga tidak ada yang mau coba, sekarang hampir semua orang pakai,” ujarnya.
Karena itu, perusahaan menawarkan kesempatan kepada pelanggan untuk melakukan pengujian unit sekaligus menghitung efisiensi secara langsung.
“Kami minta pelanggan mencoba dulu, kami dampingi di lapangan, lalu kita hitung bersama: berapa konsumsi energinya, berapa biaya perawatannya, berapa cost per hour-nya dibandingkan unit lama,” kata Joseph.
Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan pelanggan mengambil keputusan berdasarkan data operasional, bukan sekadar klaim pemasaran.
Di tengah perubahan industri tersebut, Shantui tetap menjadi salah satu merek yang menjadi bagian penting portofolio STI untuk memenuhi kebutuhan alat berat dengan pertimbangan produktivitas dan biaya operasional.
Melalui kombinasi produk, ketersediaan komponen, jaringan layanan, dan dukungan teknis, Multi Power Group berupaya menempatkan diri bukan sekadar sebagai penjual alat berat, tetapi sebagai mitra operasional bagi sektor pertambangan, konstruksi, dan perkebunan.
(Helmi AR)




































