Jakarta — Di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan, Universitas Bina Nusantara (Binus) kembali menegaskan standar integritas yang selama ini menjadi nafas kampus tersebut. Salah satu pengingat paling tegas adalah aturan tanpa kompromi: mahasiswa yang terbukti melakukan kecurangan saat ujian akan langsung menerima status Drop Out (DO). Pesan itu terpampang jelas di sebuah banner besar yang terpasang di area strategis Kampus Binus Anggrek, Kemanggisan, Jakarta.
Kebijakan keras itu bukan sekadar ancaman. Binus menilai, membentuk lulusan berkarakter dan berakhlak adalah fondasi yang harus dijaga agar dunia pendidikan tidak terseret oleh praktik tidak jujur yang merusak masa depan bangsa. Integritas, menurut kampus yang kerap meraih posisi atas dalam berbagai pemeringkatan internasional itu, sama pentingnya dengan keahlian teknologi yang diajarkan kepada mahasiswa.
Lebih dari itu, Binus melihat bahwa dunia kerja yang semakin terdigitalisasi tidak hanya menuntut kemampuan teknis, tetapi juga karakter kuat yang bisa menjadi penopang ekosistem teknologi yang beretika. Sebab itu, universitas yang memiliki sembilan kampus di enam kota ini terus memperkuat sinergi antara human intelligence dan artificial intelligence sebagai bentuk kesiapan menghadapi perubahan global.
Dalam upaya memperkuat peran pendidik sebagai garda depan transformasi, Binus menggelar Rapat Kerja Faculty Member yang melibatkan lebih dari 1.400 dosen dari Jakarta, Bandung, Malang, hingga Semarang. Forum yang dihelat di GOR Binus Kampus Alam Sutra, Tangerang, pekan lalu itu menjadi ruang konsolidasi akademik menghadapi tantangan baru pendidikan tinggi.
Rektor Binus University, Dr. Nelly S. Kom., M.M, dalam sambutannya menekankan bahwa pendidikan hari ini membutuhkan pendekatan yang lebih berorientasi pada tujuan — bukan sekadar adaptif terhadap perubahan. “Kita mengajar bukan hanya supaya mahasiswa memahami materi, tetapi agar mereka tumbuh sebagai pribadi. Kita meneliti bukan hanya demi publikasi, tetapi menghadirkan solusi. Dan kita mengabdi bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Rektor, kesiapan menghadapi era AI tidak hanya berbicara soal mahasiswa, tetapi juga kesiapan dosen untuk berkolaborasi secara cerdas dan etis dengan teknologi. Binus menilai teknologi seharusnya memperkokoh nilai kemanusiaan, bukan menggantinya. Karena itu, budaya digital wisdom — bijak, reflektif, dan bertanggung jawab dalam menggunakan AI — terus ditanamkan dalam seluruh proses akademik.
Raker yang juga dihadiri Menteri Koperasi Ferry Juliantoro serta pimpinan Yayasan Bina Nusantara itu menjadi momentum penyelarasan arah menuju visi Binus 2035: fostering and empowering society in building and serving the nation.
Sebagai bentuk apresiasi, kampus memberikan dua jenis penghargaan bagi para pendidik: Best Lecturer Award (BLA) untuk Faculty Member, dan Best Teaching Award (BTA) bagi dosen FM maupun Associate Faculty Member (AFM). Tahun ini, tercatat 9 dosen meraih BLA dan 59 dosen menerima BTA. Penghargaan tersebut diharapkan menjadi pemantik semangat untuk terus berinovasi dan memperkuat kualitas pembelajaran.
Melalui komitmen integritas dan modernisasi pendidikan, Binus berupaya menjaga agar generasi muda tidak hanya unggul secara kompetensi, tetapi juga berkarakter kuat — sebuah kombinasi penting yang dibutuhkan Indonesia di era AI yang penuh tantangan.
Penulis: Matyadi



































