CILACAP – Pulau Nusakambangan yang selama ini dikenal sebagai lokasi lembaga pemasyarakatan berpengamanan tinggi kini menunjukkan wajah baru. Lahan-lahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan disulap menjadi kawasan produktif yang menopang ketahanan pangan sekaligus menjadi sarana pembinaan kemandirian bagi warga binaan.
Transformasi tersebut merupakan bagian dari program ketahanan pangan yang dijalankan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) melalui optimalisasi lahan di lingkungan pemasyarakatan.
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto bersama Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto meninjau langsung sejumlah unit produksi di Nusakambangan, Senin (22/6). Kawasan tersebut kini mengembangkan berbagai sektor usaha, mulai dari budidaya udang vaname, sidat, ikan air tawar, peternakan ayam dan bebek petelur, produksi pupuk, hingga budidaya anggur dan anggrek.
Agus mengatakan pemanfaatan lahan yang sebelumnya tidak produktif dilakukan untuk mendukung kebutuhan internal pemasyarakatan sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Kami memanfaatkan lahan-lahan yang sebelumnya belum digunakan untuk membantu kebutuhan internal pemasyarakatan, termasuk penyediaan bahan pangan bagi warga binaan,” kata Agus.
Menurutnya, hasil produksi dari kawasan tersebut diharapkan dapat berkontribusi terhadap ketersediaan pasokan pangan nasional, termasuk komoditas telur yang berperan dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga di pasaran.
Sementara itu, Titiek Soeharto mengapresiasi perubahan yang terjadi di Nusakambangan. Ia menilai pengelolaan lahan tidur menjadi kawasan produktif menunjukkan potensi besar yang dapat dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan.
“Kami melihat sendiri lahan tidur di sini disulap menjadi lahan produktif. Ini luar biasa dan layak diapresiasi,” ujar Titiek.
Menurutnya, keberhasilan tersebut dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara optimal.
Selain menghasilkan komoditas pangan, program tersebut juga menjadi bagian dari pembinaan warga binaan. Mereka dilibatkan secara langsung dalam kegiatan pertanian, perikanan, dan peternakan sehingga memperoleh keterampilan kerja yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat.
Titiek menilai aspek pembinaan menjadi salah satu nilai penting dalam program tersebut. Selain mendapatkan pengalaman dan keterampilan, warga binaan juga memperoleh premi dari hasil kegiatan kerja yang dapat menjadi bekal setelah menyelesaikan masa pidana.
Agus menegaskan pengembangan kawasan produktif di Nusakambangan akan terus dievaluasi dan diperluas agar manfaatnya semakin besar, baik untuk mendukung ketahanan pangan maupun meningkatkan kualitas pembinaan warga binaan.
Transformasi Nusakambangan menjadi kawasan produktif menunjukkan pendekatan pemasyarakatan yang tidak hanya berfokus pada pelaksanaan hukuman, tetapi juga pada pemberdayaan dan persiapan warga binaan untuk kembali berperan di tengah masyarakat.




































