JAKARTA – Gagasan mengenai penguatan peran Forum Nasional Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) sebagai penggerak moderasi beragama, penguatan persatuan nasional, serta pembangunan peradaban Indonesia yang inklusif kembali mengemuka. Pada Kamis (9/7/2026) melalui sebuah tulisan reflektif bertajuk “Forum Nasional Ikatan Alumni PTKIN: Membangun Paradigma Islam Rahmatan lil ‘Alamin di Tengah Tantangan Kebangsaan”, Prof. Idrus Al-Hamid mengajak para alumni PTKIN di seluruh Indonesia untuk mengambil peran strategis dalam menjawab berbagai tantangan kebangsaan yang semakin kompleks.
Menurut Prof. Idrus Al-Hamid, Indonesia sebagai negara dengan tingkat kemajemukan yang sangat tinggi membutuhkan fondasi sosial yang kuat agar keberagaman tetap menjadi sumber kekuatan, bukan pemicu perpecahan. Dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa dan terdiri atas berbagai agama, suku, bahasa, adat istiadat, serta budaya, stabilitas nasional dinilai sangat bergantung pada kemampuan seluruh elemen bangsa dalam menjaga harmoni sosial.
Dalam pandangannya, tantangan kebangsaan saat ini tidak hanya berasal dari persoalan ekonomi maupun politik. Arus globalisasi, polarisasi politik, meningkatnya intoleransi, penyebaran ujaran kebencian di ruang digital, hingga berkembangnya berbagai ideologi transnasional menjadi tantangan nyata yang memerlukan respons berbasis ilmu pengetahuan, nilai kebangsaan, dan etika keagamaan.
Prof. Idrus menilai alumni PTKIN memiliki posisi yang sangat strategis karena selama ini telah berkontribusi di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, birokrasi, lembaga peradilan, penelitian, dakwah, organisasi kemasyarakatan, hingga pemerintahan. Potensi tersebut, menurutnya, akan menjadi kekuatan besar apabila dikonsolidasikan melalui Forum Nasional Ikatan Alumni PTKIN.
Ia menegaskan bahwa forum tersebut tidak semestinya hanya berfungsi sebagai wadah silaturahmi antaralumni. Lebih jauh, forum diharapkan berkembang menjadi pusat konsolidasi pemikiran kebangsaan, laboratorium gagasan, sekaligus mitra strategis pemerintah dalam merumuskan berbagai solusi atas persoalan sosial, keagamaan, dan pembangunan nasional.
Dalam tulisannya, Prof. Idrus juga mengingatkan bahwa sejarah penyebaran Islam di Nusantara memberikan pelajaran penting mengenai pendekatan dakwah yang damai dan menghargai budaya lokal. Islam berkembang melalui dialog, keteladanan, dan pendekatan sosial yang santun, bukan melalui penaklukan budaya. Dari proses tersebut lahir karakter Islam Indonesia yang moderat, inklusif, dan mampu hidup berdampingan dengan berbagai tradisi masyarakat.
Menurutnya, akulturasi antara nilai-nilai Islam dan budaya Nusantara merupakan kekayaan peradaban yang harus terus dijaga. Syariat dipandang sebagai pedoman nilai, sedangkan budaya menjadi ruang ekspresi sosial yang dapat memperkaya kehidupan masyarakat sepanjang tetap berorientasi pada kemaslahatan bersama. Nilai tersebut dinilai sejalan dengan konsep Islam Rahmatan lil ‘Alamin, yakni Islam yang menghadirkan rahmat bagi seluruh umat manusia tanpa membedakan latar belakang.
Di era digital, tantangan penyebaran informasi yang begitu cepat juga menjadi perhatian utama. Prof. Idrus menyoroti maraknya disinformasi, hoaks, ekstremisme, hingga komersialisasi agama yang berkembang melalui berbagai platform media sosial. Fenomena tersebut dinilai menyebabkan sebagian masyarakat memperoleh pemahaman keagamaan secara parsial tanpa proses pembelajaran yang komprehensif.
Karena itu, alumni PTKIN dipandang memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk menghadirkan narasi keagamaan yang moderat, berbasis ilmu pengetahuan, menjunjung etika, serta mengedepankan kemaslahatan masyarakat. Kehadiran para akademisi, peneliti, ulama, dan praktisi lulusan PTKIN di ruang publik diharapkan mampu memperkuat literasi keagamaan sekaligus menangkal berkembangnya paham-paham yang berpotensi memecah persatuan bangsa.
Prof. Idrus juga menegaskan bahwa landasan konstitusional Indonesia telah memberikan ruang yang kokoh bagi kehidupan beragama. Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyebut kemerdekaan bangsa Indonesia terjadi “Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa”, sementara konstitusi juga menjamin kebebasan setiap warga negara untuk memeluk agama dan menjalankan ibadah sesuai keyakinannya.
Atas dasar itu, ia berpandangan bahwa paradigma Islam Rahmatan lil ‘Alamin harus dipahami sebagai bagian dari paradigma kebangsaan yang menempatkan nilai keadilan sosial, penghormatan terhadap martabat manusia, perlindungan terhadap kelompok rentan, kepedulian terhadap lingkungan, dan penguatan persatuan nasional sebagai bagian dari implementasi ajaran Islam.
Sebagai bentuk aktualisasi gagasan tersebut, Forum Nasional Ikatan Alumni PTKIN dinilai memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan berbagai program strategis. Di antaranya adalah penguatan moderasi beragama, literasi digital keagamaan, pemberdayaan ekonomi umat, pengembangan pendidikan karakter, peningkatan kualitas riset sosial-keagamaan, pendampingan masyarakat adat, hingga pembangunan sumber daya manusia yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing.
Perhatian khusus juga diberikan terhadap pembangunan di kawasan timur Indonesia, seperti Papua, Maluku, Nusa Tenggara, serta berbagai wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Menurut Prof. Idrus, pembangunan di daerah-daerah tersebut tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga memerlukan pendekatan yang menghargai budaya lokal, memperkuat dialog antarumat beragama, serta menghadirkan rasa keadilan bagi seluruh masyarakat.
Dalam konteks tersebut, alumni PTKIN dipandang dapat berperan sebagai jembatan antara kebijakan negara dengan aspirasi masyarakat melalui pendekatan akademik, kultural, dan humanis. Peran tersebut diharapkan mampu memperkuat kohesi sosial sekaligus mendukung terciptanya pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Ke depan, Prof. Idrus berharap Forum Nasional Ikatan Alumni PTKIN mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis penelitian ilmiah, memperluas jejaring keilmuan nasional, memperkuat kolaborasi lintas profesi, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Ia menekankan bahwa keberhasilan forum tersebut tidak seharusnya diukur dari banyaknya kegiatan seremonial, melainkan dari sejauh mana mampu memberikan solusi terhadap persoalan kebangsaan, memperkuat persatuan nasional, serta menjaga Indonesia tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh warga negara.
Menutup refleksinya, Prof. Idrus Al-Hamid menegaskan bahwa Islam Rahmatan lil ‘Alamin bukan sekadar slogan, melainkan komitmen intelektual, moral, dan kebangsaan yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Menurutnya, alumni PTKIN memiliki tanggung jawab historis untuk menjadi pelopor perubahan, penjaga harmoni, sekaligus penggerak lahirnya peradaban Indonesia yang adil, damai, inklusif, dan bermartabat.
Sebagai penutup, ia mengutip sebuah pesan kebangsaan yang menekankan pentingnya pengabdian kepada tanah air, yakni, “Jangan bertanya apa yang bangsa berikan kepadamu, tetapi bertanyalah apa yang telah engkau persembahkan bagi kejayaan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Pesan tersebut disampaikan sebagai ajakan bagi seluruh elemen bangsa untuk terus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui kontribusi nyata sesuai bidang pengabdian masing-masing.
Editor: Fahmy Nurdin




































