JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong penguatan kemitraan ekonomi strategis Indonesia dengan China melalui peningkatan perdagangan yang lebih seimbang, investasi berkualitas, hingga kerja sama di sektor energi terbarukan dan ekonomi digital.
Komitmen tersebut disampaikan Airlangga saat menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao di Shanghai, Jumat (17/7), dalam rangka memperkuat hubungan ekonomi kedua negara.
Airlangga mengatakan Indonesia dan China memiliki struktur ekonomi yang saling melengkapi sehingga kerja sama ke depan perlu diarahkan pada peningkatan kualitas investasi, transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan kapasitas industri nasional.
“Indonesia dan China memiliki struktur ekonomi yang saling melengkapi. Kerja sama ke depan perlu diarahkan pada peningkatan nilai perdagangan yang lebih seimbang, investasi yang berkualitas, transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan penguatan kapasitas industri nasional,” ujar Airlangga.
China masih menjadi mitra dagang terbesar Indonesia. Pada 2025, nilai perdagangan kedua negara mencapai US$154,6 miliar dengan tren pertumbuhan rata-rata 7,24 persen sepanjang periode 2021-2025.
Di sektor investasi, China juga menjadi salah satu dari tiga investor asing terbesar di Indonesia. Realisasi investasi negara tersebut pada 2025 mencapai hampir US$8,1 miliar atau sekitar 13 persen dari total investasi asing, terutama di sektor industri pengolahan, perdagangan, energi, properti, serta transportasi dan pergudangan.
Dalam pertemuan itu, Airlangga juga menyoroti implementasi kerja sama Two Countries Twin Parks (TCTP). Hingga saat ini, Indonesia dan China telah menandatangani 30 nota kesepahaman dengan estimasi nilai investasi mencapai Rp37,1 triliun.
Pemerintah Indonesia meminta agar berbagai kesepakatan tersebut segera diwujudkan menjadi proyek investasi konkret, termasuk melalui pembentukan perusahaan patungan (joint venture) antara pelaku usaha kedua negara.
Selain itu, Indonesia mengusulkan perluasan kawasan yang dapat masuk dalam skema TCTP guna memperluas peluang investasi dan memperkuat konektivitas kawasan industri.
Pada sektor perdagangan, pemerintah mendorong peningkatan akses pasar bagi produk Indonesia, penguatan hilirisasi industri, serta investasi yang berorientasi ekspor agar neraca perdagangan kedua negara semakin seimbang.
Airlangga juga menawarkan peluang investasi di sektor energi terbarukan, khususnya pengembangan pembangkit listrik tenaga surya yang ditargetkan mencapai kapasitas 100 gigawatt. Pemerintah mengapresiasi keterlibatan China dalam pembangunan PLTS Terapung Cirata dan berharap kerja sama serupa dapat diperluas untuk memperkuat rantai pasok industri panel surya di Indonesia.
Di tingkat regional, Indonesia meminta dukungan China terhadap pembentukan Sekretariat Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) di Indonesia.
Menurut Airlangga, keberadaan sekretariat permanen akan memperkuat implementasi perjanjian sekaligus meningkatkan pemanfaatan RCEP oleh dunia usaha.
Indonesia juga menyatakan dukungan terhadap keketuaan China pada APEC 2026. Pemerintah berharap forum tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama ekonomi sekaligus menyiapkan sejumlah proyek prioritas yang dapat diumumkan dalam pertemuan para pemimpin kedua negara.
Airlangga menegaskan pemerintah berkomitmen menjaga kepastian kebijakan dan menciptakan iklim investasi yang kondusif agar kerja sama ekonomi Indonesia dan China terus berkembang secara berkelanjutan.




































